21 Oktober 1995

Seperti Kurt Cobain, Shannon Hoon juga Tewas "Dibunuh" Popularitas

Shanoon Hoon. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Faisal Irfani - 21 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Menjadi bintang rock tak selamanya membuat Shannon Hoon bahagia. Popularitas membuatnya depresi.
tirto.id - Dunia rock era 1990-an adalah dunia yang depresif, gelap, sekaligus seperti tak punya masa depan. April 1994, di Seattle, Kurt Cobain sang vokalis sekaligus gitaris Nirvana, ditemukan tewas bunuh diri dengan pistol di tangan. Kematiannya meninggalkan duka mendalam bagi para pendengar musik di hampir seluruh dunia.

Setahun berselang, giliran Shannon Hoon, vokalis Blind Melon yang tewas karena overdosis heroin pada 21 Oktober 1995, tepat hari ini 24 tahun lalu. Hoon meninggal beberapa jam sebelum pementasan di Tipitina, sebuah klub musik di New Orleans.

“Ini benar-benar mengejutkan. Benar-benar mengejutkan,” ungkap Chris Jones, manajer Blind Melon.

“Ia telah berjuang melawan narkoba selama beberapa waktu, aku telah memasukkannya ke dalam rehabilitasi sebanyak dua kali. Tapi, nyatanya, memang sulit untuk menilai seberapa jauh seseorang berjalan,” imbuhnya.


Muak di Kota Kecil

Hoon lahir dan tumbuh di Lafayette, daerah kecil di Indiana yang menurutnya, “nyaman tapi konservatif.” Semasa kecil, Hoon adalah anak yang hiperaktif. Oleh ayahnya, ia dipersiapkan untuk jadi atlet. Hoon diikutsertakan dalam kelas karate, gulat, lompat galah, sampai sepakbola. Kesibukannya itu membuat Hoon tak bisa menikmati kesenangan di bidang selain olahraga.

Namun, kiprah di dunia olahraga tak berlangsung mulus. Hoon kerap kalah dalam pertandingan dan itu tak bisa diterima oleh sang ayah. Walhasil, keduanya sering terlibat pertengkaran.

“Ketika ia kalah dalam olahraga jenis apa pun, ayahnya akan kesulitan dengan itu dan berakhir dengan perkelahian. Ia benar-benar tidak diizinkan kalah. Itu membuat saya menangis melihatnya. Hatinya benar-benar tidak di sana, dan itu mungkin menjadi alasannya untuk meledak setelah lulus SMA,” terang sang ibu, Nel.

Karena muak, Hoon lalu mencari pelampiasan. Di fase inilah ia bertemu dengan musik. Kim Neely, dalam “Blind Melon: Knee-Deep in the Hoopla” yang terbit di Rolling Stone (1993), menjelaskan bahwa Hoon tertarik dengan genre musik stoner-rock. Ia mulai bermain gitar, bernyanyi, dan sesekali menulis lagu. Bernyanyi, seperti ia bilang, “membuatnya merasa lebih baik.”

Dunia barunya itu membuatnya nyaman menjalani hari-hari. Terlebih ia juga punya lingkaran pertemanan yang saling mendukung satu sama lain. Musik, pendek kata, telah membantunya menemukan identitas yang selama ini ia cari.

“Pada saat aku berumur 17 tahun, aku panik karena merasa tidak punya identitasku sendiri. Aku menyadari bahwa aku telah membuang waktu selama bertahun-tahun untuk menjadi seperti apa yang diinginkan orang tua,” terangnya.

Pada waktu bersamaan, kebebasan itu membawanya pada gaya hidup sembrono: perkelahian, alkohol, dan narkoba. Keadaan ini membuatnya keluar masuk penjara. Sang ibu menggambarkannya sebagai “masa-masa yang suram.”

Seperti dilansir The Independent, setelah lulus SMA Hoon memutuskan pergi ke Los Angeles. Ia ingin meninggalkan kekakuan Lafayette demi hidup yang lebih bebas. Sesampainya di Los Angeles, Hoon tak ubahnya orang linglung: tak punya rumah dan pekerjaan. Yang ia miliki hanya antusiasme untuk bermusik.

Nasib akhirnya membawa Hoon bertemu dengan anak-anak muda dengan garis hidup yang sama dengannya. Anak-anak muda yang bosan dengan kehidupan di kota kecil dan berupaya keras untuk keluar dari lingkaran itu demi kesenangan paripurna.

Pada 1990, bersama Rogers Stevens, Brad Smith, Glen Graham (ketiganya asal Mississippi), dan Christopher Thorn (Pennsylvania), Hoon mendirikan band bernama Blind Melon.


Mekar Berkat MTV

Kelima anak muda ini segera tancap gas membuat lagu. Musik mereka terilhami rock era 1960-an yang dibawakan Grateful Dead dan Allman Brothers, juga sedikit sentuhan alternatif yang berkiblat pada Jane’s Addiction.

Momentum datang ketika Hoon diminta Axl Rose untuk beraksi di video “Don’t Cry” milik Guns N Roses. Penampilannya tersebut menarik perhatian banyak label, salah satunya Capitol Records. Setelah Blind Melon menyerahkan demo yang berisikan lima lagu, kontrak rekaman pun disepakati.

Album debut lantas dipersiapkan. Namun, untuk mewujudkannya ternyata tak mudah. Inspirasi tak kunjung datang dan Los Angeles telah membuat mereka terdistraksi. Walhasil, proses pembuatan album jalan di tempat. Mereka lebih banyak mengisi waktu dengan jamming di klub-klub lokal sampai membuka konser band macam Soundgarden.

Pada 1992, album debut mereka akhirnya rampung, Blind Melon, dirilis ke pasar. Album ini mengangkat narasi pembangkangan anak-anak muda terhadap lingkungan yang kaku dan konservatif. Lirik-liriknya menggambarkan pengalaman muda-mudi AS pada masa itu. Dari segi musikalitas, Blind Melon cukup kaya warna: rock yang dileburkan dengan folk, psikedelik, sampai alternatif.

Akan tetapi, semuanya lagi-lagi tak berjalan seperti yang diharapkan. Album tersebut hanya laku beberapa ribu kopi dalam kurun waktu seminggu. Situasi ini membuat frustasi para personel Blind Melon. Energi mereka seketika lenyap tak bersisa.

Di tengah bayangan akan kegagalan, nasib baik rupanya mendatangi mereka. MTV memutuskan untuk memutar video musik “No Rain” salah satu track yang terdapat dalam album tersebut. Tak disangka, video “No Rain” yang memperkenalkan karakter “Bee Girl” (diperankan aktris Heath DeLoach) meledak dan viral.

Popularitas video klip tersebut bahkan mendorong penjualan album sampai dua juta kopi, serta membantu Blind Melon menduduki peringkat atas tangga lagu Billboard.

“Sungguh aneh bagaimana momentum [kesuksesan] itu muncul karena satu video. Musiknya tidak berubah. Apa yang kami lakukan juga tidak berubah. Kesuksesan [yang ada] saya kira jauh lebih sedikit berkaitan dengan musik,” ujar Brad Smith.

Nama Blind Melon pun seketika melambung. Mereka melangsungkan tur di banyak tempat di AS maupun Eropa, menjadi pembuka konser Neil Young maupun Lenny Kravitz, hingga tampil di helatan akbar Woodstock 1994.

“Ketika Tim Devine (Wakil Presiden Capitol) membawa saya untuk melihat band ini latihan, saya tahu kami melihat sesuatu yang istimewa,” ujar Gary Gersh, salah satu eksekutif di Capitol kepada Los Angeles Times.

“Ketika departemen video kami memperlihatkan 'No Rain', saya tahu bahwa kami punya alat untuk meraih kesuksesan yang besar. Kenyataannya, Blind Melon adalah salah satu band yang berbakat," tambahnya.



Depresi dan Obat-obatan

Meski demikian, kesuksesan masif itu nyatanya membikin Hoon jadi kian rapuh. Ia tak nyaman dengan popularitas gemerlap industri musik, juga dengan lampu sorot yang meneranginya ketika konser berlangsung. Kondisi ini membuatnya semakin parah terlilit narkoba. Ia bahkan harus melewati program rehabilitasi sebanyak dua kali.

Setelah dinilai "bersih", Hoon mendapat kabar bahagia: pacarnya, Lisa Crouse, melahirkan anak perempuan yang diberi nama Nico Blue. Ketiganya lalu pindah untuk sementara waktu ke kampung halaman Hoon di Lafayette.

Kehadiran sang putri membuat Hoon seperti terlahir kembali. Ia merasa bahagia, antusias, sekaligus optimis akan masa depan. Ia pun mulai menata lagi rencananya, termasuk di Blind Melon dengan membuat album baru yang diberi tajuk Soup (1995).

Oleh pasar, juga kritikus, Soup dinilai gagal bersinar seperti album Blind Melon yang pertama. Musiknya cenderung gelap dan lirik-liriknya jauh lebih dewasa: tentang keluarga dan eksistensialisme.

Kendati demikian, hal tersebut tak menghentikan langkah mereka untuk kembali melangsungkan tur. Mulanya, semua berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya di satu malam pada 1995 kejadian nahas itu terjadi: Hoon meninggal karena overdosis.

Kebahagiaan yang dialami Shannon Hoon ternyata hanya sementara, sama seperti popularitas Blind Melon yang sekejap.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Irfan Teguh
DarkLight