Menuju konten utama

Macron Ancam Seret Demonstran yang Akan Jatuhkan Prancis

Presiden Macron menyatakan akan memproses demonstran yang hendak menjatuhkan Prancis secara hukum. Mereka disebut bertindak rusuh dan merusak properti.

Macron Ancam Seret Demonstran yang Akan Jatuhkan Prancis
Demo Mahasiswa di Perancis ang memprotes kondisi Pendanaan pendidikan, di Paris, Ile-de-France, Prancis, pada 5 Oktober 2026. Foto/Reuters
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Unjuk rasa di Prancis terus meluas. Dari apa yang semula adalah aksi protes siswa SMA, kini menjadi gelombang unjuk rasa anti-pemerintah yang meluas di seluruh negeri. Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini menyatakan ancaman untuk menuntut pihak “yang berusaha menjatuhkan Republik”.

Menukil CNN, pernyataan itu diungkap Macron dalam pidatonya pada Minggu (18/10/2026). Ia menyebut akan memproses secara hukum para pihak yang telah merusak properti atau berpartisipasi dalam kerusuhan.

“Mereka yang menghancurkan harus membayar. Mereka yang menjarah harus membayar kembali. Mereka yang berusaha menjatuhkan Republik akan dimintai pertanggungjawaban,” kata Macron.

Pernyataan itu dikeluarkan Macron ketika Prancis dilanda aksi protes berujung bentrokan yang meluas pada akhir pekan. Gas air mata ditembakkan polisi di berbagai tempat, sementara sejumlah gedung terbakar dan rusak.

Salah satu gedung yang terbakar itu adalah Balai Kota Limoges yang berusia 143 tahun. Gedung itu terbakar pada Sabtu. Sebuah video yang beredar menunjukkan menara gedung tersebut runtuh.

Di Marseille, para pengunjuk rasa bertopeng menerobos masuk balai kota dan merusak bangunan itu. Sementara itu, di Lyon, pengunjuk rasa membakar kantor pariwisata kota.

Di Paris, sekelompok pemuda menjarah toko-toko dan membakar barang-barang pada Sabtu malam. Kepolisian setempat merespons hal tersebut dengan menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan di jalanan.

CEO raksasa ritel Carrefour, Alexandre Bompard, mengunggah pernyataan di media sosial pada Minggu bahwa sekitar 1.500 toko di seluruh negeri telah terdampak kerusakan.

Bentrokan dan perusakan yang meluas ini terjadi setelah unjuk rasa yang relatif damai pada akhir pekan lalu. Unjuk rasa itu merupakan bagian dari gelombang protes yang dimulai dari para siswa SMA yang menuntut pembenahan kondisi pendidikan.

Pada akhir pekan, banyak unjuk rasa damai dilangsungkan. Banyak dari para demonstran menuntut respons pemerintah atas biaya hidup yang melonjak dan memprotes kelalaian pemerintah.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyebut sekitar 550.000 demonstran ikut berunjuk rasa di seluruh Prancis, termasuk 110.000 orang di Paris, pada Sabtu lalu.

Namun, setelah unjuk rasa mereda pada Sabtu, gelombang unjuk rasa baru bermunculan. Banyak di antaranya melibatkan aksi perusakan dan bentrokan antara polisi dan para demonstran.

Dalam pidatonya pada Minggu, Macron menggambarkan peristiwa itu sebagai bentuk infiltrasi “unsur-unsur penghasut dari faksi sayap kiri, yang bergabung dengan banyak pelaku kejahatan.”

“Kemarin, ratusan ribu warga negara kita berdemonstrasi untuk menyampaikan tuntutan yang sah. Kita tidak boleh pernah menyamakan mereka yang berdemonstrasi dengan mereka yang menghancurkan dan merusak,” katanya.

Laporan CNN menyebut sedikitnya ada dua kematian yang dilaporkan terkait dengan kerusuhan selama protes selama akhir pekan lalu. BFMTV menyebut salah satu di antaranya terjadi di Paris setelah seseorang mengalami “henti jantung dan pernapasan”, sementara kematian kedua dilaporkan Le Parisien terjadi di distrik Châtelet pada Minggu malam.

Hingga kini, lebih dari 2.000 orang telah ditangkap oleh polisi dengan alasan terkait gelombang protes, kata Menteri Laurent Nunez. Sebanyak 600 petugas kepolisian juga disebut terluka.

Baca juga artikel terkait PRANCIS atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar