Pose Gigit Medali Atlet: Awalnya untuk Menguji Keaslian Emas

Infografik Pose gigit medali
Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Marcus F Gideon dan Kevin Sanjaya menggigit medali emas, usai upacara penyerahan medali bulu tangkis ganda putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8/2018). ANTARA FOTO/INASGOC/Puspa Perwitasari
Oleh: Faisal Irfani - 1 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ekspos media membuat gigit medali jadi tradisi. Namun, jauh sebelum itu, para pedagang emas di California menggigit emas untuk memastikan keaslian logam mulia.
tirto.id - Keringat bercucuran, bendera nasional terkerek, lagu kebangsaan dikumandangkan, penonton bersorak-sorai. Sejurus kemudian, lampu blitz kamera menyerbu. Sang juara pendulang emas terlihat berdiri di panggung sambil menggigit medali.

Pemandangan ini lazim terlihat pada peristiwa olahraga, termasuk Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang.

Gaya gigit medali tak bisa dipisahkan dari kedudukan emas sebagai hadiah puncak bagi para atlet yang menang Olimpiade. Pada 1896, ketika Olimpiade pertama di era modern digelar di Athena, para pemenang tidak diberi emas. Mereka diganjar mahkota zaitun dan medali perak. James B. Connolly, atlet dari Massachusetts, adalah juara Olimpiade modern pertama yang mendapat penghargaan itu.

Hadiah untuk juara berubah sejak Olimpiade 1904 yang diselenggarakan di St. Louis. Di ajang ini, para atlet berhak mendapatkan medali emas, perak, dan perunggu untuk kompensasi juara urutan pertama, kedua, dan ketiga. Medali-medali tersebut ditempelkan di dada atlet dengan pita berwarna dan beberapa pin perekat. Baru pada 1960, bertepatan dengan Olimpiade Roma, medali dikalungkan di leher sang juara.

Seiring waktu, cara atlet merayakan kemenangan di Olimpiade turut berubah. Di sinilah pose gigit medali mulai tampil di foto-foto. Menurut David Wallechinsky, orang nomor satu di International Society of Olympic Historians, gaya gigit medali lahir kemungkinan besar disebabkan oleh hasrat media yang menginginkan pose juara yang lebih ikonik.


“[Gigit medali] ada kaitannya dengan obsesi para fotografer,” kata Wallechinsky yang juga penulis The Complete Book of the Olympics (1984) seperti dilansir CNN. “Aku rasa fotografer melihatnya sebagai sebuah jepretan yang ikonik, sesuatu yang mungkin bisa Anda jual. Menurutku, itu tidak muncul dari inisiatif atlet sendiri.”

Sulit menemukan acuan terpercaya soal siapa yang pertama kali mempromosikan gaya gigit medali. Namun, yang pasti, pose itu semakin populer setelah atlet-atlet seperti Michael Phelps hingga Usain Bolt beramai-ramai mempraktikkannya di perhelatan Olimpiade London 2012.

Dari Olimpiade, pose gigit medali akhirnya menjalar ke mana-mana.

Kendati sudah jadi fenomena, selebrasi ini tak bisa mengalahkan gaya berdiri di atas podium ala pelari kulit hitam asal Amerika Serikat Jesse Owens pada Olimpiade 1936. Dalam perhelatan itu, Owens berhasil memperoleh empat medali emas dalam kategori lari 100m, 200m, 4x100m, dan lompat jauh. Ia juga sukses memecahkan dan menyamai sembilan rekor Olimpiade, serta membikin tiga rekor baru dunia yang salah satunya tercatat di nomor estafet 4x100m.

Kemenangan Owens jadi istimewa karena mampu membungkam sesumbar Hitler yang yakin bahwa Olimpiade 1936 bakal menunjukkan 'keunggulan ras Arya.' Dalam seremoni pemberian medali, Owens hanya berdiri tegap seakan tengah memblejeti omong kosong rasis milik Nazi Jerman.

Tanpa gigit medali, tentunya.

Bukan Emas Betulan

Ada sebuah preseden historis yang bisa ditarik dari fenomena gigit medali. Olympic Channel mengungkapkan gaya gigit medali ini serupa dengan yang dilakukan para pedagang California di era Gold Rush (1848-1955). Kala itu, para pedagang emas acapkali menggigit koin untuk memastikan keaslian kandungan emas.

“Secara historis, emas dicampur dengan logam keras lainnya untuk membuatnya lebih sulit [ditakar kemurniannya]. Jadi, saat pedagang menggigit koin dan meninggalkan bekas gigi, mereka langsung tahu bahwa itu [emas] palsu,” terang Olympic Channel.



Era Gold Rush sendiri merujuk pada penemuan emas di Sutter’s Mill, dekat California, pada 1848 yang mendorong migrasi besar-besaran dalam sejarah Amerika Serikat. Sebagian penduduk yang memadati Pantai Timur, kini mulai melirik kawasan Pantai Barat yang sebelumnya sekadar dianggap daerah jin buang anak. Jarak antara Pantai Timur dan Barat, kira-kira setara dengan jarak Sabang sampai Merauke di Indonesia.

Janji kekayaan yang ditawarkan penemuan emas tersebut lantas mengubah harapan hidup ratusan ribu orang yang membanjiri California pada 1849 dan beberapa dekade berikutnya. Penemuan emas juga menggenjot proses industrialisasi modern AS dan melahirkan jalur kereta api lintas negara bagian.


Tradisi gigit emas hari ini tentu bukan untuk memastikan keaslian logam mulia. Pasalnya, sebagaimana diwartakan ABC News, hanya 1,34% emas terkandung dalam medali emas Olimpiade. Sisanya terdiri dari bahan baku perak. Sejak 1912, medali emas Olimpiade tidak dibuat dari emas murni.

Beberapa juara menjual medali emasnya. Lagi-lagi contohnya adalah Jesse Owens. Sebagaimana dilaporkan ESPN, pada 2013, satu dari empat medali emas yang berhasil ia dapatkan di Olimpiade Berlin 1936, terjual seharga $1,47 juta dalam sebuah acara lelang. Faktor historis mungkin lebih berperan di situ, karena medali emas tersebut jadi simbol perjuangan anti-fasis di tengah lapangan olahraga yang tengah ditunggangi sebagai sarana propaganda fasis.

Namun, para penerima medali emas tak perlu berkecil hati. Pemerintah biasanya menyiapkan bonus tambahan untuk para juara. Komite Olimpiade AS, misalnya, menyediakan $25.000 bagi para atlet yang mampu menyabet emas Olimpiade, Kazakhstan mengucurkan bonus sebesar $250.000 bagi masing-masing peraih medali emas, dan Malaysia menyodorkan emas batangan bagi atlet yang memperoleh medali emas Olimpiade.

Para atlet Indonesia di Asian Games juga tak perlu khawatir. Pemerintah dipastikan bakal memberi bonus kepada para peraih medali. Untuk peraih medali emas perorangan akan mendapatkan bonus Rp1,5 miliar, perak Rp500 juta, dan peraih medali perunggu Rp250 juta.

Sifat medali emas memang sekadar simbolik. Pintu-pintu rezeki yang dibukanya lebih istimewa.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight