Periksa Fakta

Benarkah Minum Kopi Sebelum Naik Pesawat Berbahaya?

Oleh: Frendy Kurniawan - 13 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mari periksa anjuran yang bilang bahwa Anda tak disarankan minum kopi sebelum menjalani penerbangan.
tirto.id - “Jangan minum kopi sebelum penerbangan”. Itulah tips yang muncul dari artikel blog perjalanan. Informasi senada ditulis oleh portal kesehatan dan gaya hidup. Intinya, artikel-artikel itu bilang bahwa ada bahaya di balik kebiasaan minum kopi sebelum penerbangan. Penumpang pesawat akan mudah mengalami dehidrasi, bahkan bisa timbul rasa mual hingga sakit kepala.

“Meminum secangkir kopi sebelum perjalanan udara dapat menyebabkan dehidrasi pada tubuh. Dehidrasi inilah yang kemudian memicu rasa mual dan sakit kepala saat Anda berada di pesawat,” tulis salah satu dari blog itu.

Ada juga yang berbunyi seperti ini: “Namun demikian, kafein akan menghambat proses tubuh beristirahat. Dengan kata lain, membuat susah tidur. Tentunya tidak ada yang ingin merasa sangat lelah karena kurang istirahat selama perjalanan jauh, hanya gara-gara secangkir kopi,” tulis blog lainnya.

Lantas, benarkah tips atau mitos ini?

Tidak Ada Larangan


Dolly R.D Kaunang, Sp.JP, Sp. KP, dokter spesialis penerbangan, menyatakan bahwa tidak ada larangan meminum kopi sebelum penerbangan. Namun, menurutnya, orang-orang pada umumnya perlu cermat untuk tahu kapan waktunya meminum kopi dan tidak.

“Itu kan masuk kelompok social drink, bukan dilarang sih. Tidak berbahaya tetapi ya harus pas timing-nya [waktunya], saatnya minum. Itu juga penting,” kata Dolly kepada Tirto (11/6/2018).

Dokter yang jadi bagian dari Kolegium Kedokteran Penerbangan Indonesia itu membenarkan bahwa kopi punya efek tertentu. Secara khusus, akan lebih terasa bagi mereka yang bukan peminum kopi rutin.

Soal Efek Diuretik Kafein Kopi


Kopi mengandung kafein. Sementara itu, kafein sendiri diketahui mendorong efek diuretik ringan. Efek diuretik adalah sesuatu yang mendorong produksi dan ekskresi urine ataupun cairan lain dari tubuh. Minum beberapa cangkir kopi dapat saja mendorong meningkatnya produksi urine. Atau, secara sederhana, orang akan lebih mudah buang air kecil.

Adam D. Seal, dkk dalam jurnal Frontiers in Nutrition (Agustus 2017) membuat tes efek diuretik dari kafein kopi. Hasilnya menunjukkan bahwa “asupan kafein sebesar 6 mg kg -1 dalam bentuk kopi dapat menginduksi efek diuretik akut, sementara 3 mg kg -1 tidak mengganggu keseimbangan cairan orang dewasa yang sehat minum kopi saat istirahat”.

Artinya, memang benar ada ambang batas tertentu kafein dan efek diuretiknya. Hasil studi Seal, dkk (2017) itu memiliki catatan. Tes tersebut dilakukan kepada 10 orang dewasa yang sehat (delapan laki-laki dan dua perempuan; usia: 27 ± 5 tahun, berat badan: 89,5 ± 14,8 kg, tinggi: 1,75 ± 0,08 m, dan indeks massa tubuh: 29,1 ± 4,4 kg/m2).

Masing-masing peserta tes meminum 200 mL air (W), kopi dengan kafein rendah (3 mg/kg, LCAF), atau kopi dengan kafein tinggi (6 mg/kg, HCAF) pada tiga kesempatan terpisah. Pengumpulan data dilakukan setiap 60 menit selama 3 jam setelah konsumsi kopi selama tes berlangsung.

Catatan lain, hasil di atas perlu ditempatkan dalam kondisi wajar/normal—minum kopi dengan konteks waktu tertentu, yakni drinking time. Bukan dengan kondisi langsung penumpang pesawat ataupun situasi perjalanan. Jumlah kafein dalam cangkir kopi pun berbeda-beda. Menurut standar BPOM misalnya, dalam minuman kopi dapat terkandung 50-200 mg kafein per cangkirnya.

Bedakan Durasi Perjalanan Penerbangan


Dokter Dolly juga memberi catatan soal durasi perjalanan penerbangan. Baginya, untuk jarak perjalanan yang berdurasi pendek—misalkan 1-2 jam, minum kopi mungkin tidak terlalu berpengaruh. “Boleh-boleh aja, apalagi jumlah jam penerbangan dekat sih. Indonesia cuma satu dua jam, atau satu jam sudah sampai, sudah turun. Jadi, enggak terlalu berpengaruh,” ucapnya.

Sebaliknya, jika seorang penumpang sedang merencanakan perjalanan dengan durasi panjang, penting untuk mengatur urusan minum kopi. Bukan saja untuk persoalan minum kopinya saja, tapi juga terkait durasi kebutuhan waktu istirahat atau hal-hal lainnya.

“Kalau penerbangan jauh, usahakan jangan dari awal-awal atau sebelumnya ngopi dulu. Enggak pas juga. Efek diuretik, rasa kencing-kencing, efek [ke jantung] menjadi tambah berdebar,” lanjut Dolly.


Perubahan Fisiologi Selama Penerbangan


Muhammad Hammad, dkk (2017) dalam Clinical Cardiology (September 2017) menyebut bahwa selama perjalanan udara, beberapa hal dapat berpengaruh atas kesehatan kardiovaskular (jantung) penumpang. Termasuk soal penurunan tekanan atmosfer, penurunan kelembapan, ekspansi gas, imobilitas berkepanjangan, dan peningkatan stres fisik dan emosional. Artinya, kopi bukanlah satu-satunya faktor pemberi efek tertentu atas kesehatan penumpang selama perjalanan penerbangan.

Pada ketinggian terbang tertentu, pesawat bisa ada dalam kelembapan yang sangat rendah (<1%), meski penurunan kelembapan udara kabin bisa saja terkait dengan peningkatan kehilangan air yang tidak dapat dirasakan. Artikel itu juga mencatat “kelembaban relatif di lingkungan kabin biasanya berkisar antara 5% hingga 25%, dengan sumber kelembaban lain termasuk pernapasan manusia, persiapan makanan, konsumsi minuman, dan penggunaan air di udara lainnya."

Dengan kata lain, sekalipun tidak ditemukan sesuatu yang sifatnya massal berbahaya, meminum kopi sebelum penerbangan patut dipertimbangkan. Artinya, anjuran menghindari minuman pemicu dehidrasi seperti kopi perlu dipertimbangkan, terutama pada penumpang dengan kasus kesehatan kardiovaskular (jantung).

Petugas Udara pun Sama


Dokter yang tergabung dalam PERDOSPI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan Indonesia) itu juga menjelaskan, bahwa petugas udara pun (pilot, awak kabin) perlu melakukan hal yang sama. Kopi memang tidak berbahaya, tidak ada regulasi tertulis melarang meminumnya sebelum terbang. Namun, para petugas udara menyadari bahwa mereka berada di udara karena dan sedang bekerja. Kesadaran untuk menjaga diri dari gangguan yang mungkin muncul harus sungguh-sungguh dilakukan.

Para petugas udara itu juga menempatkan diri, kapan sebaiknya mengkonsumsi ini dan itu, atau kapan sebaiknya menghindarinya.

“Setahu saya, belum ada [dalam] aturan, dalam arti regulasi. Seorang petugas udara tahu juga kan, jadi bisa masuk di airman ship, etika. Ya karena dia [petugas udara] juga harus ada etika juga, jangan memberi peluang untuk dia [petugas udara] sendiri mengalami gangguan misalnya. Dia [petugas udara] lagi bekerja, ya ada timing-nya [bekerja], ada saatnya dia istirahat,” ujarnya.

Kesimpulan


Artinya, minum kopi sebelum penerbangan bukanlah sesuatu yang terlarang. Namun, jika Anda punya kondisi tertentu, semisal gangguan jantung atau persoalan pencernaan dengan kepekaan terhadap kafein, Anda bisa mempertimbangkan untuk tidak mengonsumsinya.

Oleh karena itu, imbauan “jangan minum kopi sebelum penerbangan” muncul dengan konteks, situasi, dan penjelasan tertentu. Tidak ada larangan khusus dan bahaya tertentu secara otomatis yang muncul setelah Anda meminum kopi sebelum naik pesawat terbang.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa kopi memang memiliki efek diuretik yang bisa membikin penumpang lebih sering ke toilet. Kopi, sebagai minuman berkafein, juga punya potensi membuat seseorang lebih terjaga (tidak bisa istirahat). Jika Anda tak punya masalah dengan itu semua, minum kopi sebelum terbang bukanlah persoalan.

======

Tirto mendapatkan akses pada aplikasi CrowdTangle yang memungkinkan mengetahui sebaran sebuah unggahan (konten) di Facebook, termasuk memprediksi potensi viral unggahan tersebut. Akses tersebut merupakan bagian dari realisasi penunjukan Tirto sebagai pihak ketiga dalam proyek periksa fakta.

News Partnership Lead Facebook Indonesia, Alice Budisatrijo, mengatakan, alasan pihaknya menggandeng Tirto dalam program third party fact checking karena Tirto merupakan satu-satunya media di Indonesia yang telah terakreditasi oleh International Fact Cheking Network sebagai pemeriksa fakta.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani