Ivan Aulia Ahsan
Belajar Sejarah di Universitas Indonesia; mengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta

Ramalan Bahaya Kuning & Tuduhan Rasis kepada Konferensi Asia-Afrika

28 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sebulan menjelang penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada April 1955, Sefton Delmer, redaktur harian konservatif Inggris Daily Express, menulis:

“Mereka mengadakan pertemuan di Bandung, kota perbukitan di Indonesia yang bermandikan sinar matahari, bulan depan. Ini adalah sebuah jambore politik, tempat berkumpulnya negara-negara Asia dan Afrika antikolonial. Sayang sekali bahwa dalam hal ini Presiden Sukarno dan pemerintah Indonesia sangat eksklusif dan membeda-bedakan warna kulit.”

Delmer bukan wartawan sembarangan. Saat Perang Dunia II berkecamuk, ia kondang di seantero ranah Britania sebagai pembawa acara berita-berita Jerman di BBC. Ia sendiri seorang keturunan Australia yang lahir di Jerman, dan pindah ke Inggris saat berumur 13 tahun. Dituduh agen ganda menjelang perang, Delmer memilih bersetia sebagai kawula Raja George VI dengan menjadi juru propaganda pemerintah dalam menghadapi perang urat syaraf melawan para agitator Hitler.

Barangkali ia memang seorang agen. Dan sebagaimana galibnya orang yang pernah terlibat dalam dunia intelijen, analisis dan jejaring informasi yang dimiliki biasanya berlevel A1. Mungkin karena itulah Daily Express mengangkatnya sebagai kepala biro luar negeri seusai perang. Ulasan-ulasan Delmer kemudian menjadi rujukan utama publik Inggris dalam melihat peristiwa-peristiwa mancanegara.

Ketakutan Bangkitnya Yellow Peril

Komentar Delmer memang mewakili suara kaum konservatif yang dominan di Barat pada zaman itu. Suara yang sesungguhnya dari kegelisahan pascaperang ketika hampir seluruh Eropa baru saja porak-poranda dihantam Perang Dunia II. Di tengah kegelisahan itu, situasi internasional masih terus bergolak: Perang Dingin makin menghangat, gerakan antikolonialisme bergemuruh di negara-negara Asia-Afrika, dan hubungan antar-ras kembali menjadi topik pembicaraan di mana-mana.

Ketiganya saling berhubungan sebagai dampak Perang Dunia II. Akibatnya, mereka seperti dibangunkan lagi oleh nubuat rasialis dari Kaisar Jerman Wilhelm II pada 1895 tentang yellow peril—bahaya kuning’ atau persisnya ketakutan akan bangkitnya orang-orang kulit kuning (Asia) untuk melawan bangsa kulit putih. Hari ini wujud dari yellow peril tampak dalam pelbagai pembicaraan tentang nuklir Korea Utara dan ekonomi Cina.

Di mata sebagian besar kalangan di Barat, penyelenggaraan KAA dianggap sebagai salah satu pertanda kembalinya sentimen rasialisme itu. Pemicunya adalah negara-negara pemrakarsa konferensi tidak mengundang satu pun perwakilan negara Barat—bahkan sekadar untuk menjadi peninjau—dan dianggap menutup diri karena diperuntukkan bagi kalangan Asia-Afrika saja. Membangkitkan lagi dikotomi kulit putih-kulit berwarna dalam sebuah forum internasional mudah saja memantik berbagai kecurigaan rasial.

Zaman itu memang kental dengan perasaan saling curiga yang makin dalam antara kulit putih dan kulit berwarna. Dekolonisasi pasca Perang Dunia II, yang ditandai berdirinya puluhan negara baru di Asia-Afrika, menumbuhkan kesadaran di antara rakyat tanah jajahan bahwa superioritas kulit putih ternyata mitos belaka.

Hal itu membangkitkan kepercayaan diri kulit berwarna dalam berhubungan dengan kulit putih. Tapi di sisi lain, ia juga menimbulkan prasangka rasial yang laten di kedua belah pihak: bagi kulit berwarna berupa kebencian terhadap bekas penjajah, bagi kulit putih dalam bentuk kekhawatiran berlebihan terhadap bangkitnya negara-negara Asia-Afrika.

Karena itu, berkumpulnya negara-negara “Dunia Ketiga” menyita perhatian khusus negara-negara Barat. Suatu ancaman baru telah datang dalam bentuk gerakan kolektif Asia-Afrika. Bagaimanapun, sebagai pihak yang merasakan manisnya kolonialisme selama ratusan tahun, Barat tidak begitu saja rela melepaskan dominasinya di tanah jajahan. Jika negara-negara baru tersebut menemukan titik kebangkitan, mereka mengkhawatirkan runtuhnya dominasi itu dalam waktu singkat dan nubuat yellow peril benar-benar terjadi.

Keadaan makin rumit ketika isu Blok Barat versus Blok Timur juga ikut terlibat dalam hal ini. Sebagian besar peserta KAA sebenarnya netral dalam konteks Perang Dingin, tapi kecurigaan Barat terhadap negara-negara Asia-Afrika yang dianggap sangat potensial terjangkiti “virus” komunisme membuat permasalahan semakin keruh. Apalagi ketika negara-negara pemrakarsa juga mengundang Cina sebagai salah satu peserta.

Demikianlah, di tengah situasi politik internasional yang dipenuhi kegelisahan, prasangka, dan rasa saling curiga, The Bandung Conference digelar. Keadaan ini secara umum membentuk imajinasi negara-negara Barat dalam melihat fenomena kebangkitan negara-negara Asia-Afrika dan secara khusus memengaruhi cara pandang mereka terhadap KAA.

Dalam bayangan mereka, negara-negara Asia-Afrika seperti hendak mengadakan pemufakatan jahat di Kota Bandung: mengadakan persekutuan kulit berwarna, membentuk pakta baru di luar bipolarisasi Perang Dingin, bekerjasama secara diam-diam dengan kaum komunis, kemudian bersatu melawan negara-negara Barat.

Inisiatif Hari Ini

Dunia berubah dengan begitu cepat sejak KAA digelar. Tantangan yang dihadapi negara-negara Asia-Afrika kini jauh lebih kompleks dibanding enam dasawarsa lalu. Begitu pula tantangan yang dihadapi negara-negara Barat menyusul kebangkitan ekonomi “Dunia Ketiga”.

Sementara itu, prasangka di antara Barat dan negara-negara Asia-Afrika masih terasa sampai hari ini dalam bentuk yang berbeda dibanding dekade 1950-an. Namun, bukan berarti akan terus menghalangi terbentuknya hubungan yang lebih harmonis di antara keduanya.

Ketika negara-negara Asia-Afrika menjelma kekuatan ekonomi, mereka sebenarnya tak berada dalam posisi menguntungkan untuk mengambil alih kepemimpinan global. Memang ada skenario tentang menurunnya kekuatan Barat sebagai pusat ekonomi ketika dunia sudah semakin mengarah kepada multipolarisasi, sementara perekonomian negara-negara Asia-Afrika terus menguat. Tapi dalam periode itu, Barat tetap menjadi entitas paling berkuasa secara politik. Karena itulah jalan kolaborasi, atau paling tidak toleransi, di antara keduanya adalah pilihan yang paling mungkin diambil.

Para pemimpin negara-negara Asia-Afrika mesti mengambil langkah bijaksana dengan tetap menyadari bahwa pertaruhan paling besar jika keduanya terus berada dalam situasi permusuhan adalah kesejahteraan masyarakat dan keamanan global. India dan Indonesia (dua negara pemrakarsa KAA), dan juga Cina, dengan segala sumber daya sosial-ekonomi yang dimiliki, bisa mengambil lagi peran utama sebagai penggerak negara-negara Asia-Afrika sebagaimana yang mereka lakukan enam dekade lalu—alih-alih sibuk mereproduksi ‘bahaya kuning’.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.