Blits Hingga Tucuxi, Jalan Terjal Mobil Listrik di Indonesia

Infografik Mobil Listrik Blits
Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat PLN Haryanto WS (kedua kanan) melepas roadshow PLN BLITS Explore Indonesia di Jakarta, Jumat (9/11/2018). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 15 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mobil Listrik Blits dipersiapkan untuk ikut kejuaraan reli Dakar 2020. Bagaimana kansnya?
tirto.id - Tampang Tucuxi, mobil merah menyala itu terlihat tak karuan. Bagian hidung mobil listrik sport ini nampak rusak parah setelah Dahlan Iskan, sang pengemudi menabrakkan Tucuxi ke tebing di salah satu ruas jalan di Dusun Ngerong, Desa Dadi, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, awal Januari 2013 silam.

Tucuxi mengalami kerusakan pada sistem pengereman sehingga tak bisa dikendalikan saat proses uji coba lintas kota. Insiden ini bisa dibilang bagian kelam dari upaya pengembangan mobil listrik di Indonesia. Setelahnya, upaya mengembangkan mobil listrik belum berakhir.

Belum lama ini tim gabungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Universitas Budi Luhur Jakarta berniat mengikutsertakan mobil listrik di ajang reli Dakar 2020. Mobil bernama Blits tengah disiapkan untuk ambil bagian di salah satu ajang reli yang masyhur itu.

Tim insinyur dari ITS dan Budi Luhur yakin mobil bertenaga listrik buatan mereka sanggup berpartisipasi di reli Dakar 2020, meski pengembangannya belum rampung. Blits akan dibawa berkeliling Indonesia dalam program uji coba bertajuk “PLN Blits Expolore Indonesia” mulai Rabu 14 November 2018. Aksi ini untuk menguji kekuatan Blits sebelum unjuk gigi di Reli Dakar.

Blits akan melintasi sejumlah daerah di Indonesia, dari Jakarta-Medan-Aceh-Sabang-Pontianak-Sampit-Balikpapan-Samarinda-Makassar-Kendari-Manado-Ternate-Sorong-Manokwari-Jayapura-Merauke-Kupang-Labuan Bajo-Bima-Mataram-Bali-Banyuwangi, dan Surabaya. Kurang lebih jarak yang akan ditempuh 15.000 kilometer. Blits mendapatkan sokongan dari PLN, Pertamina, Kemenristekdikti, dan Goodyear.


Dosen ITS Nur Yulianto yang menjadi pembimbing dalam pengembangan mobil Blits mengakui masih banyak yang harus diperbaiki dari mobilnya. Mesin jebol dan kerusakan transmisi mewarnai proses uji coba Blits.

"Ini tertunda cukup lama dan bolak-balik, karena riset jalannya memang seperti itu. Saat pertama kali dicoba mobil tak masalah, kedua kali dicoba, mobil jebol," kata Nur dikutip Antara.

Ketika dibawa dari Surabaya menuju Universitas Budi Luhur Jakarta, Blits kembali menemui kendala. Girboks mobil jebol dan akhirnya untuk sementara diganti dengan transmisi otomatis milik Toyota Alphard.

Sumber energi Blits berasal dari baterai kapasitas 90 KwH. Dalam keadaan terisi penuh, baterai bisa membawa mobil menempuh jarak sekira 300 kilometer. Waktu pengisian baterai sekitar delapan jam atau bisa lebih, tergantung kekuatan daya listrik.

Konstruksi mobil menggunakan sasis tubular ditunjang kaki-kaki yang mampu menunjang kemampuan manuver di jalan aspal dan non-aspal. Sumber tenaga berasal dari sepasang motor listrik, masing-masing berkekuatan 50 Kw. Jika dikonversi, kekuatan tenaganya menyentuh 134 tenaga kuda.


Dijelaskan Nur, komponen sasis dan bodi Blits nyaris seluruhnya buatan dalam negeri. Sementara itu, perangkat baterai dan motor listrik masih impor dari Cina. "Yang harus kita impor adalah baterai, tapi bukan baterai pack yang sudah kami kerjakan sendiri. Sistem manajemen baterai sudah kami kerjakan sendiri," tegas Nur.



Mobil listrik di Reli Dakar


Rencana ITS dan UBL membawa mobil buatannya ke reli Dakar merupakan sebuah gebrakan besar. Sejauh ini hanya ada satu partisipan reli Dakar yang sudah menggunakan mobil tanpa bahan bakar fosil, yakni tim Acciona.

Acciona berpartisipasi di ajang reli Dakar 2017 lalu. Mobil listrik Acciona 100 persen Eco Powered tercatat sebagai kendaraan pertama sepanjang sejarah penyelenggaraan kompetisi, yang menyelesaikan seluruh etape Dakar mengandalkan sumber tenaga listrik.

Kala itu mobil listrik Acciona 100 persen Eco Powered menaklukkan rute reli Dakar sepanjang 9.000 kilometer dari Argentina melewati Bolivia sampai ke Paraguay. Hasil yang didapatkan Acciona pada kesempatan itu tidak memuaskan, mereka hanya finis di urutan ke-57 kategori mobil.

Berpartisipasi di reli Dakar bukan sesuatu yang mudah dan bisa dicapai dengan instan. Acciona yang merupakan perusahaan konglomerasi di bidang energi terbarukan dengan modal besar sempat tergopoh-gopoh menuju reli Dakar.


Pada 2015, seperti dilaporkan New Atlas, Acciona gagal ikut berkompetisi karena berbagai kendala. Selanjutnya di 2016 Acciona bisa berpartisipasi. Namun, ketika sudah melewati 80 persen perjalanan, mereka harus terhenti karena mobil sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan.

Jika dibandingkan dengan Blits, Acciona punya spesifikasi superior. Sumber energi listrik bersumber dari enam pasang baterai berkapasitas total 150 KwH. Di bagian buntut mobil terpasang panel surya yang berfungsi sebagai penyedia cadangan tenaga berkekuatan 0,1 KwH.

Tenaga geraknya didapatkan dari perangkat motor sinkron dengan kekuatan 340 dk. Penyaluran tenaga diorganisir transmisi sequential gearbox 6-percepatan.

Spesifikasi teknis mobil listrik Acciona sudah nyaris sebanding dengan Peugeot 3004 DKR yang menjadi langganan juara reli Dakar. Peugeot 3004 DKR dipasangi mesin diesel 3.000 cc V6. Dari sana mengalir tenaga gerak senilai 340 dk dipasangkan dengan transmisi sequential gearbox 6-percepatan.

Hasil yang didapatkan Acciona, finis di urutan ke-57 dengan spesifikasi teknis nyaris seimbang dengan mobil juara, mengindikasikan kerasnya pertarungan di reli Dakar. Kondisi tersebut harus dipersiapkan dengan matang oleh tim Blits jika berpartisipasi di ajang tersebut kelak.

"Dakar dikenal sebagai balapan paling berat di dunia," sebut Xavier Gavory, Head of Competitors Amaury Sports Organization--penyelenggara reli Dakar dikutip Los Angeles Times. "Keselamatan adalah prioritas kami, tapi (balapannya) sangat susah," ujar Gavory.

Pembalap Acciona Ariel Jaton mengatakan, mobil listrik akan menjadi unggulan di kejuaraan reli masa depan dengan dukungan inovasi teknologi.

"Saya rasa sekarang adalah permulaan buat mobil listrik di kejuaraan motorsport dan proses transisi akan memakan waktu. Tapi dalam jangka menengah atau panjang, seiring dengan meningkatnya investasi dan perubahan teknologi membuat mobil listrik semakin bagus," kata Jacon seperti dilansir Motoring.

Tantangan lain menuju pentas reli Dakar adalah Finansial. Banyak persyaratan untuk tampil di ajang tersebut, dan memakan biaya tidak sedikit.

Melansir situs resmi Dakar, salah satu persyaratan utama yang harus dipenuhi pereli untuk mengikuti reli Dakar ialah lisensi resmi dari federasi otomobil internasiona (FIA). Buat mendapatkan dokumen tersebut, dibutuhkan biaya 400 euro atau sekitar Rp66,9 juta.

Belum lagi biaya pendaftaran. Untuk berkompetisi di kategori mobil reli Dakar, peserta (satu pengemudi dan satu pereli) harus membayar 28.000 euro (Rp468 juta) ditambah biaya registrasi untuk mobil pembantu di special stage sebesar 30.000 euro (Rp501,5 juta). Selain itu, ada biaya tambahan untuk kendaraan akomodasi (trailer, mobil kemah, truk) dan kru tim yang menyedot dana sekitar 30 ribu euro. Sehingga total biaya yang dikeluarkan sekitar Rp1,5 miliar.

Namun, sebelum melangkah lebih jauh hingga Blits didaftarkan sebagai peserta reli Dakar tahun 2020. Blits terntu harus lolos pengujian jalan keliling Indonesia. Perjalanan masih jauh buat Blits.

Baca juga artikel terkait MOBIL LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra
DarkLight