Sebelum Orang Jawa Isap Kretek, Mereka Punya Tradisi Menyirih

Diorama sejumlah pekerja memproduksi rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Museum Kretek, Kudus, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/kye/16.
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 12 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Berawal dari sekadar bahan tambahan, tembakau menggeser kebiasaan menyirih. Jadi penguat prestise bangsawan Jawa di zaman klasik, kemudian industri andalan bumiputra.
tirto.id - “Baik pria maupun wanita terus-menerus mengunyah pinang dengan daun sirih dan limau,” demikian tulis Ma Huan dalam Yingya Shenglan (Laporan Umum Pantai-Pantai Samudra).

Ma Huan adalah sekretaris dan juru bahasa misi muhibah Laksamana Cheng-Ho. Dalam catatan bertiti mangsa 1416 itu, yang dimuat ulang oleh W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa (2018), Ma Huan mencatat kebiasaan orang Jawa yang ditemuinya.

Menurutnya, menyirih adalah kebiasaan yang sangat jamak di Jawa. Sirih-pinang juga jadi hadiah yang lumrah bagi seseorang yang menikah. Bahkan, “Jika menerima tamu, mereka tidak menawarkan minum tetapi menawarkan pinang.”

Di zaman kuna kebiasaan menyirih juga sangat umum hampir seluruh wilayah Nusantara. Dengan tiga bahan utama berupa sirih, buah pinang, dan kapur (orang Jawa menyebutnya injet), menyirih menjadi kebiasaan kala senggang. Sebagai semacam relaksasi di tengah rutinitas harian dan alat pergaulan. Bahkan sirih dan pinang adalah komposisi penting dalam sesajen untuk arwah leluhur.

Namun kebiasaan itu perlahan ditinggalkan sejak pelaut-pelaut Portugis lalu lalang di Nusantara pada abad ke-17. Gara-garanya adalah kebiasaan baru yang mereka bawa: mengisap tembakau alias merokok.

Tembakau bukanlah tanaman asli Nusantara, tapi Amerika. Dapat diduga tanaman ini sampai ke Nusantara dibawa orang Portugis itu. Sebutan tembakau memang dekat dengan kata Portugis untuk tanaman itu, tabacco atau tumbacco. Masyarakat Jawa lalu mulai menambahkannya sebagai campuran bahan menyirih dan menyebutnya mbako susur. Kala itu tembakau belum ditanam di Nusantara, tapi didatangkan dari Malabar, sebuah daerah di pantai selatan India.

“Betapapun, kehadiran tembakau tampak jelas membawa dua dampak yang saling bertolak belakang terhadap kebiasaan makan sirih. Pada satu pihak bisa melengkapi dan menambah kenikmatan mereka yang mempunyai kegemaran makan sirih, namun pada pihak lain justru membawa efek yang sangat merugikan, karena di belakang hari muncul sebagai rekan tandingan dalam bentuk rokok,” terang Amen Budiman dan Onghokham dalam Hikayat Kretek (2016: 82).

Kebiasaan Elite Mengisap Tembakau

Di zaman itu istilah rokok belum dikenal. Orang Melayu dan Jawa sebermula menyebutnya bungkus. Ini lantaran ia dibuat dengan membungkus rajangan kecil daun tembakau kering dengan daun jagung atau nipah. Seringkali juga orang Jawa mencampur bahan lain sebagai penyedap. Sementara sebutan rokok yang kita kenal sekarang merupakan serapan dari kata Belanda ro’ken (mengisap).

Sejak itu mengisap tembakau jadi kebiasaan baru meski belum bisa menggeser kebiasaan menyirih. Tapi agaknya mengisap tembakau terkesan lebih elite karena rokok-rokok pertama diisap oleh bangsawan-bangsawan kraton di Jawa. Jejaknya dapat kita lacak dalam Babad Ing Sengkala yang dianggit di keraton Mataram pada awal abad ke-18.

Amen Budiman dan Onghokham mengutip satu bait dari manuskrip itu yang menyinggung soal rokok. Dalam naskah itu tertera kabar, “Kala seda Panembahan swargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud.” Dalam bahasa Indonesia, “Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau, setelah itu mulailah orang merokok.”

Panembahan yang dimaksud naskah ini adalah Panembahan Senapati, raja pertama Mataram Islam. Tahun wafatnya sang raja diperingati dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti yang artinya bertiti mangsa 1523 Saka atau sekira 1601-1602 Masehi. Kedua sejarawan menyebut inilah berita tertua tentang mula kebiasaan merokok di Jawa.

Cucu Panembahan Senopati, Sultan Agung, juga diketahui sebagai seorang perokok berat. Dr. H. De Haen, utusan VOC untuk Mataram sekira 1622-1623, adalah orang yang mengabarkannya. Di antara abdi perempuan Sultan Agung ada yang khusus membawa sirih dan tembakau dalam cerana emas.

“Sri Baginda selalu merokok dan tidak seberapa makan sirih,” demikian tulis Amen Budiman dan Onghokham (hlm. 84).

Agaknya kalangan keraton jugalah yang terlebih dahulu surut kebiasaannya menyirih. Bisa jadi mulanya kebiasaan ini ditinggalkan adalah demi menjaga prestise.

Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga jilid I (2014: 52-53) menjelaskan, “Kebiasaan di istana Jawa, setidak-tidaknya ketika menjamu orang Eropa ialah mengisap buluh panjang gaya Belanda. Tampaknya ini merupakan gaya yang dibuat-buat di kalangan pria elite, yang meniru-niru beberapa pedagang Eropa. [...] Mengisap tembakau dengan cara ini sudah mulai populer di kalangan pria dan wanita di akhir abad ke-17.”

Rakyat Jelata Ikut Isap Rokok

Itulah mulanya kebiasaan mengisap tembakau menggeser kebiasaan menyirih. Lagi pula, di mata kolonialis Belanda, menyirih dianggap kebiasaan kaum rendahan. Kebiasaan orang meludahkan sirih yang meninggalkan bekas kemerahan di sembarang tempat dianggap tak higienis. Lantas, orang Belanda mengasosiasikan rokok dengan modernitas dan keterdidikan.

Monika Arnez dalam makalah bertajuk "Tobacco and Kretek: Indonesian Drugs in Historical Change" yang diterbitkan di jurnal ASEAS (2009, PDF) menyebut kebiasaan merokok menular kepada kaum bumiputra yang paling awal menerima pendidikan di sekolah Belanda pada pertengahan abad ke-19. Bagi selapis golongan elite pribumi terpelajar ini, rokok adalah simbol atas akses mereka terhadap pendidikan dan penguasaan ekonomi.



Tapi mungkin juga kebiasaan merokok di kalangan rakyat kebanyakan bermula dari masa yang lebih awal lagi, sekira akhir abad ke-18. Ini bisa kita telusuri dari keterangan J.W. Winter, ayah javanolog C.F. Winter. Ia pernah tinggal di Vorstenlanden selama 1799 sampai 1820 sebagai penerjemah. J.W. Winter mencatat pengalamannya selama itu dalam memoarnya, Beknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta in 1824 (1902).

Dalam catatan J.W. Winter, orang Jawa biasa hidup dengan pekerjaan yang sederhana tetapi hidupnya tenteram. Seorang laki-laki bujangan bisa hidup dengan 12 duit sehari.

“Ia menggunakan 12 duit itu untuk keperluan sebagai berikut: tiga duit untuk membeli sirih dan tembakau. Tiga duit lagi untuk membeli nasi, garam, dan tempe, yang digoreng dan dimakan seperti ikan. Enam duit selebihnya untuk membeli beras,” katanya sebagaimana dikutip Amen Budiman dan Onghokham (hlm. 88).

Dalam pembagian itu, jika orang itu tidak menyirih, maka tiga duit uang belanjanya dipakai membeli tembakau seluruhnya. Kebiasaan saat itu, orang merokok dengan melinting tembakaunya sendiri. Pembungkus yang digunakan adalah klobot atau kulit jagung yang dikeringkan.

Kebiasaan merokok jadi makin mendesak kebiasaan menyirih pada akhir abad ke-19. Itu terjadi seiring dengan penemuan varian rokok khas yang disebut kretek di Kudus. Racikan kretek merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan penguat rasa yang disebut saus.

Sebelum mapan sebagai salah satu industri di Indonesia, kretek merupakan produk rumahan dengan distribusi yang terbatas. Masyarakat Kudus mulai memproduksi kretek skala rumahan dan didistribusikan ke sekitar tempat tinggalnya. Lambat laun permintaan akan kretek terus mengalami kenaikan.

Memasuki awal abad ke-20 permintaan kretek benar-benar meluas hingga ke daerah-daerah sekitar Kudus. Bahkan hingga ke Jawa Timur. Pada saat itu hampir seluruhnya adalah usaha kretek yang murni dikelola pribumi Jawa. Usaha kretek tumbuh dan berkembang sebagai basis usaha pribumi yang dominan di Kudus.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight