tirto.id - Gelombang unjuk rasa massal menentang tingginya biaya hidup kembali melanda berbagai wilayah di Prancis pada Sabtu (31/10/2026).
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 320.000 pengunjuk rasa ambil bagian dalam aksi protes akhir pekan ini, sementara pihak pedemo mengklaim jumlah peserta mendekati angka setengah juta orang.
Meskipun sebagian besar aksi long march berlangsung damai sepanjang sore hari, ketegangan dan gesekan fisik sempat pecah menjelang malam di sejumlah titik perkotaan.
Kericuhan dilaporkan terjadi di ibu kota Paris. Aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata serta mendesak mundur kelompok kecil perusuh di penghujung aksi.
Bentrokan serupa juga pecah di Lyon serta wilayah Toulouse, di samping ketegangan pada aksi tanpa izin di Marseille. Kendati demikian, situasi berangsur kondusif seiring malam yang semakin larut.
"Aparat keamanan tetap pada posisinya dan melindungi pusat-pusat kota. Ketertiban umum berhasil dijaga," ujar Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, kepada para awak media usai aksi unjuk rasa, dikutip dari France 24, Minggu (1/11/2026).
Ia pun menambahkan bahwa pihak kepolisian telah menghadapi "tingkat kekerasan yang cukup tinggi." Ia menyatakan bahwa saat ini aparat tengah bersiaga menghadapi potensi kericuhan yang mungkin terjadi hingga malam nanti, di tengah apa yang disebutnya sebagai seruan provokasi dan hasutan pada malam perayaan Halloween.
"Hari belum usai. Kami siap menghadapi pihak-pihak yang berniat mencari keributan malam ini, dan kami akan meresponsnya secara tegas," imbuh Nuñez.
Tuntutan Unjuk Rasa: Tak Puas Kepemimpinan Macron
Aksi protes jilid ketiga ini digerakkan oleh koalisi mahasiswa, serikat buruh, serta kelompok anti-kemapanan Rompi Kuning (Yellow Vest).
Mereka menyoroti mahalnya harga kebutuhan pokok, lonjakan harga bahan bakar, kenaikan inflasi, serta ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.
Gelombang demonstrasi ini turut memicu aksi solidaritas serupa oleh kalangan pemuda di beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Italia.
Sejumlah tokoh politik turut ambil bagian, termasuk politisi sayap kiri Jean-Luc Mélenchon yang memimpin barisan unjuk rasa di Paris. Rute aksi di ibu kota sendiri sebelumnya telah dialihkan oleh pengadilan menjauhi kawasan pusat perbelanjaan komersial demi menjaga keamanan publik.
Di sisi lain, pemerintah menghadapi tekanan ekonomi yang semakin pelik. Selain tingkat utang publik yang mendekati 120 persen dari PDB, lembaga pemeringkat Fitch baru saja merevisi proyeksi utang Prancis ke level negatif.
Tekanan fiskal ini membatasi ruang gerak pemerintah di tengah pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang tercatat mengalami kontraksi.
Kamar Dagang memperkirakan kerugian sektor ritel akibat tiga pekan aksi kerusuhan telah menembus angka 1 miliar euro atau sekitar 1,1 miliar dolar AS.
Di berbagai sudut kota seperti kawasan boulevard Paris, etalase toko-toko merek mewah ternama tampak mempertebal pengamanan toko dengan menambahkan papan pengaman kayu dan teralis besi.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































