Piala AFC 2019

PSM Main Tak Efektif, Namun Tertolong Kualitas Buruk Lao Toyota FC

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Penampilan PSM sebenarnya tidak maksimal, tapi mereka tetap bisa pesta gol lantaran tim tamu, Lao Toyota FC bermain lebih awut-awutan.
tirto.id - 10 gol tercipta dalam pertandingan Piala AFC yang mempertemukan PSM Makassar vs Lao Toyota FC di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu (13/3/2019). PSM Makassar keluar sebagai pemenang dengan skor 7-3. Wiljan Pluim dan Eero Markkanen mencetak brace, sementara tiga gol lain disumbang Zulham Zamrun, Ferdinand Sinaga, dan Marc Klok.

Kemenangan ini memperbaiki posisi PSM di klasemen sementara Grup H. Mengemas empat poin, Rivky Mokodompit dan kawan-kawan ada di urutan kedua dan hanya terpaut selisih gol dari pemuncak klasemen, Kaya FC.

Sepintas, jika hanya melihat skor, kemenangan Juku Eja terasa heroik. Namun, jika statistik lain masuk pertimbangan, maka mudah untuk memahami betapa PSM Makassar tampil tak sepenuhnya istimewa.

Skuat asuhan Darije Kalezic menciptakan total 32 tembakan di pertandingan itu. Angka ini menunjukkan betapa buruknya efektivitas atau kualitas serangan mereka.

Tampil dengan formasi 4-2-3-1, lini tengah PSM sebenarnya bermain bagus. Mereka unggul dalam penguasaan bola serta jumlah maupun akurasi umpan. Marc Klok yang jadi metronom di lini tengah menjalankan tugas dengan baik. Saking optimalnya sumbangsih pemain asal Belanda itu, satu gelandang bertahan lain, Wiljan Pluim sampai punya keleluasaan naik lebih tinggi guna membantu serangan. Bahkan Pluim sampai mencetak dua gol.

Sayang, ketika bola sudah sampai kotak penalti, acap kali Eero Markkanen, Zulham Zamrun, bahkan pemain cadangan Ferdinand Sinaga tak memaksimalkan momentum dengan baik.

Maarkanen misal. Kendati mencetak dua gol, sebelum mencatatkan namanya di papan skor pemain yang pernah merumput untuk Real Madrid Castilla itu sempat empat kali membuang peluang besar di mulut gawang (big chances). Zulham Zamrun, meski mencetak satu gol, tercatat membuang tiga peluang saat sedang berhadapan satu lawan satu dengan kiper.

Dalam keterangan setelah pertandingan, pelatih Darije Kalezic pun mengakui kurangnya kualitas lini depan PSM.

"Kami mencetak banyak gol, tapi kami juga gagal mencetak banyak gol," ujar Kalezic kepada reporter Tirto.

Ketika ditanyai soal alasan timnya tidak mampu efektif, Kalezic merasa para pemain tampil nervous.

"Kami memulai pertandingan dengan tidak percaya diri, baru setelah 15 sampai 20 menit tim bermain seperti yang saya inginkan," tuturnya.

Perkataan juru taktik yang pernah memimpin PSV U-21 itu memang benar. Selama 20 menit awal, penampilan PSM kurang terlihat seperti tim yang kompak. Beberapa kali kesalahan dilakukan sendiri, termasuk renggangnya pertahanan yang membuat Lao Toyota FC bisa mencuri satu gol lewat aksi Kazuo Honma di menit 14.

Selain di lini depan, Kalezic juga menyoroti kalau pemain-pemain belakangnya tampil angin-anginan di awal dan penghujung laga. Selama 20 menit terakhir, barisan bek Juku Eja lengah dan imbasnya bisa ditebak, PSM kebobolan lagi pada menit 76 dan 90.

Kurangnya marking ketat dan ketidakmampuan pemain tuan rumah menutup ruang tembak lawan berimbas gol kedua Kazuo Honma serta gol penutup tim tamu yang dicetak Rafael de Sa Rodrigues.


Lawan Awut-Awutan


Pada pertandingan itu PSM beruntung. Kendati kendor di awal dan akhir, mereka tetap bisa menggempur pertahanan lawan habis-habisan. Situasi ini tidak lepas dari kualitas permainan tim tamu yang jauh lebih buruk.

Lao Toyota FC nyaris tidak pernah memainkan bola dengan baik. Tampil dengan skema 4-1-4-1, klub ini sebenarnya punya keleluasaan menekan lewat serangan balik di tepi lapangan. Apalagi, formasi PSM kerap berantakan saat transisi dari menyerang ke bertahan.

Entah kenapa, hal itu justru tidak dilakukan. Alih-alih menekan lewat kedua sisi sayap, Lao Toyota FC lebih banyak menyerang langsung dengan umpan-umpan terobosan. Padahal, formasi dan kualitas pemain mereka tidak sesuai dengan pendekatan itu.

Lao Toyota FC juga terlihat kerap berantakan dalam mengatur penempatan posisi. Berulang kali jarak antara lini belakang dan tengah terlalu jauh. Soma Otani dan Manolom Phetphakdy, dua gelandang mereka yang harusnya turun menjemput bola dari Victor Amaro justru kerap maju terlalu cepat. Akibatnya, muncul ruang kosong yang dieksploitasi dengan optimal oleh gelandang-gelandang tuan rumah.

Ironisnya, karena saat konferensi pers, pelatih tim tamu, Fukuda justru tidak tahu menahu soal buruknya kualitas timnya serta mengapa formasinya tak berjalan dengan lancar.

"Saya tidak tahu mengapa tim saya bermain buruk. Saya kira kami harus menganalisisnya dulu dengan melihat video pertandingan agar tidak salah menyimpulkan," tandasnya.

Jika kelemahan sendiri saja tidak tahu, wajar belaka kalau klub asal Laos itu hingga kini belum mendulang satu poin pun di Piala AFC 2019.


Baca juga artikel terkait PIALA AFC 2019 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz