Phubbing atau Mabuk Gawai Bisa Merusak Hubungan Asmara Anda

Oleh: Widia Primastika - 8 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Hati-hati. Pasangan Anda mungkin merasa tidak dihargai karena Anda sibuk dengan smartphone.
tirto.id - Kemajuan teknologi telah memperlancar akses manusia ke berbagai macam informasi. Namun, kemudahan yang ada juga bisa merusak relasi antarmanusia, termasuk dalam hubungan asmara.

Fransisca (32 tahun) harus menyaksikan hubungannya kandas karena gawai.

“Mantanku itu hobinya mantengin HP. Bahkan kalau lagi jalan sama aku, dia nggak pernah bisa lepas dari HP-nya,” ujar Fransisca.

Fransisca pun sudah berulang kali mengatakan terganggu oleh kebiasaan sang mantan. Tapi protesnya tak pernah dihiraukan. Sang mantan kadang justru balik memarahinya.


“Dia bilang kalau aku sukanya cari perhatian, egois. Padahal dia yang nggak menghargai keberadaanku karena asik sama HP-nya. Kalau diajak ngobrol nggak pernah nyambung,” ungkap Fransisca.

Hal lain yang kerap membuat darah Fransisca mendidih adalah sang mantan yang kerap melupakan curhatan-curhatan yang telah ia sampaikan. Padahal menurutnya, saling mendengarkan adalah salah satu tujuan berpacaran.

Fenomena sosial yang dialami oleh mantan kekasih Fransisca itu biasa disebut phubbing atau mabuk gawai, sebuah kecenderungan seseorang untuk selalu melihat ponsel kala berada di depan orang lain.

Pengalaman yang dialami Fransisca barangkali juga pernah terjadi dalam relasi sosial Anda. Fenomena ini bahkan telah dipelajari oleh para peneliti dari beberapa kampus di Cina. Salah satunya berjudul “Partner phubbing and depression among marries Chinese adults: The roles of relationship satisfaction and relationship length” (2017, PDF).

Studi yang dilakukan Xingchao Wang bersama empat koleganya dan melibatkan 243 orang dewasa yang telah menikah (156 di antaranya perempuan) menyatakan phubbing bisa merusak kepuasan dalam hubungan, serta meningkatkan risiko depresi. Artinya, seorang individu cenderung tak puas setelah diabaikan pasangannya yang sibuk dengan gawai.

Penelitian yang sama juga mengatakan ketidakpuasan hubungan biasanya muncul pada pasangan yang telah menjalani pernikahan selama lebih dari tujuh tahun.

Tahun 2016 lalu, James A. Roberts, seorang profesor marketing dari Baylor University, menerbitkan sebuah artikel di The Conversation berjudul “She phubbs me, she phubbs me not: Smartphones could be ruining your love life”. Di sana Roberts menyatakan bahwa faktor perenggang hubungan tak hanya ekonomi, seks, dan anak, tapi juga telepon pintar.


Berdasarkan riset berjudul “Technoference: The Interference of Technology in Couple Relationships and Implications for Women’s Personal and Relational Well-Being” (2014, PDF) yang dilakukan oleh Brandon T. McDaniel dan Sarah Coyne, diperoleh hasil bahwa 70% responden menganggap bahwa komputer, smartphone, dan televisi telah mengganggu hubungan mereka dengan pasangan.

McDaniel dan Coyne pun mencatat teknologi telah mengganggu waktu luang pasangan. Bahkan tak sedikit pula yang melaporkan bahwa percakapan dan waktu makan mereka juga dikacaukan oleh penggunaan teknologi. Hal-hal semacam ini bisa mengarah ke perkelahian karena pasangan merasa tak dihargai. Tak heran jika kepuasan hidup berkeluarga berkurang karena turunnya kualitas hubungan.

Rupanya, mabuk gawai tak hanya terjadi dalam aktivitas di luar ruangan saja. Yeslam Al-Saggaf, seorang associate professor dari Charles Sturt University, pernah melakukan survei terhadap 385 orang di Australia dan menerbitkan hasilnya di The Conversation tahun lalu. Hasilnya, 62% responden mengaku asyik memperhatikan gawai kala sedang bercakap-cakap dengan orang lain. Al-Saggaf pun menemukan bahwa ternyata pasangan hiduplah yang kerap mengalami phubbing, termasuk di atas ranjang.

Bagaimana menyembuhkannya?

Dalam How To Break Up With Your Phone (2018), Catherine Price berbagi solusi untuk mengatasi kecanduan smartphone. Tak mudah memang, karena si pecandu harus membuat rencana untuk 30 hari ke depan.


Dalam rencana yang berlangsung selama sebulan itu, Price menyarankan pecandu untuk menghapus aplikasi media sosial. Tak perlu menghapus semuanya. Cukup yang paling sering kita gunakan saja. Jika berhasil, barulah si pecandu menghapus semua aplikasi media sosial.

Kecanduan gawai bisa membuat orang sulit menjalani hari. Price menganjurkan agar si pecandu kembali ke kehidupan offline, bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar. Alternatif lainnya adalah berolahraga.

Situs Healthline juga memberikan solusi bagi pecandu gawai. Misalnya dengan menjadikan waktu makan sebagai zona bebas telepon sehingga si pecandu bisa terlibat percakapan dengan orang-orang di sekitarnya.

Infografik Phubbing
Infografik Phubbing


Caranya mudah: sembunyikan ponsel Anda di laci meja atau tas. Abaikan notifikasi yang mengganggu konsentrasi. Jangan takut untuk menantang diri Anda untuk hidup tanpa ponsel. Jangan lupa, berilah hadiah untuk diri Anda sendiri jika berhasil menyelesaikan tantangan tersebut.

Lalu bagaimana jika pasangan kita yang melakukan phubbing?

Jadilah contoh yang baik. Anda juga harus menjauhkan ponsel ketika sedang bersantai bersama pasangan. Jangan pancing dia untuk menunjukkan sesuatu yang ada di ponsel saat sedang bersama.

Jika hal itu juga tak mempan, Anda bisa berbicara dari hati ke hati dan memberitahu si dia bahwa Anda tak suka kebiasaan buruknya. Setelah itu, bantulah dia untuk mengembangkan kebiasaan yang lebih baik.

Baca juga artikel terkait SMARTPHONE atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf