Menuju konten utama
Kronik

Sejarah Hidup Soerjopranoto: Gerak Juang Kakak Ki Hadjar Dewantara

Soerjopranoto adalah pejuang dalam sejarah pergerakan nasional. Ia kakak kandung Ki Hadjar Dewantara.

Sejarah Hidup Soerjopranoto: Gerak Juang Kakak Ki Hadjar Dewantara
Soerjopranoto, Pejuang Pergerakan Nasional. Foto/Istimewa

tirto.id - Raden Mas Soerjopranoto adalah salah seorang pejuang pergerakan nasional dari Sarekat Islam (SI). Kakak kandung Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara ini juga dikenal sebagai aktivis penggerak dan pembela kaum buruh serta rakyat pekerja. Soerjopranoto lahir tanggal 11 Januari 1871, hari ini tepat 147 tahun silam.

Soerjopranoto sempat bergabung dengan Boedi Oetomo (BO) sebelum memutuskan hengkang, kemudian masuk SI pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Ia adalah pendiri sekaligus pemimpin Personeel Fabrieks Bond (PFB), serikat buruh dan pekerja yang berafiliasi dengan SI.

Berikut ini jejak rekam perjuangan Soerjopranoto:

1871

Lahir tanggal 11 Januari 1871 di lingkungan istana Pakualaman, Yogyakarta. Soerjopranoto termasuk golongan ningrat Jawa kelas tinggi dan bertitel pangeran, namun memilih mengabdikan hidupnya untuk kepentingan rakyat banyak.

1900

Bersama Soewardi Soerjaningrat, Soerjopranoto mendirikan Mardi Kaskaja, semacam usaha gotong-royong atau koperasi simpan pinjam. Perkumpulan ini menjadi awal berdirinya Societeit Soetrohardjo, forum untuk membela rakyat dari lilitan lintah darat.

1908

Soerjopranoto bergabung dengan Boedi Oetomo yang dibentuk di Batavia. Namun, visi dan misi BO ternyata tidak selaras dengan perjuangannya. Beberapa usul Soerjopranoto tidak digubris oleh para petinggi BO.

1912

Soerjopranoto menjadi salah satu Dewan Komisaris Onderlinge Levensverzekering Maatschappij Boemi Poetra yang merupakan cikal-bakal perusahaan asuransi Bumiputera.

1914

Soerjopranoto berurusan dengan pemerintah kolonial. Ia tidak terima atas pemecatan sepihak seorang pegawai pribumi dari kantor pemerintahan hanya lantaran orang itu bergabung dengan SI. Soerjopranoto membawa perkara ini sampai ke pengadilan.

1915

Resmi masuk SI setelah sebelumnya memutuskan keluar dari BO. Di Kongres SI tahun 1915, Soerjopranoto dipercaya duduk sebagai Komisioner Centraal Sarekat Islam (CSI) di kepengurusan pusat, kemudian menjadi bendahara.

1917

Soerjopranoto menggagas berdirinya serikat buruh dan pekerja bernama Personeel Fabrieks Bond (PFB) di Yogyakarta. Ia juga memimpin suatu kelompok barisan kerja, yakni Adhi Dharma.

1918

Sejak tahun 1918, Soerjopranoto aktif memimpin gerakan kaum buruh dan pekerja untuk melakukan aksi mogok karena tindak sewenang-wenang yang dilakukan perusahaan atau pemilik modal, serta rendahnya upah. Julukan “Si Raja Mogok” pun melekat kepadanya.

1934

Tjokroaminoto wafat. Sebelumnya, sempat terjadi perpecahan di internal SI (kala itu sudah berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) yang melibatkan nama Soekiman Wirosandjojo.

Setelah Soekiman dipecat dari SI, Soerjopranoto ikut keluar dan turut mendirikan Partai Islam Indonesia (PARII) bersama Kasman Singodimejo, Faried Ma’ruf, Wiwoho, Munzakir, Kiai Haji Mas Mansur, dan lainnya.

Namun, Soerjopranoto tidak terlalu aktif berpolitik di PARII. Ia lebih banyak mencurahkan waktu untuk mengelola sejumlah surat kabar bersama Ki Hadjar Dewantara. Dua tokoh ini beberapa kali dibui karena perkara delik pers.

1950

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945 dan akhirnya mendapat pengakuan kedaulatan secara penuh pada 1949, Soerjopranoto lebih sering fokus di bidang pengajaran. Masih bareng Ki Hadjar, ia mengelola sejumlah sekolah serta menulis buku-buku tentang pendidikan dan nasionalisme.

1959

Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Beberapa bulan berselang, tepatnya tanggal 15 Oktober 1959, Soerjopranoto menyusul pergi dari dunia. Soerjopranoto mangkat pada usia 88 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Kotagede, Yogyakarta.

Presiden Sukarno atas nama pemerintah menetapkan Soerjopranoto sebagai pahlawan nasional pada 30 November 1959. Setahun kemudian, pemerintah RI juga memberikan penghargaan Mahaputra untuk Soerjopranoto.

Baca juga artikel terkait KRONIK atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Humaniora
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya