tirto.id - Di antara aksi massa dan bentrokan yang meluas di Prancis selama satu bulan terakhir, slogan “Bismillah, c’est les ténèbres” tampak bertebaran dalam spanduk yang dibentangkan para demonstran. Namun, secara literal, ungkapan itu tak punya makna berarti. Untuk memahami artinya, cara memahaminya perlu menelisik dari konteks kemunculannya.
Sebelumnya, setidaknya selama bulan ini, Prancis telah dilanda gelombang protes berkelanjutan. Jalan raya di berbagai wilayah telah menjadi titik temu bagi para kelompok massa yang menyerukan perubahan dan penolakan mereka terhadap kebijakan pemerintah.
Unjuk rasa itu semula berkembang dari aksi protes para siswa SMA. Mereka menuntut reformasi kualitas pendidikan imbas kelangkaan guru dan tak terpenuhinya kebutuhan atas fasilitas sekolah yang lebih baik.
Dari sana, protes berkembang setelah berbagai kalangan non-pelajar turut serta untuk aksi massa. Mereka memprotes tingginya biaya hidup dan menolak kebijakan pemotongan anggaran yang berdampak pada penghasilan banyak orang.
Pada Sabtu (17/10/2026), unjuk rasa ini mencapai salah satu puncak eskalasi, melibatkan mobilisasi massa dalam jumlah yang besar. Ketika sekitar ratusan ribu orang turun ke jalanan, muncul spanduk dengan kalimat “Bismillah, c’est les ténèbres” di berbagai tempat.
Al Jazeera menyebutnya sebagai slogan tak resmi yang digunakan para demonstran. Oleh para massa aksi, ungkapan ini dijadikan mereka sebagai kalimat untuk menggambarkan respons aparat terhadap aksi protes yang terjadi.
Arti Slogan "Bismillah, c’est les ténèbres" dan Asal Usulnya
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiah, “Bismillah, c’est les ténèbres” memiliki arti yang tampak tak masuk akal. Kalimat itu memiliki sebagai “Bismillah, ini adalah kegelapan” dalam bahasa Indonesia.
Ungkapan itu tampak aneh sebagai sebuah kalimat lantaran berisi ungkapan yang tidak tepat untuk digabungkan. “Bismillah” merupakan ungkapan yang kerap digunakan umat Islam untuk memulai suatu aktivitas, sementara “c’est les ténèbres” merupakan pernyataan untuk menjelaskan situasi. Menggabungkan keduanya justru membuat kalimat itu tak memiliki arti yang jelas.
Akan tetapi, ketidakjelasan makna itulah yang justru membuat ungkapan itu dijadikan slogan para massa aksi. Seturut laporan Al Jazeera, para demonstran menyebut kalimat tersebut semula berasal dari obrolan media sosial.
Seiring krusialnya peran pemuda dalam aksi massa di Prancis selama sebulan terakhir, media sosial turut digunakan sebagai sarana para massa aksi membicarakan aksi protes yang mereka lakukan. Dalam sebuah percakapan Snapchat sekitar awal Oktober, seorang pengguna bernama Mamadou muncul dengan kalimat itu ketika minta dimasukkan dalam sebuah grup.
“Hai, Bismillah, ini adalah kegelapan. Kapan blokadenya, wallah, bro?” tulis pengguna tersebut, disertai emoji bendera Aljazair, sebagaimana tampak dalam tangkapan layar yang beredar luas.
Kalimat itu dinilai para siswa terlalu aneh untuk ditulis maupun diucapkan. Mereka kemudian menduga bahwa kalimat itu ditulis oleh aparat kepolisian yang mencoba untuk menyusup ke dalam obrolan para massa aksi di media sosial. Atas dasar itu, kalimat ini dengan cepat menjadi meme yang populer.
Kendati demikian, klaim bahwa kalimat itu ditulis oleh polisi, sejauh ini belum dikonfirmasi dan pihak berwenang Prancis belum mengeluarkan pernyataan apa pun yang berkaitan. Namun, menurut Youssef el Chazli, profesor madya bidang sosiologi di Universitas Paris 8 Vincennes–Saint-Denis, kemunculannya sebagai meme dan slogan massa aksi menunjukkan cara anak muda Prancis memandang citra institusi kepolisian.
Dalam keterangannya untuk Al Jazeera, el Chazli menyebut kemunculan ungkapan itu telah “memperkuat citra polisi yang tidak peka dan penuh stereotipe”. Dalam konteks aksi protes, ungkapan ini dinilai muncul dari anggapan kaum muda yang menilai aparat berwenang cenderung menggunakan stereotipe yang tak peka saat merespons unjuk rasa.
“Stereotipe semacam itu tampaknya secara tidak proporsional menargetkan kaum muda keturunan Arab dan Afrika. Ini tampaknya [jadi] satu contoh lagi bagaimana lembaga negara seakan tidak peka terhadap gerakan saat ini,” kata el Chazli.
Isu Imigrasi dan Islam Jadi Kambing Hitam atas Aksi Protes di Prancis
Seiring eskalasi protes Prancis yang terjadi pada akhir pekan lalu, sejumlah tokoh sayap kanan di dunia memang gemar mengaitkan aksi protes dengan isu imigrasi. Tak sedikit darinya menuduh Islam sebagai sebab unjuk rasa terjadi.
Menukil France24, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahkan menyebut Prancis telah “ditaklukkan, dijarah, dan dibakar habis oleh migran, jihadis, dan komunis” ketika berpidato dalam rapat umum jelang pemilu sela di AS.
Pemimpin partai sayap kanan Vox Spanyol, Santiago Abascal, juga merujuk Islam ketika mengomentari aksi protes Prancis. Ia memperingatkan akan apa yang ia sebut “Islamo-kiri” dalam sebuah unggahan yang menunjukkan kobaran api di Balai Kota Limoges, Prancis.
Sementara itu, salah satu kandidat presiden baru Prancis dari sayap kanan, Marine Le Pen, juga menggunakan aksi protes berkepanjangan ini dikaitkan dengan isu imigrasi. Ia menyebut bahwa Prancis sedang “membayar akibat imigrasi anarkis selama beberapa dekade” untuk mengomentari aksi protes yang terjadi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































