Sinopsis Novel "Ayat-Ayat Cinta" Karya Habiburrahman El Shirazy

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 9 November 2021
Dibaca Normal 2 menit
Novel "Ayat-Ayat Cinta" memuat cerita percintaan ala Islam yang mungkin tidak lazim dilakukan pada kehidupan anak muda modern.
tirto.id - Novel "Ayat-Ayat Cinta" karya Habiburrahman El Shirazy menjadi novel best seller di tahun 2000-an.

Novel yang kental dengan nuansa Islami ini juga menjadi salah satu buku yang cukup laris di tahun 2000-an.

Di dalamnya memuat cerita percintaan ala Islam yang mungkin tidak lazim dilakukan pada kehidupan anak muda modern.

Meski tema cinta cukup mendominasi, karya sastra ini turut memasukkan unsur dakwah dan latar belakang budaya Islam.

Penulis menyelipkan penggunaan bahasa Arab formal (fusha) dan informasi ('amiya) di hampir setiap paragraf. Kendati demikian, pembaca diberikan catatan kaki untuk mempermudah memahami.

Latar tempat novel ini banyak mengambil lokasi di negara Mesir dan sebagiannya di Indonesia. Suasana Mesir di musim panas digambarkan dengan untaian kalimat yang halus.

Di negara tersebut, tokoh utama bernama Fahri sedang menuntut ilmu di Universitas Al Azhar dan mengalami berbagai hal dalam kehidupan kesehariannya, termasuk urusan asmara.

"Ayat-Ayat Cinta" bermula dari cerita bersambung yang dimuat pada harian Republika. Potongan-potongan cerita lantas dicetak menjadi novel dan diterbitkan bersama oleh Penerbit Republika dan Pesantren Basmala Indonesia pada Desember 2004.

Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, novel tersebut sudah mencapai cetakan ke-30 pada Desember 2007 dengan penjualan rata-rata 7.142 eksemplar per bulan.

Mengutip situs Ensiklopedia Kemdikbud, kepopuleran novel "Ayat-Ayat Cinta" telah membawanya menjadi peraih penghargaan Pena Award dan The Most Favorite Book, masing-masing di tahun 2005.

Lalu, pada 2008 ceritanya diangkat ke film layar lebar dengan judul sama yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Sinopsis Novel "Ayat-Ayat Cinta"


Novel "Ayat-Ayat Cinta" mengisahkan kehidupan mahasiswa Indonesia di negara Mesir yang bernama Fahri.

Dia mengambil perkuliahan di Universitas Al Azhar, Kota Kairo. Fahri dikenal sederhana, memiliki akhlak yang baik, dan taat dengan ajaran Islam.

Ketaatannya itu cukup terlihat pada perilakunya. Bahkan, saat Fahri harus berinteraksi dengan lawan jenis, dia sangat menjaga diri karena berstatus bukan mahram.

Dia juga memiliki tetangga beragama Kristen Koptik yang taat bernama Maria.

Hingga suatu hari, Fahri menikah dengan muslimah asal Turki bernama Aisha melalui cara Islami. Dia mengenalnya melalui proses ta'aruf. Dan, setelah menikah, kehidupan Fahri menjadi terangkat.

Fahri berasal dar keluarga biasa yang bisa menuntut ilmu ke Kairo setelah keluarganya menjual sawah warisan keluarga satu-satunya.

Setelah menikah, Fahri berada dalam kehidupan mewah karena Aisha adalah anak dari pemilik perusahaan besar dengan laba milyaran per bulannya.

Dia kini tinggal di apartemen elit di Kairo. Di samping itu, dia memiliki istri cantik, salihah, dan kaya. Namun, semua kemewahan itu tidak mengubah perilaku Fahri yang punya akhlak baik.

Suatu hari, Fahri mesti mendekam di penjara. Dia difitnah telah memperkosa wanita yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. Fahri tetap bersabar sembari mencari solusi dengan bermunajat pada Tuhannya melalui ibadah di dalam penjara.

Di dalam penjara, Fahri tetap menuntut ilmu. Gurunya adalah seorang guru besar ekonomi yang dibui lantaran kerap melontarkan kritik pedas.

Tidak hanya itu, Fahri mendapat cobaan yakni tawaran menyuap pihak terkait agar bisa bebas dari penjara. Dia bahkan pernah tergoda untuk memberi kesaksian palsu.

Namun keimanan meneguhkannya untuk tetap bertindak sesuai ajaran Islam.

Akhirnya, sebuah jalan keluar datang dan membuat Fahri terbebas dari hukuman. Orang-orang yang tadinya memberikan kesaksian palsu, bersedia mengungkap fakta yang sebenarnya.

Profil Habiburrahman el-Shirazy


Habiburrahman el-Shirazy merupakan penulis kelahiran Semarang, 30 September 1976. Dia dikenal pula dengan sebutan Kang Abik. Istrinya bernama Muyasaratun Sa'idah.

Dia pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak (1992) sembari belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen.

Setelah itu, Kang Abik meneruskan bersekolah di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta (1995).

Pendidikan tingginya diselesaikan di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadits, Universitas Al Azhar di Kairo (1995). Dia lalu mengambil Postgraduate Diploma S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo (2001).

Kang Abik cukup aktif dalam bidang dakwah. Dia pernah ditunjuk sebagai duta Indonesia pada "Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua" yang diadakan WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) di kota Ismailia, Mesir (1996).

Pada kegiatan itu dia berorasi dengan menampilkan tema "Tahqiqul Amni Was Salam Fi'Alam Bil Islam" (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam) yang diapresiasi sebagai orasi terbaik kedua.

Kiprah dakwah Kang Abik lainnya yaitu aktif di Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000), pengurus pada Dewan Assatidz Pesantren Virtual Nahdatul Ulama yang berpusat di Kairo, dan memprakarsai kemunculan Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.

Sekembalinya ke Indonesia, Kang Abik cukup aktif dalam kepenulisan selain memiliki pekerjaan sebagai pengajar dan mengurus pesantren Basmala.

Karya sastra Kang Abik cukup banyak. Dia juga menggarap berbagai naskah pementasan hingga antologi cerpen, di samping novel-novel.

Beberapa judul novel karyanya adalah Ayat-Ayat Cinta (2004), Di Atas Sajadah Cinta (2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007).


Baca juga artikel terkait AYAT-AYAT CINTA atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - )

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Dhita Koesno
DarkLight