Bagaimana Lou Ottens Sang Penemu Kaset Mengubah Wajah Dunia Islam?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 21 Maret 2021
Dibaca Normal 4 menit
Lou Ottens menemukan kaset. Tak lama kemudian dunia Islam bergejolak.
tirto.id - Lou Ottens, teknisi asal Belanda penemu kaset, meninggal dunia pada Sabtu (6/3) lalu. Ottens meninggal di usia 94 tahun, di kediamannya di Duzel, Belanda. Lahir pada 21 Juni 1926, Ottens remaja menunjukkan kecintaannya pada dunia teknologi, misalnya, dengan membuat receiver (penerima sinyal) radio dari Radio Oranje, stasiun radio pro-demokrasi yang dibatasi ruang geraknya oleh Nazi saat Jerman mengokupasi Belanda. Ottens menyebut receiver ciptaannya itu sebagai "Germanenfilter" karena dapat lolos dari signal jammers (alat pengacakan sinyal) milik Nazi.

Usai meraih gelar sarjana di bidang teknik, Ottens bekerja untuk Philips sejak 1952. Delapan tahun berselang, ia dipromosikan menjadi kepala departemen pengembangan produk. Saat mengepalai divisi riset Philips ini, Ottens melahirkan EL 3585, alat perekam portabel yang sukses besar di pasaran. Menurut Daniel Boffey untuk The Guardian, EL 3585 terjual lebih dari satu juta unit.

Melalui tangan gesitnya, Ottens juga turut serta dalam pengembangan compact disk (CD). Namun, karya yang menjadikan Ottens didaulat sebagai legenda adalah kaset (cassette), modifikasi/penyempurnaan dari reel-to-reel audio tape (kumparan pita magnetik perekam audio) yang, menurut Ottens sendiri, membuatnya "kesal."

Bagi Ottens, pita magnetik perekam suara seharusnya berukuran kecil dan muat di kantong celana. Pada 1963, tatkala ia memperkenalkan kaset ke dunia, Ottens menyebut ciptaannya tersebut "jauh lebih kecil dibandingkan bungkus rokok".

Melalui kongsi Philips-Sony, kaset pun merevolusi dunia dan menjadi medium paling populer bagi musisi di berbagai belahan dunia untuk memperdengarkan karya-karya mereka ke masyarakat. Kaset juga kian menggurita sejak Sony memperkenalkan Walkman--alat pemutar kaset yang membuat Ottens sakit hati karena alat ini dibuat oleh Sony, bukan Philips. Jika EL 3585 terjual lebih dari satu juta unit, konon kaset terjual lebih dari 100 miliar unit.

Yang menarik (dan tak dikira Ottens), meskipun kaset dianggap merevolusi dunia musik, benda ini pun susungguhnya punya peran besar dalam kesuksesan Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi di Iran, sebuah revolusi yang tercatat mengubah dunia Islam.

Kaset Sebagai Alat Dakwah

"Ayatollah Khomeini yang berusia 75 tahun itu terusir dari Iran selama 14 tahun gara-gara kritiknya pada Shah Reza Pahlavi," tutur Ethan Zuckerman dalam bukunya berjudul Rewire: Digital Cosmopolitans in the Age of Connection (2013). "Namun, tatkala terusir itu, pemerintah Iran tak dapat membungkam mulutnya, membungkam ceramah-ceramah anti-Shah yang ia gaungkan."

Dalam pengasingannya di Irak sejak 1977, hampir setiap hari pada pukul 10 malam, Khomeini menyampaikan ceramah anti-Shah kepada warga Iran yang berkunjung ke Irak--dalam rangka kunjungan suci umat Syiah ke makam Imam Ali. Sebelum orang-orang Iran ini pulang ke negaranya, Khomeini memberikan mereka oleh-oleh: kaset rekaman ceramahnya.

Farid M.S Al-Salim, dalam studinya berjudul "Tracing the Role of Technology in Iranian Politics: From the Islamic Revolution of 1979 to the Presidential Election of 2009" (terbit dalam jurnal IOSR-JHSS vol. 21 2016) menyebut konten-konten dalam "kaset Khomeini" umumnya berisi "kebutuhan" warga Iran. Khomeini selalu menegaskan bahwa kesulitan hidup yang dialami rakyat Iran disebabkan oleh kesalahan pemerintahan Shah Pahlevi. Tatkala bioskop Rex Cinema di berada di kota Abanda terbakar dan menewaskan ratusan orang, misalnya, Khomeini--dalam kaset ceramahnya yang direkam pada 21 Agustus 1978--menyatakan musibah itu terjadi karena "tindakan tidak manusiawi Shah yang menjauhi syariat Islam."

Selain berisi "kebutuhan", kaset Khomeini juga berisi propaganda ketakutan dan teori konspirasi bahwa Shah mendukung "Yahudi dan orang-orang penyembah sembarang Tuhan yang berusaha untuk menghina dan menaklukkan Iran". Banyak yang menganggapnya serius, tapi juga ada yang menilainya sekadar lelucon. Amir Taheri, editor koran Kahyan yang pro-Shah, merasa isi rekaman tersebut lebih mirip "guyonan" Khomeini alih-alih pembakar semangat massa untuk menggulingkan Shah Pahlevi.

Sialnya, fakta berkata lain. Kaset rekaman itu bukan guyonan dan memang berasal dari mulut Khomeini. SAVAK, polisi rahasia Iran yang terkenal kejam, memprediksi lebih dari 100.000 kaset rekaman Khomeini tersebar di seluruh penjuru Iran pada 1978. Kaset-kaset itu didistribusikan dengan label "Sokhanrani Mahzabi".

Pemerintah Shah Pahlevi sendiri berniat menghancurkan dan membendung penyebaran kaset Sokhanrani Mahzabi. Namun, karena didesak Presiden Jimmy Carter, niat itu tak pernah dilakukan. Shah Pahlevi, melalui anak buahnya, yakni Menteri Infomasi Iran bernama Daryoush Homayoun, akhirnya memilih melawan kaset-kaset rekaman Khomeini melalui media pro-pemerintah. Dalam editorial koran Ettela'at, misalnya, pemerintah menyebut kaset rekaman Khomeini sebagai usaha "Imperialis Hitam dan Merah" menguasai Iran. "Imperialis Hitam" yang dimaksud adalah kaum muslim konservatif, sementara "Imperialis Merah" berarti Uni Soviet. Singkat, Shah Pahlevi berusaha menciptakan opini publik bahwa upaya Khomeini mendiskreditkan dirinya merupakan bagian dari usaha komunis menguasai Iran.

Tak disangka, editorial tersebut berbuah petaka. Beberapa hari usai terbit, atau tepat pada 9 Januari 1978, lebih dari empat ribu mahasiswa turun ke jalan memprotes editorial "Imperialis Hitam dan Merah" itu. Nahas, pemerintah Shah gagap menghadapi demonstrasi dan mengakibatkan banyak mahasiswa tewas terbunuh timah panas polisi. Peristiwa ini akhirnya menyulut berbagai demo anti-Shan di seantero Iran. Setahun kemudian situasi benar-benar berbalik: Khomeini berkuasa dan Shah terusir.

Bermula dari kaset rekaman, empat bulan usai berkuasa Khomeini mengubah wajah Iran yang sekuler menjadi Republik Islam.

Tentu, Khomeini tak sendirian memanfaatkan kaset untuk menyebarkan gagasan-gagasannya.

Andrew McGregor, dalam "Jihad and the Rifle Alone: Abdullah Azzam and the Islamist Revolution" (Journal of Conflict Studies, 2003), tokoh di dunia Islam lain yang memanfaatkan kaset untuk menyebarluaskan pemikirannya adalah Dr. Abdullah Azzam, sosok kelahiran Tepi Barat, Palestina pada 1941, yang menggaungkan konsep modern tentang jihad. Azzam, yang mengenyam pendidikan di Damaskus dan Kairo serta lama bermukim di Amerika Serikat ini percaya bahwa Islam harus dapat modern dan berdiri berhadapan dengan "sekularisme Barat" serta "sosialisme Timur".

Infografik Kaset
Infografik Kaset. tirto.id/Quita


Melalui kaset rekaman ceramah-ceramahnya yang direkam di Amerika Serikat, Azzam berusaha merajut solidaritas gerakan Islamis di seluruh dunia lewat gagasan "jihad universal" yang tak terbatas pada area sempit di mana kelompok-kelompok jihad beroperasi. Tak hanya itu, Azzam tak hanya memproduksi kaset, tapi juga terlibat langsung di garis depan dalam perang Soviet-Afghanistan (1979-1989).

Kaset populer sebagai medium penyebaran gagasan sebab mudah digunakan. Merujuk studi yang ditulis Charles Hirschkind berjudul "The Ethics of Listening: Cassette-Sermon Audition in Contemporary Egypt" (jurnal American Ethnologist, 2001), kemudahan ini tak hanya terlihat pada cara-cara sederhana Khomeini atau Azzam menyebarluaskan ceramahnya, tetapi juga fakta bahwa kaset sangat mudah diakses audiens yang dituju. Lebih dari itu, penggunaan kaset di kalangan gerakan Islamis Timur Tengah saat itu dianggap sebagai bentuk "kebangkitan Islam" yang menepis mitos bahwa kaum muslim gagap teknologi.

Di Mesir, penggunaan kaset untuk menyebarluaskan ceramah-ceramah keagagamaan (terbebas dari agitasi anti-pemerintah Khomeini atau doktrin jidah ala Azzam) lazim ditemui di tengah masyarakat pada dekade 1980-an dan 1990-an. Kala itu, masyarakat Mesir mendengarkan kaset-kaset keagamaan untuk "mendisiplinkan diri", agar mereka tetap memperoleh pengetahuan tentang Islam "tatkala berkendara, naik bus atau taksi, hingga sedang bersenda gurau bersama keluarga". Kaset keagamaan dipandang sebagai cara terbaik bagi masyarakat Mesir untuk tetap saleh di tengah kesibukan duniawi.

Yang menarik, bagi masyarakat Mesir, kaset dakwah juga sempat dianggap tren dan simbol kesalehan.

Ingat, kaset merupakan alat semata. Tatkala zaman menghadirkan teknologi yang lebih baru, konten dakwah pun masuk ke medium baru. Greg Fealy dalam Ustadz Seleb, Bisnis Moral, dan Fatwa Online: Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer (2012) mengemukakan bahwa pada pertengahan 2000-an, SMS populer digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan dakwah. Fealy mencatat perubahan medium ini lebih disetir oleh bisnis. Dakwah melalui SMS, catat Fealy, merupakan salah satu cara inovatif yang para pengusaha muslim, yang selain menyebarkan konten agama, juga menyasar pundi-pundi besar.

Menurut Fealy, ada 500.000 pelanggan layanan SMS dakwah premium pada 2006, tahun puncak keemasan dakwah via SMS . Ustaz Jeffry Al Buchory alias Uje, Ustaz Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, dan Ustaz Yusuf Mansur, merupakan contoh dai-dai yang sukses memanfaatkan metode dakwah ini. Seperti halnya kepopuleran kaset dakwah di Mesir, SMS populer karena perilaku masyarakat perkotaan yang kian sibuk. SMS keagamaan pun dipilih sebagai jalan menjaga kesalehan.

Tatkala zaman menghadirkan Youtube, Facebook, dan Twitter, konten-konten keagamaan pun 'bedol desa' ke sana.

Baca juga artikel terkait KASET atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight