Mozaik

Perdamaian Semu dan Penembakan Yitzhak Rabin

Kontributor: Andika Yudhistira Pratama, tirto.id - 2 Des 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kepada polisi dan di muka persidangan, Yigal Amir berkata bahwa penembakan terhadap Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin, dilakukan atas perintah Tuhan.
tirto.id - Sabtu malam, 4 November 1995, sekitar 100.000 penduduk Israel berkumpul di King’s Square, Tel Aviv, menghadiri acara unjuk rasa perdamaian. Dalam kesempatan itu, Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin, menyampaikan pidato yang menegaskan pentingnya dukungan penduduk Israel demi terciptanya perdamaian negaranya dengan negara-negara Arab.

Malam semakin emosional ketika massa larut dalam alunan lagu "Shir Lashalom" yang dibawakan penyanyi Miri Aloni. Meski terlihat canggung, Rabin dan beberapa pejabat Israel lainnya ikut bernyanyi dari atas panggung.

Mengutip The Guardian, saat waktu menunjukkan pukul 21.45, tiba-tiba Rabin tersungkur di depan mobilnya. Dua peluru bersarang di punggung bagian bawah dan tulang rusuknya, ia pun segera dilarikan ke rumah sakit.

Salah satu pengawalnya bersama polisi yang berada di lokasi, segera menangkap pelaku penembakan, Yigal Amir, bersama barang bukti sepucuk senjata api semi-otomatis tipe 84F.

Pukul 23.15, dari depan rumah sakit, juru bicara perdana menteri mengumumkan bahwa pertolongan dari tim medis tidak dapat menyelamatkan nyawa Rabin. Seketika terdengar teriakan "Tidak! Tidak!" dari orang-orang yang terkejut mendengar pengumuman itu.

Pemerintah Israel segera menetapkan Shiva (masa berkabung) selama satu minggu. Dua hari setelah peristiwa penembakan, beberapa pemimpin negara Arab dan barat, seperti Raja Hussein dari Yordania dan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, turut menghadiri pemakaman Rabin di Yerusalem.

Sementara pemimpin Palestine Liberation Organization (PLO), Yasser Arafat, datang beberapa hari berikutnya. Ia mengunjungi keluarga Rabin dan melepaskan kain keffiyehnya sebagai bentuk penghormatan.


Dari Militer ke Politik

Seturut Libby Hughes dalam Yitzhak Rabin: From Soldier to Peacemaker (2005), Yitzhak Rabin lahir di Yerusalem pada 1 Maret 1922. Ia anak sulung dari pasangan Nehemiah Rubitzov dan Rosa Cohen, keduanya orang Yahudi kelahiran Rusia.

Nama Rabin mulai digunakan Nehemiah sebagai nama belakangnya pada 1917 saat ia mendaftarkan diri sebagai anggota Legiun Yahudi. Pasukan ini membantu Inggris dalam menghadapi Turki Utsmani di Palestina pada masa Perang Dunia I. Ini ia lakukan untuk menghapus riwayat pendaftaran legiun sebelumnya yang gagal karena bentuk telapak kakinya datar.

Sedangkan ibunya, tiba di Palestina pada 1919 akibat sentimen anti-semit di Rusia yang tak kunjung mereda. Hal itulah yang mendorong dirinya menjadi pendukung gerakan zionisme dan tercatat sebagai anggota dewan kota di Tel Aviv pada 1923.

Pada 1928, Rosa Cohen mendaftarkan Yitzhak Rabin ke sekolah dasar untuk anak-anak kelas pekerja bernama Beit Hinuch di Tel Aviv, yang menekankan pengajaran tentang pertanian, peternakan, dan zionisme.

Setelah tamat, Rabin melanjutkan studinya di Givat Haslosha, sekolah menengah yang didirikan ibunya dan bergabung dalam sebuah study club. Sejak itu, ia mulai mengenal seni, sosialisme dan ekonomi.

Warsa 1937, ia melanjutkan sekolah di Kadouri, wilayah Galilea Hilir. Setahun berikutnya, ketika kerusuhan penduduk Arab dan Israel pecah di wilayah tersebut, ia bergabung dengan organisasi semi-militer yang dibentuk sekolahnya.

Ia lulus dengan predikat siswa berprestasi. Pihak sekolah sempat mengupayakan dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas California di Berkeley, Amerika Serikat. Namun, ia enggan meninggalkan Israel dan memilih terjun dalam dunia militer.


Ia kemudian dikenal sebagai komandan Palmach, unit rahasia dari Haganah. Pada 1945, ia pernah ditahan selama enam bulan oleh otoritas Mandat Britania untuk Palestina karena memimpin operasi pembebasan 200 orang Yahudi-Eropa di kamp tahanan. Orang-orang itu sedianya akan dideportasi karena melanggar kebijakan pembatasan jumlah kedatangan imigran Yahudi ke Palestina.

Setelah terlibat dalam Perang Arab-Israel tahun 1948, karier militernya melesat hingga menduduki jabatan sebagai Kepala Staf Israel Defense Force (IDF). Ia otak di balik penghancuran pesawat tempur negara-negara Arab saat meletus Perang Enam Hari pada 1967.

Setelah pensiun dari militer, Rabin diangkat sebagai Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat pada 1968. Sejak itu, ia mulai membangun karier politiknya bersama HaAvoda--Partai Buruh Israel.

Warsa 1973, setelah habis masa jabatannya sebagai duta besar, ia kembali ke Israel dan masuk dalam jajaran anggota Knesset (parlemen Israel), lalu menjabat sebagai menteri tenaga kerja. Setahun berikutnya, ia menjadi Perdana Menteri Israel.

Mengutip History, ia mulai melakukan negosiasi dengan Suriah dan Mesir untuk gencatan senjata pada 1974-1975.

Namun pada 1977, ia meletakkan jabatan perdana menteri setelah mendapat protes keras dari rakyat Israel terkait kepemilikan rekening bank di Amerika Serikat. Hal ini merupakan tindakan ilegal. Saat itu hukum di Israel melarang setiap warganya menyimpan uang di luar negeri.

Meski demikian, pada 1984 hingga 1990, ia terpilih sebagai menteri pertahanan dalam pemerintahan koalisi Partai Buruh dan Partai Likud. Rabin kembali menjadi Perdana Menteri Israel setelah Partai Buruh memenangkan pemilu pada Juni 1992.


Mengutip laman Office of the Historia Departemen of State United States of America, ia mulai melakukan perundingan rahasia dengan PLO dan negara-negara Arab. Usaha itu akhirnya diratifikasi dalam perjanjian damai Oslo I, perjanjian damai Israel-Yordania, dan Oslo II, yang ditandatangani secara berturut-turut pada 1993-1995.

Sebagai penghargaan atas upaya perdamaian di Timur Tengah, ia diganjar hadiah Nobel Perdamaian bersama Yasser Arafat dan Menteri Luar Negeri Israel, Shimon Peres, pada 1994.

Namun, Rabin tetap diingat sebagai "penghancur tulang" oleh penduduk Palestina. Saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, ia memerintahkan militer Israel agar tak segan untuk mematahkan tangan para pejuang Palestina dalam Intifada I (1987-1993).

Dr. Rami Abdi, Direktur Hak Asasi Manusia dari Euro-Mediterania cabang Gaza, adalah salah satu korban dari aksi pematahan tulang yang dilakukan IDF pada 1990.

"Ketika orang-orang mengatakan kepada saya bahwa Rabin adalah orang yang cinta damai, saya melihat lengan saya dan tersenyum," ujarnya kepada Aljazeera.

Menuai Protes dan Perdamaian Semu

Mengutip BBC News, negosiasi damai antara Rabin dengan pemimpin negara-negara Arab menuai protes. Dari Palestina, Hamas menyatakan diri tidak terikat dengan perjanjian Oslo I dan II. Bagi mereka, hal itu merupakan bentuk penyerahan diri secara tidak langsung kepada Israel.

Sementara di Israel, penentangan serupa terjadi dalam bentuk demonstrasi dengan membentangkan poster-poster yang menampilkan Rabin dengan kain keffiyeh di lehernya, tanda bahwa dirinya tidak jauh beda dengan Yasser Arafat.

Dalam demonstrasi pada Juli 1995, Benjamin Netanyahu dari Partai Likud berjalan di depan prosesi pemakaman tiruan, sebagai simbol bahwa perjanjian Oslo I telah mengantarkan Israel pada kematian, yang dihujani teriakan massa "Matilah Rabin".

"Para rabi ultranasionalis menyebut Rabin sebagai seorang rodef: seorang pembunuh, yang dalam hukum agama Yahudi, dapat dibunuh untuk mencegah tindakan pembunuhan lebih lanjut," tulis Jonathan Freedland dikutip dari The Guardian.


Infografik Mozaik Yitzhak Rabin
Infografik Mozaik Yitzhak Rabin. tirto.id/Tno


Hal itu menjadi dasar utama Yagil Amir--mahasiswa hukum di Universitas Bar Ilan dan anggota kelompok ekstrimis Yahudi bernama Eyal--untuk membunuh Rabin. Sebelum melakukan aksinya, ia pernah memobilisasi penduduk Herzliya untuk mengecam perjanjian Oslo I dan II.

Diberitakan CNN, ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Kepada polisi ia berkata bahwa penembakan itu dilakukan atas perintah Tuhan.

Ucapan itu ia ulangi di persidangan, beberapa saat sebelum hakim memutuskan hukuman seumur hidup untuknya. Meski begitu, bagi sebagian kelompok ultranasionalis Israel, aksinya merupakan tindakan heroik.

Dalam salah satu upacara peringatan kematian Rabin, pendukung klub sepak bola Beitar Jerusalem menyanyikan lagu pujian untuk Yigal Amir.

Sebelum dan sesudah Rabin terbunuh, kerusuhan-kerusuhan di wilayah permukiman Israel dan Palestina tetap terjadi. Ini menjadi indikasi bahwa kesepakatan damai bersifat semu.

Hubungan antara Pemerintah Israel dengan PLO, juga dengan Hamas, tidak kunjung membaik. Pada 2010, ketika Israel memperluas permukimannya, Presiden Otoritas Palestina dari Partai Fatah, Mahmoud Abbas, menolak bernegosiasi dengan Netanyahu.

Mengutip kembali Aljazeera, Alaa Tartir, Direktur Al Shabaka, The Palestinian Policy Network, menilai dua perjanjian Oslo tidak dirancang untuk perdamaian. Izin untuk pendirian negara Palestina yang merdeka tidak lebih dari mitos.

Pembagian wilayah Tepi Barat menjadi tiga zona, menjadi bukti pemisahan rakyat Palestina secara geografis dan politik, serta memberi jalan yang besar untuk perluasan permukiman penduduk Israel.

Baca juga artikel terkait YITZHAK RABIN atau tulisan menarik lainnya Andika Yudhistira Pratama
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Andika Yudhistira Pratama
Penulis: Andika Yudhistira Pratama
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight