Pilpres 2019 dan Saat Orang Tak Sepaham dalam Diskusi Politik

Oleh: Artika Sari - 19 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Pemilu 2019 kian dekat, politik akan terus jadi salah satu topik yang sering didiskusikan dalam forum atau dengan orang terdekat.
tirto.id - “Bukan finansial dan bukan nepotisme, oleh sebab itu untuk pejabat-pejabat birokrasi, rekrutmen harus dilakukan transparan, sederhana, dengan standar-standar yang jelas.”

Dalam debat perdana Pilpres 2019, Joko Widodo dinilai tak memberikan jawaban yang berkorelasi ketika menghadapi pertanyaan Ira Koesno terkait solusi untuk biaya politik yang mahal. Kesalahan ini tak hanya dilakukan Jokowi, tapi juga Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Paslon nomor dua tersebut sempat beberapa kali melempar pernyataan yang tak sesuai data. Kekurangan masing-masing kandidat ini kemudian menjadi amunisi bagi para pendukungnya untuk saling menyerang.

Mengingat Pemilu 2019 kian dekat, politik akan terus menjadi salah satu topik yang sering didiskusikan dalam forum atau dengan orang terdekat. Dalam membahas topik ini, perbedaan pandangan tidak jarang menjadi salah satu penyebab rusaknya hubungan pertemanan dan keluarga. Lantaran politik dianggap berimbas besar dalam kehidupan sehari-hari, orang lantas tertarik mendiskusikannya dengan orang terdekat. Sayang, diskusi ini tidak jarang justru berbuah debat dan melukai masing-masing pihak.


Susan Adcox menjadi salah satu orangtua yang memilih berpikiran terbuka saat mendiskusikan politik bersama cucu-cucunya. Dirinya menganggap setiap pilihan tentulah memiliki alasan dan alasan tersebut patut didengarkan. Jika ketulusan untuk mendengarkan sudah diterapkan, alasan lawan bicara bisa membuat seseorang memikirkan ulang pilihannya dengan bijak.

Cara penyampaian pendapat juga berpengaruh terhadap jalannya diskusi. Penulis "Stories from My Grandparent: An Heirloom Journal for Your Grandchild" ini mengatakan, dengan menyisipkan humor, diskusi politik yang cenderung tak menyenangkan bisa dihindari. Selain humor, Adcox juga memberi saran bahwa masing-masing pihak harus mengontrol nada suara dan bahasa tubuh.

“Daripada mengakhiri pembicaraan dengan kalimat ‘Kita hanya sepakat untuk tidak sepakat’, akan lebih baik bagi Anda untuk mengatakan, ‘Kamu sudah membuat saya mempertimbangkan suatu hal. Mari bicarakan hal lain dan kita diskusikan ini lagi lain kali’. Kalimat pertama bisa menyakiti lawan bicara Anda karena membuatnya merasa Anda tak memberinya kesempatan,” jelas Adcox.


Joshua Klapow sepakat dengan Adcox. Psikolog klinis dari University of Alabama at Birmingham ini mengatakan, rasa hormat sudah seharusnya menjadi pondasi utama dalam diskusi.

“Anda tak bisa menilai pasangan Anda dari partai politik yang dia pilih sampai Anda tahu bagaimana dirinya menyingkapi setiap isu. Dia bisa saja penganut konservatif secara sosial, namun mendukung kesetaraan terhadap LGBTQIA,” jelas Klapow.

Kendati demikian, survei dari Yale University dan Stanford University mengungkapkan, pandangan politik berpengaruh besar bagi seseorang dalam memilih pasangan. Dari seribu partisipan yang terlibat, para peneliti menemukan kecenderungan bahwa orang lebih mudah tertarik pada mereka yang satu pandangan dengannya.

Para peneliti kemudian mencoba mengambil sampel dari sebuah situs kencan. Hasilnya, 10 persen laki-laki dan perempuan bersedia melanjutkan hubungan setelah menemukan kesamaan dalam pandangan politik.

Kecenderungan ini juga mengungkapkan bahwa orang cenderung tidak toleran dan tidak berempati pada mereka yang berbeda pandangan. Kesamaan dalam pandangan politik kini dinilai sama pentingnya dengan kesamaan dalam jenjang pendidikan.

Klapow menambahkan, “Anda bisa saja menyayangi seseorang sekaligus tidak sepakat dengannya. Yang jadi pertanyaan adalah seberapa besar imbas dari ketidaksepakatan itu pada hidup Anda. Yang jelas, voting untuk politik tidaklah mendefinisikan rasa sayang Anda."


Baca juga artikel terkait DEBAT CAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Artika Sari
(tirto.id - Politik)


Penulis: Artika Sari
Editor: Ibnu Azis
Kontributor: Artika Sari