Misbar

Toko Barang Mantan: Serba Klise, Serba Terburu-buru, Serba Nanggung

Film Toko Barang Mantan. FOTO/MNC Pictures
Oleh: Irma Garnesia - 24 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Patah hati berbuah toko berbuah film.
Tom Hansen tak mau berhenti memecahkan piring di apartemennya setelah memutuskan hubungan dengan Summer Finn di 500 Days of Summer (2009). Tom butuh waktu lama untuk menyadari bahwa cinta tak bisa dipaksakan dan Summer tak ingin terikat dalam sebuah hubungan.

Joel dan Clementine menyewa jasa perusahaan Lacuna Inc untuk menghapus seluruh ingatan tentang hubungan mereka di Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004). Bagaimanapun, keduanya akhirnya paham bahwa sebuah hubungan tak hanya soal mengesampingkan ingatan pahit.

Kemudian, Rob Gordon menghubungi semua cewek yang pernah mencampakkannya setelah putus dari Laura dalam High Fidelity (2002). Rob ingin tahu mengapa ia gagal dalam hubungan-hubungan yang lalu.

Masih banyak contoh soal bagaimana putus cinta digambarkan dalam drama atau romcom Hollywood. Tidak hanya film tentang putus cinta, tapi juga yang memasukkan putus cinta sebagai salah satu plot cerita seperti The Holiday (2006), Forgetting Sarah Marshall (2008), dan Sex and The City (2008).

Beragam cara dilakukan orang agar sembuh dari patah hati. Menjual barang-barang dari mantan kekasih juga bukan cara baru. Di Kroasia ada Museum of Broken Relationships. Sebuah bangunan dengan gaya Barok yang memamerkan barang-barang dari mantan kekasih. Di Yogyakarta pada 2012 pernah ada Pameran Patah Hati. Konsepnya kurang lebih sama dengan Museum of Broken Relationships: menarasikan kenangan dalam sebuah hubungan.


Terlalu banyak contoh yang bisa disebutkan di sini.

Film baru Reza Rahadian dan Marsha Timothy ini juga mengisahkan hal serupa. Tristan mendirikan toko jual-beli barang-barang pemberian mantan kekasih untuk orang-orang yang ingin pulih dari patah hati. Dalam mengurusi toko, ia dibantu oleh Amel (Dea Panendra) dan Rio (Iedil Putra). Lantas, suatu hari, Laras kembali ke kehidupan Tristan dan mau tak mau membuka kenangan percintaan mereka dulu.

Formula yang disajikan Toko Barang Mantan sebenarnya sangat menjanjikan. Laras kembali ke kehidupan Tristan dan mengabarkan bahwa ia akan segera menikah. Beberapa waktu kemudian, gadis itu kembali untuk meminta Tristan memilihkan souvenir pernikahan mereka. Mungkin kurang dari seminggu, sang gadis kembali lagi untuk menggadaikan cincin pertunangan. Laras memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya karena merasa tak dilibatkan dalam rencana masa depan pasangannya.

Sungguh klise dan terburu-buru.

Saya bisa terima jika rencana pernikahan dibatalkan dengan alasan tertentu. Namun, dalam Toko Barang Mantan, sama sekali tak ada adegan antara Laras dan tunangannya. Batalnya pernikahan tersebut tampaknya tak memiliki implikasi apapun dalam kehidupan Laras. Ia hanya menyampaikan pada Tristan. Adegan keluarga marah-marah pun tak ada.

Saya kira awalnya Laras hanya mengarang cerita soal pertunangannya agar Tristan bisa berubah, namun kenyataannya tidak.

Bahkan, adegan tunangan Laras membeli kembali cincin yang telah digadaikan sama sekali tak menyorot pria itu. Seolah ia tak signifikan sama sekali. Padahal Tristan merasa sangat terluka egonya oleh tunangan sang gadis. Tristan menyebutnya “pria dengan gelar panjang” atau “pria yang pekerjaannya banyak karena gelarnya banyak banget”.

Mari kita bahas dinamika hubungan mereka berdua. Tristan selalu mengira ia putus dengan Laras karena ia tak kunjung lulus kuliah, punya hubungan dingin dengan ayahnya, dan berpikir bahwa Laras menganggapnya tak punya masa depan. Rupanya tidak. Laras bilang Tristan tidak bisa mencintai atau tidak pernah bilang cinta.

Perkara kedua belah pihak tidak bisa menemukan titik kompromi memang seringkali bikin kisah cinta jadi kompleks. Misalnya, satu pihak tak lagi cinta, pasangan yang putus karena beda frekuensi, atau perkara memaknai hubungan yang dialami Tom dan Summer. Hanya saja, jika memang Laras pergi karena Tristan tidak paham cara mencintai, tampaknya persoalan itu kekanak-kanakan.

Mereka sudah menjalani hubungan selama dua tahun--mungkin lebih, jika ditambah masa pendekatan. Tapi Laras sepertinya tak paham cara-cara Tristan mengekspresikan rasa sayangnya.

Saya tak menampik alasan bahwa Laras memilih pergi karena cuma dianggap statistik dalam kisah percintaan Tristan. Mungkin juga karena gadis itu merasa Tristan hanya ingin memuaskan egonya dengan memiliki Laras.

Perseteruan yang sengit antara keduanya adalah dampak akumulasi dari masalah yang didiamkan terlalu lama. Lantas, saya heran ketika semua itu disederhanakan dengan tuduhan "Tristan tak pernah bilang cinta".


Dalam film ini, dinamika hubungan Tristan dengan ayahnya juga sangat disederhanakan. Hubungan keduanya hanya digambarkan lewat beberapa percakapan telepon dan ketika ibu tiri Tristan berulangtahun. Padahal, alasan Tristan tak percaya pada cinta digambarkan berangkat dari trauma atas kelakuan ayahnya. Kekesalan itu hanya dikisahkan lewat dialog antara Tristan dan Laras, atau Tristan dengan rekan kerjanya.

Sayang sekali Toko Barang Mantan hanya memunculkan Roy Marten dan Widi Mulia di bagian akhir. Kedua artis itu layak mendapat porsi adegan yang lebih karena keduanya punya andil besar dalam membentuk Tristan dewasa yang trauma terhadap 'cinta'.



Juga ketika Tristan marah mendapati bahwa selama ini ayahnya diam-diam membeli barang di tokonya. Tristan hanya kesal sendiri. Tak ada lanjutan dari kemarahan itu.

Sementara dari konsep tokonya, Toko Barang Mantan agak sulit disebut ‘niche’. Orang Indonesia mungkin lebih familiar dengan toko barang bekas. Namun, ia tak akan bertahan jika mengkategorikan diri sebagai toko barang bekas. Toko ini terletak di kawasan yang mahal di Jakarta. Wajar jika Tristan bingung bagaimana membayar sewanya. Namun, perkara bayar sewa itu hanya diulang-ulang dalam narasi Tristan saja. Tidak pernah ada telepon tagihan dari yang punya bangunan atau preman yang mendatangi toko untuk menagih sewa.

Sepanjang film, Tristan dan kedua temannya bersusah payah menemukan model bisnis yang cocok untuk tokonya. Tentu saja salah satunya demi bayar uang sewa. Tapi, tak pernah terpikirkan opsi, misalnya, untuk memindahkan toko ke kawasan yang lebih terjangkau.

Toko Barang Mantan pun masih mewarisi problem klasik film-film Indonesia yang tingkat kesabarannya hanya sampai tiga perempat cerita, lalu memilih mengakhiri film dengan fast forward ke dua atau tiga tahun kemudian. Walhasil, ada hal-hal yang tak tuntas terjelaskan. Kok bisa, konflik keluarga Tristan yang kompleks selesai begitu saja?

Bisa disimpulkan bahwa narasi yang berusaha dibangun dalam film ini hanya disampaikan lewat dialog. Membatalkan pernikahan, konflik ayah dan anak, persoalan uang sewa toko, dan perseteruan Tristan-Laras. Seolah film ini kehabisan ide untuk mengisahkan cerita selain lewat bahasa dasar film: gambar.

Baca juga artikel terkait FILM TOKO BARANG MANTAN atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight