Alasan Cina Larang Penambangan Bitcoin

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 10 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
Cina telah melakukan beragam upaya untuk menghambat perkembangan industri cryptocurrency bitcoin sejak 2017.
tirto.id - Cina melarang penambangan bitcoin sebagai respons atas kekhawatirannya terhadap proses pembuatan mata uang digital (cryptocurrency) tersebut.

The National and Reform Commission (NDRC), yang bertindak sebagai agen perencanaan ekonomi mengumumkan bahwa pemerintah telah memutakhirkan daftar 450 industri yang terlibat dalam penambangan bitcoin, Selasa (9/4/2019).

NDRC berharap bahwa aktivitas tersebut dihentikan bahkan dihilangkan, seperti dilansir Independent.

Meski begitu, jadwal "penghapusan" penambangan bitcoin tersebut belum dirilis secara resmi. Namun, konsultasi publik dapat dilakukan mulai 7 Mei mendatang.

Jika hukum ini benar-benar diterapkan, maka hal tersebut akan berdampak bagi eksistensi bitcion sendiri lantaran Cina memiliki jumlah operasi penambangan bitcoin terbanyak di dunia.

Harga bahan energi--mayoritas energi berbahan bakar batu bara--murah di Cina membuat penambangan bitcoin di negara ini lebih menguntungkan. Proses produksi unit baru bitcoin, yang membutuhkan banyak pasokan energi, akan lebih mudah dan terjagkau.

Penambangan bitcoin dilakukan dengan menyelesaikan teka-teki komputasi rumit. Penambangan bitcoin, menurut NDRC, memakan banyak asupan listrik di Cina. Pelarangan penambangan bitcoin ini akan berdampak pada harga bitcoin di pasaran.

“Jika pelarangan benar-benar terjadi, nampaknya hal tersebut akan menaikan harga bitcoin setelah itu turun lagi,” kata Mati Cgreenspan, analis pasar di online trading, eToro, dikutip oleh Independent.

“Kekalahan di harga listrik murah di Cina justru akan meningkatkan biaya penambangan yang berdampak baik pada harga [bitcoin],” tambahnya.

Seorang ahli lain, Matt Hawkins CEO perusahaan software penambangan Cudo Miner menyebutkan bahwa upaya melarang penambangan bitcoin akan berpengaruh pada infrastruktur global bitcoin.

Melansir The Guardian, pekan lalu, harga bitcoin melonjak sebesar 20 persen, yang menjadikannya sebagai harga tertinggi sejak 2017, dan menyentuh harga lima ribu dolar AS untuk pertama kalinya. Kejadian tersebut mengejutkan banyak ahli dan pedagang.

Bitcoin, yang menguasai separuh dari pasar cryptocurrency global menurun lagi sebesar 1,4 persen pada Selasa (9/4/2019), sedangkan mata uang lainnya seperti Ethereum dan Ripple's XRP juga ikut turun dengan persentase yang hampir sama.

Belum ada kepastian mengenai seberapa besar kebijakan Cina ini akan membebani pasar bitcoin. Sejak 2017, Cina mengawasi pasar cryptocurrency dengan ketat dan mulai melarang penawaran koin-koin digital serta menutup lapak pertukaran cryptocurrency lokal.

Cina juga telah memulai membatasi beberapa perusahaan yang melakukan penambangan bitcoin di negaranya dan meminta mereka melakukannya di tempat lain.

Hampir separuh penambang bitcoin di seluruh dunia ini berlokasi di Asia Pasifik, berdasarkan laporan Universitas Cambridge pada Desember.

Adapun bitcoin merupakan cryptocurrency pertama yang lahir pada tahun 2009, ditemukan oleh Satoshi Nakamoto. Nama kreatornya merupakan alias dan identitas aslinya tidak pernah diungkapkan.

Melansir Forbes, pada tahun pertama kemunculannya, Bitcoin tersedia di internet untuk ditambang. Hingga 2010, bitcoin tidak pernah diperjual-belikan, hanya ditambang, sehingga bitcoin belum memiliki nilai.

Hingga pada pertengahan 2010, seseorang berinisiatif menjualnya, 10 ribu bitcoin untuk dua pizza. Saat ini, harga 10 ribu bitcoin sudah mencapai 100 juta dolar AS.

Seiring berjalannya waktu, bitcoin memiliki harga jual-beli seperti halnya mata uang nyata. Cryptocurrency baru mulai bermunculan, seperti Namecoin dan Litecoin.

Harga tertinggi bitcoin terjadi pada Desember 2017, harga satu bitcoin bisa setara dengan 11,5 ribu dolar AS.


Baca juga artikel terkait LARANGAN BITCOIN atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Ibnu Azis
DarkLight