Profil Imran Khan: Eks PM Pakistan, Ditembak Saat Demo

Kontributor: Beni Jo, tirto.id - 7 Nov 2022 12:34 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Profil Imran Khan, eks PM Pakistan yang ditembak saat berdemo. Berikut perjalanan kariernya.
tirto.id - Imran Khan, eks PM (Perdana Menteri) Pakistan ditembak saat memimpin demo menentang pemerintah pada Kamis, 3 November 2022 waktu setempat. Namun, insiden tersebut tidak membuatnya berhenti untuk kembali menggelar aksi.

Tembakan itu mengenai kaki kanan Imran Khan ketika menggelar aksi bersama para pendukungnya. Belum ada kepastian terkait berapa jumlah peluru yang bersarang di kakinya. Akan tetapi, 1 orang dilaporkan tewas dan 10 lainnya terluka akibat kejadian tersebut.

Media lokal menyebutkan, Imran sudah meninggalkan rumah sakit, tepatnya 3 hari pasca-kejadian penembakan, dan bersiap melanjutkan kembali aksinya beberapa hari ke depan.


Profil Imran Khan: Eks PM Pakistan & Mantan Pemain Kriket

Imran Khan merupakan seorang politikus senior Pakistan berusia 70 tahun ini. Pria kelahiran Lahore, 5 Oktober 1952 ini sudah sangat familier sebelum terjun di dunia politik. Sebab, dia adalah mantan pemain olahraga kriket.

Dikutip dari Britannica, semasa muda, Imran Khan sudah terbiasa dengan didikan bergaya barat. Ia pernah mengenyam pendidikan di Royal Grammar School di Worcester serta Aitchison College di Lahore. Selain itu, ia juga sempat belajar di University of Oxford, mempelajari bidang politik, ekonomi, dan filsafat.

Di usia sekolah, Imran mulai mengenal kriket. Bahkan, ia sempat membela tim kriket Pakistan serta Inggris ketika masih berumur belasan tahun, sebelum memutuskan untuk memperkuat Timnas Pakistan pertama kalinya tahun 1971.

Prestasi Imran Khan bersama Timnas Pakistan mulai melejit pada tahun 1992. Ia membawa negara Asia Selatan ini meraih gelar Piala Dunia Kriket usai menumbangkan Inggris di final.

Raihan gemilang tersebut turut melambungkan nama Imran Khan sebagai salah satu pahlawan kriket Pakistan.

Pemilu Pakistan
Politisi Pakistan Imran Khan, ketua Partai Tehreek-e-Insaf, berbicara kepada media setelah memberikan suaranya di sebuah tempat pemungutan suara untuk pemilihan parlemen di Islamabad, Pakistan, Rabu, 25 Juli 2018. AP Photo / Anjum Naveed


Terjun ke Politik dan Jadi Perdana Menteri Pakistan

Usai mundur dari dunia kriket, Imran Khan menggeluti politik. Ia berani tampil di publik, mengkritik kebijakan pemerintah, serta menyayangkan tingginya kasus korupsi.

Tidak berhenti di situ, pemilik nama lengkap Imran Ahmad Khan Niazi ini mendirikan partai politik baru bernama Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) pada tahun 1996.

Partai pimpinan Imran Khan mulai mendapatkan kepercayaan publik ketika lolos pada pemilu 2002 dan turut mengantarkannya masuk ke National Assembly (Parlemen Pakistan).

Akan tetapi, Khan pernah menggelar aksi yang cukup menggegerkan publik. Tahun 2007, ia bersama sejumlah koleganya mengundurkan diri dari keanggotaan National Assembly, demi memprotes kebijakan Pervez Musharraf yang akan maju lagi dalam pencalonan presiden Pakistan.

Di sinilah awal mula dimulainya "perang terbuka" antara PTI pimpinan Imran Khan dengan Presiden Pervez Musharraf yang sedang berkuasa. Bahkan, PTI pernah memboikot pemilu 2008 sebagai wujud aksi protes nyata terhadap rezim Musharraf.

Pada pemilu tahun 2018, PTI akhirnya memenangkan mayoritas kursi di National Assembly. Artinya, capaian tersebut turut mengantarkan Imran Khan sebagai perdana menteri baru dengan menggandeng sejumlah koalisi independen.

Sejak diangkat sebagai perdana menteri baru pada 18 Agustus 2018, ia mulai mendapatkan tekanan dari pihak oposisi, salah satunya ialah PDM (People’s Democratic Movement).

Aksi protes dan demo dilakukan PDM dan meminta Khan untuk mengundurkan diri. Pemungutan suara akhirnya dilakukan pada 10 April 2022 dan menghasilkan keputusan berupa Imran Khan wajib lengser. Ia tercatat sebagai PM Pakistan pertama yang turun dari jabatan dengan mosi tidak tercaya.

Di bawah kekuasaan pemerintah yang baru, situasi Pakistan dianggap tidak berjalan semakin membaik. Situasi ini dimanfaatkan Imran Khan untuk menggelar aksi unjuk rasa melawan pemerintah.

Namun, ia justru mendapat serangan balik. Pidatonya dinilai bermasalah pada Agustus 2022 setelah berurusan dengan pihak polisi dan hakim. Pada bulan Oktober ini, Khan juga dilarang menerima jabatan publik karena tuduhan korupsi.

Kejadian paling tragis dialaminya pada 3 November 2022. Waktu itu, Imran Khan dan pendukungnya harus menjadi sasaran tembakan atas percobaan pembunuhan. Imran mengalami luka di bagian kaki.

"Pemerintah takut dengan popularitas Imran Khan yang semakin meningkat. Kami tidak akan berhenti melakukan aksi untuk menuntut pemilihan awal. Aksi protes ini tidak boleh berhenti," kata Farooq Ahmed, saksi mata sekaligus pendukung Imran Khan, seperti dilaporkan laman DW (Deutsche Welle).


Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan menarik lainnya Beni Jo


Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Alexander Haryanto

DarkLight