Advertorial

Bisnis Sosial: Sekarang!

Oleh: Advertorial - 18 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Memulai usaha sosial tak harus dilakukan seorang diri dan dari nol. Ada banyak model bisnis dan sumber pendanaan yang dapat membantu Anda mewujudkan cita-cita memperbaiki keadaan.
tirto.id - “Ketika Anda mencoba melakukan sesuatu yang inovatif dan revolusioner, Anda harus membuka diri pada banyak pertanyaan,” kata Sharad Vivek Sagar. Dia masuk daftar 30 tokoh berpengaruh berusia di bawah 30 tahun versi Forbes (2018) berkat kiprahnya di bidang kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship (SE).

Melihat ketimpangan pendidikan di pelosok-pelosok India, Sagar mendirikan Dexterity Global ketika berumur 16 tahun. Kini setiap tahun usaha sosial itu membantu lebih dari 1,2 juta anak di India dan negara-negara Asia Selatan lainnya untuk mendapatkan akses pendidikan.

Sagar percaya bahwa masalah-masalah sosial dapat ditangani tanpa harus menunggu pertolongan pemerintah. Tentu dia tak sendirian. Berangkat dari keinginan sejahtera bersama-sama, sekitar 8,1 juta orang Indonesia terlibat dalam kewirausahaan sosial. Terkesan banyak, tetapi jumlah itu hanya 3,1% dari populasi Indonesia. Namun, yang menarik, banyak penggerak usaha sosial di Indonesia berasal dari generasi muda, sehingga diharapkan angka tersebut dapat terus naik.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah bagaimana memulai sebuah Usaha Sosial di Indonesia. Modal dasarnya tentu empati. Bagaimana Anda melihat masalah yang ada di sekitar dan tergugah untuk mencari solusi adalah motivasi sekaligus langkah pertama yang baik. Langkah berikutnya adalah memetakan ide umum, konsep, dan model bisnis yang hendak dijalankan. Disarikan dari dari e-book Berani Jadi Wirausaha Sosial? terbitan DBS Foundation dan UKM Center FEB UI, kewirausahaan sosial di Indonesia memiliki empat corak utama, yaitu berbasis komunitas, non-profit, hibrid, dan profit untuk benefit.

Infografik Advertorial DBS


Memulai usaha sosial tak harus dilakukan seorang diri dan dari nol. Tak jarang sebuah usaha sosial berawal dari komunitas dengan minat dan kepedulian yang sama atas isu sosial tertentu ataupun lahir dari kebutuhan bersama di lokasi geografis yang sama. Lazim disebut sebagai “Community-based Social Enterprise” (CBSE), contoh SE jenis ini adalah Perkumpulan TELAPAK. Bermula sebagai komunitas pecinta alam, TELAPAK berkembang menjadi SE yang menangani isu pembalakan liar dengan mendirikan unit-unit bisnis, mulai dari percetakan hingga stasiun TV lokal di Kendari yang hasilnya digunakan untuk kampanye dan pengelolaan hutan.

Model bisnis yang kedua adalah “Not-for-Profit Social Enterprise” (NFPSE) yang fokus utamanya adalah pemberdayaan masyarakat. Dibandingkan SE berbasis komunitas, tipe ini cenderung memiliki lingkup yang lebih luas sehingga diperlukan manajemen yang lebih profesional dan sumber dana yang lebih beragam. Contohnya adalah Dompet Dhuafa yang menyalurkan bantuan ke masyarakat penerima zakat tak hanya dari lembaga donor atau individu, tapi juga dari hasil penjualan barang atau jasa yang ditawarkan 6 unit bisnis PT Dompet Dhuafa Corpora. Dalam praktiknya, Dompet Dhuafa mempekerjakan relawan dan karyawan selayaknya perusahaan profesional dengan laporan keuangan tahunan yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Keuntungan yang didapat dari unit bisnisnya pun tetap disalurkan untuk pelaksanaan kegiatan sosial.

Tipe yang ketiga adalah “Hybrid Social Enterprise” (HSE) yang menekankan pada kesinambungan usaha. Bila sumber dana NFPSE untuk pengembangan usaha masih berbasis dana sosial, sumber dana di HSE adalah gabungan dari dana sosial, semikomersial, maupun komersial. Contoh SE tipe ini adalah Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang penerima manfaatnya adalah remaja dan ibu-ibu prasejahtera. Untuk menjalankannya, selain dana dari donatur, YCAB memiliki beberapa unit bisnis dengan pendapatan komersial. Dana non-komersial seperti donasi dan hibah 100% disalurkan untuk program-program sosial, sedangkan keuntungan dari unit bisnis dipakai untuk menjaga kesinambungan hidup sekaligus mengurangi ketergantungan YCAB pada penyandang dana sosial sebagai organisasi independen.

Terakhir adalah “Profit-for-Benefit Social Enterprise” (PFBSE) yang orientasinya adalah menjalankan dan mengembangkan Usaha Sosial secara independen tanpa ketergantungan pada donasi. Sumber dananya berupa keuntungan usaha walau tak lupa mengemban misi sosial. Contoh tipe ini adalah PT Kampung Kearifan Indonesia (KKI) yang mengusung merek dagang Javara yang bergerak di bidang pangan organik. Bekerjasama dengan petani lokal sebagai penerima manfaat dan target sosial, produk Javara dijual di berbagai supermarket dan hotel menengah ke atas di Indonesia hingga Jepang, Belgia, dan Amerika Serikat. Berbeda dari tiga tipe sebelumnya, model bisnis ini umumnya tidak mempekerjakan relawan dan benar-benar dijalankan dengan struktur bisnis profesional.

Penjabaran keempat tipe SE di atas bukan untuk melihat mana yang lebih baik, karena bentuk yang ideal tergantung pada misi yang ingin Anda wujudkan. Sama seperti definisi SE sendiri yang cenderung luwes, pada perkembangannya pun sebuah SE tidak harus statis dan terpaku pada satu tipe saja. Kuncinya adalah jeli melihat peluang dan inovasi dalam mengejar misi sosial yang ditekuni. Penentuan tipe SE di awal adalah upaya untuk menghindari risiko salah langkah yang bisa memakan waktu, uang, dan tenaga.

Pertanyaan selanjutnya adalah dari mana dana untuk menjalankan sebuah SE. Ada tiga alternatif sumber yang mencakup dana nonkomersial, semikomersial, dan komersial. Dana komersial meliputi profit bisnis, hasil investasi, dan pinjaman bank. Dana semikomersial termasuk dana dari investasi, pinjaman lunak, dan tabungan anggota. Dana nonkomersial meliputi donasi, Corporate Social Responsibility (CSR), crowdfunding (penggalangan dana), hingga hibah atau hadiah lomba seperti yang diberikan oleh DBS Foundation lewat Social Enterprise Grant Programme kepada sejumlah wirausaha sosial di kawasan Asia, termasuk penggiat SE asal Indonesia.

DBS Foundation yang berdiri di tahun 2014 merupakan satu-satunya yayasan perusahaan di Asia yang berdedikasi untuk memperjuangkan kewirausahaan sosial dan mempromosikan kultur SE melalui berbagai program, mulai dari kompetisi usaha sosial, forum pembelajaran, inkubasi, dukungan pendanaan, serta pendampingan. Di Indonesia, DBS Foundation mengusung slogan “Indonesia For Good” yang tujuannya adalah membangun masyarakat yang lebih inklusif sehingga mereka yang berada di tepi tetap dapat menikmati kehidupan yang produktif dan bermanfaat sekaligus mengajak generasi muda untuk tergerak berkecimpung sebagai penggiat kewirausahaan sosial untuk Indonesia yang lebih baik.
DarkLight