Menuju konten utama

Pilkada Serentak 2018 Diprediksi Ikut Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Standard Chartered Bank Indonesia menilai penyelenggaraan Pilkada serentak pada 2018 justru akan berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi.

Pilkada Serentak 2018 Diprediksi Ikut Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Petugas mengisi data pada stiker bukti pelaksanaan pencocokan dan penelitian (coklit) daftar pemilih Pilkada Serentak 2018 di salah satu rumah warga di Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (20/1/2018). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko.

tirto.id - Standard Chartered Bank Indonesia optimistis Pilkada Serentak 2018 akan ikut memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra memperkirakan kontribusi Pilkada Serentak terhadap pertumbuhan pada 2018 muncul melalui adanya kenaikan konsumsi dari Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNRT) sebesar 0,02 persen. Angka tersebut diperhitungkan berdasar catatan terhadap dampak Pilkada 2015 dan 2017.

"Jadi kalau pertumbuhan ekonomi 5,1 persen, menjadi 5,12 persen. Ada pengaruh, tapi memang relatif terbatas," sebut Aldian dalam acara outlook ekonomi di Jakarta pada Senin (22/1/2018).

Tahun ini, pilkada serentak akan digelar di 171 daerah. Pilkada serentak 2018 juga tercatat akan melibatkan lebih dari setengah pemilih terdaftar dari pemilihan umum 2014 lalu.

Aldian juga menilai resiko penurunan investasi akibat Pilkada 2018 hanya berpotensi kecil. Ia melihat secara historikal, baik Pemilu dan Pilkada dapat berjalan lancar, tanpa memberikan kejutan penurunan pada ekonomi.

Aldian justru optimistis investasi pada tahun ini mengalami pertumbuhan lebih baik dengan terus didorongnya pihak swasta berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur, selain BUMN. Dia juga menilai pemerintah telah berupaya keras menjaga stabilitas inflasi dan mengerek daya beli masyarakat melalui alokasi belanja bantuan sosial.

"Malah kalau kita lihat tahun ini agak beda karena tahun berikutnya, 2019 Pemilu, jadi pemerintah akan all out dorong reformasi ekonomi di 2018," ujarnya.

Menurut Aldian, pemerintah kemungkinan besar juga akan terus memperbanyak kebijakan populis menjelang pemilu 2019. Indikasi ini sudah terlihat pada tingginya angka belanja bantuan sosial ataupun subsidi di APBN 2018.

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo juga mengatakan Pilkada 2018 akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama dengan adanya belanja partai politik. "Orang bikin kaos, orang buat kampanye, sektor-sektor kecil itu ada pertumbuhan yang bagus. Harusnya begitu," ujarnya di Bank Indonesia, Jakarta pada hari ini.

Menurut dia, Pilkada Serentak selama ini memiliki kecenderungan berbiaya besar. Meski dari segi penyelenggaraan politik elektoral hal ini tidak efisien, Tjahjo menilai dampaknya bisa positif ke ekonomi daerah.

"Pilkada serentak itu justru yang kami tangkap tidak efisien (anggarannya), semakin tinggi biayanya dibandingkan Pilkada satuan. Dengan Pilkada serentak harusnya (biaya) semakin kecil, tetapi enggak. Malah semakin besar biayanya, jadi harusnya semakin tumbuh (ekonomi daerah)," kata Tjahjo.

Baca juga artikel terkait PILKADA SERENTAK 2018 atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Addi M Idhom