Rokok Maurizio Sarri: Dulu Tak Apa, Sekarang Perkara

Pelatih kepala Chelsea Maurizio Sarri merokok di bangku cadangan setelah memenangkan pertandingan final Liga Eropa antara Chelsea dan Arsenal di stadion Olimpiade di Baku, Azerbaijan, Kamis, 30 Mei 2019. Chelsea menang 4-1. Darko Bandic / AP
Oleh: Faisal Irfani - 21 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Dulu: rokok adalah teman setia di waktu-waktu yang gelap. Sekarang: musuh bersama.
tirto.id - Maurizio Sarri merupakan pelatih yang dikenal sebagai perokok berat. Kala masih melatih Napoli, kebiasaan tersebut terlihat begitu jelas. Dalam beberapa kesempatan, Sarri kedapatan mengisap satu-dua batang rokok di pinggir rumput San Paolo sembari menyaksikan anak asuhannya bertanding.

Kebiasaan itu juga diakui oleh Dries Mertens, pemain sayap Napoli asal Belgia. Katanya, dalam sehari, Sarri bisa menghabiskan sampai lima bungkus rokok demi lepas dari tekanan melatih Napoli.

“Ketika aku sudah tak bermain lagi, aku tak akan jadi pelatih. Terlalu banyak tekanan,” jelas Mertens. “Apakah Sarri stres? Ya, aku akan berkata begitu! Lima bungkus rokok setiap hari, bayangkan.”

Ketika ia pindah ke Inggris untuk melatih Chelsea, kebiasaan ini masih tetap berlanjut, kendati dalam kondisi yang serba terbatas. Di Inggris, Sarri terhadang regulasi: tidak boleh ada rokok di stadion. Sarri tak patah arang. Sebagai gantinya, ia mengunyah filter rokok ketika mendampingi timnya berlaga melawan Huddersfield Town di laga pembuka Liga Premier.

Larangan rokok ini sempat bikin Sarri frustasi. Sikap tersebut ia tumpahkan ke para wartawan selepas kemenangan dramatis Chelsea atas Arsenal dalam lanjutan Liga Premier Inggris pada pertengahan Agustus 2018 silam.

“15 menit pada akhir babak pertama sangat mengerikan,” ungkap Sarri. “Saya menikmati pertandingan selama 75 menit, tidak di 15 menit lainnya. Di waktu itu, lebih baik digunakan untuk merokok.”

Namun, ketika Chelsea kembali berhadapan dengan Arsenal di final Liga Eropa dan menang, Sarri seperti tak peduli setan akan segala aturan: sementara anak buahnya merayakan selebrasi juara, ia merokok begitu nikmatnya.


Bagian dari Identitas dan Tradisi


Di Itali, tempat kelahiran Sarri, merokok adalah bagian integral dari identitas sekaligus budaya nasional di era modern. Rokok telah menjadi teman sejati para filsuf, seniman, intelektual, sampai sutradara. Merokok, pendek kata, setara dengan seni adiluhung.

Selain Sarri, pelatih di Italia yang juga perokok (berat) antara lain Marcello Lippi dan Carlo Ancelotti. Lippi, yang pernah membawa Juventus juara Liga Champions 1995, telah merokok sejak remaja. Seiring waktu, dari rokok, seleranya berpindah ke cerutu. Potret ikoniknya saat menikmati cerutu hadir sesaat selepas Italia merengkuh trofi Piala Dunia 2006.

Tak berbeda dengan Lippi, Ancelotti, pelatih yang kini mengasuh Napoli menggantikan Sarri, juga memulai pengalaman merokoknya sejak muda. Kebiasaan itu diteruskannya sampai ia tak lagi bermain bola. Pada 2007, ketika masih menjabat sebagai allenatore AC Milan, ia kena tegur oleh perangkat UEFA—dalam pertandingan melawan Glasgow Celtic—karena merokok di bangku pemain.

Di atas Ancelotti dan Lippi, ada pula nama Enzo Bearzot, pelatih Itali era 1980-an. Enzo dikenal sebab merokok penuh gaya: menggunakan pipa selama berlangsungnya Piala Dunia 1982 di Spanyol.

Nama-nama pelatih yang merokok aktif bakal banyak bermunculan bila Anda keluar dari Italia. Arsene Wenger, mantan pelatih Arsenal, ambil contoh, pernah menjadi perokok—walaupun tidak terlalu giat—sewaktu melatih AS Monaco pada awal 1990-an, demikian lapor Bleacher Report. Meski begitu, Wenger segera berhenti.

“Ketika saya jadi pemain, tidak ada yang akan memberitahu Anda bahwa Anda tidak boleh merokok. Sewaktu tim sedang pulang dari pertandingan, maka Anda harus membuka jendela [untuk menyediakan ruang bagi mereka yang merokok dalam bus], meski itu musim dingin,” ceritanya.

Bergeser ke Meksiko, terdapat nama Ricardo Lavolpe. Ia menjadi pusat perhatian dalam gelaran Piala Dunia 2006 di Jerman sebab merokok selama pertandingan pembuka, antara Meksiko melawan Iran, dan langsung kena semprot FIFA. Lavolpe bergeming. Baginya, merokok adalah soal prinsip yang tak bisa diotak-atik. Lagi pula, tambahnya, merokok tak “mempengaruhi keterampilan manajerialnya.” Namun, pada akhirnya, ia berhenti merokok dan lebih memilih makan donat.

Contoh pelatih dan perokok terbaik mungkin ada pada sosok Johan Cruyff, legenda Ajax, Barcelona, dan tim nasional Belanda. Sejak muda, ia sudah menjadi perokok aktif. Kebiasaan merokoknya, mengutip Vice, kerap dikaitkan dengan perlawanan atas kondisi sosial Belanda era 1960-an yang cenderung kaku, konservatif, dan menolak maju.

Di masa itu, rokok menjadi simbol kemewahan, kedewasaan, di samping pula lambang pemberontakan. Oleh publik, kebiasaan merokok Cruyff dikorelasikan dengan liberalisasi budaya, sebuah sikap anti-kemapanan yang lantas dianggap mengusik nilai-nilai konservatisme Protestan.

Cruyff seketika jadi tergantung pada dosis nikotin. Tak sekadar di Ajax, kebiasaan tersebut diteruskannya hingga ia menjadi pemain Barcelona. Yang bikin takjub, atau lebih tepatnya heran, rokok seperti sama sekali tak menurunkan performa Cruyff di lapangan. Ia masih dapat bermain dengan prima, mencetak gol, serta membawa banyak trofi ke lemari klub.

Pada 1991, ketika ia bekerja sebagai pelatih Barcelona, yang ditakutkan tiba: penyakit jantung menyerang tubuhnya, imbas dari kebiasaan merokok berat. Cruyff diharuskan menjalani banyak operasi. Dokter bilang kepadanya, jika ia tetap merokok, maka hidupnya di bumi akan semakin singkat. Cruyff pun berhenti dan bergabung dengan tim kampanye anti-rokok di Catalunya.

“Aku memiliki dua kecanduan dalam hidup: merokok dan bermain sepakbola. Sementara sepakbola telah memberiku segalanya, rokok hampir menghilangkan semuanya,” katanya.

Kata-kata Cruyff menjadi terasa emosional selepas kematiannya akibat kanker paru-paru pada 2016.




Jadi Musuh Bersama


Rokok dan dunia sepakbola sebetulnya punya ikatan kuat yang berkelindan sejak lama. Pada 1890-an, misalnya, di Inggris, bungkus rokok mulai menyertakan kartu dengan gambar pesepakbola lokal. Seturut waktu, banyak pesepakbola yang bergantian jadi model iklan rokok.

Bintang Everton, Dixie Dean, contohnya, mempromosikan Carreras Clubs, jenama rokok murah, pada warsa 1930-an. Aksi Dean disusul Stanley Matthews, dua dekade kemudian, saat yang bersangkutan didapuk jadi model rokok Craven A.

Mulanya, catat The Guardian, rokok hanya dijual untuk elite perkotaan, dengan harga yang cukup mahal. Namun, ketika industri tembakau—khususnya di AS—menemukan metode produksi massal, ditunjang pula dengan strategi pemasaran yang agresif, rokok dapat dinikmati siapa saja. Rokok tak lagi jadi barang mewah, bisa dihisap kelompok kelas menengah-bawah.

Ekspansi rokok, yang seolah tak dapat dibendung itu, tiba pula di lapangan hijau. Pada dekade 1970 hingga 1980-an, rokok menjalin kerjasama yang begitu masif dengan pelaku sepakbola. Perusahaan rokok asal Austria, Austria Tabak, misalnya, menggandeng klub lokal, Austria Wien, untuk berbisnis bersama. Logo produk mereka, Memphis, pun terpampang di seragam Austria Wien. Nama Austria Wien juga ikut berubah jadi “Austria Memphis.” Kerjasama ini berlangsung dari 1977 sampai 2004—sebelum undang-undang larangan rokok sebagai sponsor disahkan di Austria.

Daya jelajah rokok nyatanya tak terbatas pada seragam klub. Ajang Piala Dunia 1982 (Spanyol) dan 1986 (Meksiko) sempat didukung oleh rokok. Di Kolombia, terdapat Copa Mustang, kompetisi bola yang dibiayai rokok Mustang. Kehadiran Mustang, mengutip The Guardian, ibarat oase bagi sepakbola di sana setelah pada 1989 kompetisi sempat dihentikan akibat pembunuhan seorang wasit, dampak dari perang narkoba yang berkepanjangan.

Indonesia tak ketinggalan juga mengalami masa-masa rokok menjadi sponsor utama kompetisi. Bentoel, Kansas, Dunhill, hingga Djarum adalah nama-nama pabrikan yang pernah menopang kompetisi secara finansial. Kerjasama dengan perusahaan tersebut membikin semua klub harus menyertakan logo rokok di seragamnya.

Akan tetapi, semakin ke sini, resistensi terhadap rokok kian tumbuh kencang. Didukung banyaknya penelitian yang menyebut bahwa rokok punya keterkaitan kuat dengan kanker paru-paru, fakta bahwa rokok membunuh enam juta orang tiap tahunnya, serta keberhasilan Diane Castano menggugat industri tembakau setelah suaminya tewas pada 1994, seketika menjadikan rokok sebagai musuh bersama; tak terkecuali di dunia sepakbola.

Pada 2001, induk sepakbola dunia, FIFA, memutuskan untuk bergabung dengan WHO dalam kampanye anti-rokok. Titik mulanya adalah Piala Dunia 2002 yang diadakan di Korea Selatan dan Jepang. Implementasi dukungan terhadap kampanye anti-rokok bisa dilihat lewat kebijakan FIFA yang melarang tembakau masuk ke acara-acara FIFA. Rokok tak boleh jadi sponsor dan orang-orang yang ada di stadion pun juga tak boleh merokok.

Langkah FIFA kemudian disusul oleh UEFA, otoritas sepakbola tertinggi di Eropa. Bekerjasama dengan European Stadia Network, konsultan swasta, UEFA merancang ruang sepakbola yang bebas dari tembakau. Kebijakan ini diharapkan bisa diterapkan seluruh pemangku sepakbola di Eropa paling lambat pada 2020.

Dalam aturannya (PDF), larangan tembakau mencakup semua bagian stadion: dari tribun (tertutup dan terbuka), fasilitas media, sisi lapangan, pintu masuk, area makan, toilet, kamar ganti, sampai parkir. Lewat regulasi ini, UEFA hendak menciptakan kenyamanan dan zona bebas asap rokok di seluruh stadion di Eropa.

Zaman sudah berubah, begitu pula dengan pandangan rokok. Bila di masa lampau rokok adalah hal yang lumrah di dunia sepakbola, sekarang rokok dipandang sebagai sesuatu yang tabu, terlarang, dan sudah semestinya disingkirkan. Singkatnya, tak ada ruang untuk rokok di lapangan hijau.

Tapi, kalau cuma satu-dua batang sebagaimana yang dilakukan Sarri sesaat selepas menang Liga Eropa tidak masalah, bukan?

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA EROPA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight