Peretasan Ponsel Jeff Bezos dan Tentakel MbS di Dunia Digital

Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, tersenyum ketika menghadiri konferensi Future Investment Initiative, di Riyadh, Arab Saudi, 23 Oktober 2018. AP / Amr Nabil
Oleh: Ahmad Zaenudin - 7 Februari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Mohammed bin Salman disebut telah meretas iPhone Jeff Bezos.
Dalam rentang waktu antara 31 Januari hingga 3 Februari 2020, manusia terkaya di muka bumi, Jeff Bezos, menjual sebagian saham Amazon miliknya. Lembar saham yang dijual tersebut, lapor CNBC, berjumlah 905.456 lembar dan bernilai setara dengan $1,84 miliar.

Belum jelas apa motif utama Bezos menjual sebagian saham Amazon miliknya itu. Namun, pria yang ditaksir memiliki harta senilai $125,8 miliar sebelumnya juga pernah melakukan langkah serupa. Pada 2017 dan 2019, Bezos menjual sekitar $1 miliar saham Amazon miliknya untuk membiayai pendirian Blue Origin, perusahaan roket pesaing SpaceX.

Tapi kali ini tidak ada kabar pendirian perusahaan baru dari Bezos. Justru skandal tahun 2019 lalu yang menyeruak: kisah asmara Bezos dengan Lauren Sanchez, mantan pembawa acara “So You Think You Can Dance”.

Kisah tersebut disebarluaskan oleh The National Enquirer, melalui editornya bernama David J. Pecker, yang menganggap bahwa kerja jurnalistiknya --jika gosip memang dianggap karya jurnalistik-- sebagai “investigasi terbesar dalam sejarah Enquirer.”

MacKenzie Sheri Bezos selaku istri si bos Amazon, tentu sakit hati atas publikasi kisah asmara terlarang suaminya itu. Pun demikian dengan Bezos. Ia merasa bahwa ada aksi peretasan pribadi yang menimpa dirinya.

Dugaan tersebut diperkuat dengan fakta bahwa pada 8 November 2018, sebelum Enquirer memberitakannya, foto Sanchez dikirim ke nomor WhatsApp Bezos dengan menyertakan keterangan: “Berdebat dengan wanita sama seperti membaca perjanjian lisensi perangkat lunak. Pada akhirnya Anda harus mengabaikan segalanya dan klik ‘saya setuju’.”

Hampir setahun berselang, selepas menyewa penyidik swasta dan campur tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terungkap bahwa iPhone milik Bezos memang kena peretasan. Hal itu dilakukan melalui video berformat MP4 yang dikirim pada 1 Mei 2018 silam melalui nomor WhatsApp pribadi Bezos.

Ketika video yang diterima diklik, seketika spyware menyusup ke ponsel Bezos. Analisis PBB menyebut, ada data aneh sebesar 126 megabyte yang keluar dari ponsel Bezos selepas spyware menyebar. Dan dalam sebulan selepas video diterima, 4,6 gigabyte data meluncur dari iPhone Bezos tanpa disadari sang pemilik.

Padahal, dalam keadaan normal, iPhone milik Bezos mentransfer data keluar rata-rata hanya sebesar 430 kilobyte. Peretasan pun diyakini terjadi selama sembilan bulan dan baru berakhir pada Februari 2019 lalu.

Menariknya, sosok yang mengirim video berisi spyware ke nomor WhatsApp Bezos tersebut adalah Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud alias MbS, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, yang menurut laporan The New York Times, telah bertukar nomor di rentang 2018.

Agnes Callamard, pakar PBB yang menyelidiki kasus peretasan yang menimpa Bezos, menyebut bahwa “peretasan Jeff Bezos berada di tataran yang berbeda.” Callamard melanjutkan: “Dia bukan warga Saudi. Dia adalah sosok yang memiliki kekuatan strategis dan peretasan pada Bezos tampak didorong atas kenyataan bahwa ia adalah pemilik The Washington Post.”

Diduga, aksi MbS meretas ponsel Bezos dilakukan untuk “mempengaruhi, jika tidak membungkam” liputan kritis The Washington Post, media yang dimiliki Bezos, tentang kerajaan Saudi. Melalui Jamal Khashoggi, jurnalis yang diduga kuat dibunuh atas perintah MbS, The Post memang tajam mengkritik Saudi, khususnya tentang kesenjangan dan kebijakan yang terjadi di kerajaan itu.

Tertanggal 22 Januari 2020, melalui akun Twitter resmi yang dimiliki kedutaannya di Amerika Serikat, Kerajaan Saudi menyebut tudingan kerajaan di balik peretasan Bezos sebagai laporan “absurd”. Entah bermaksud “membalas” atau tidak, keesokan harinya Bezos mencuit tagar #Jamal dengan melampirkan foto kunjungannya ke pusara Khashoggi didampingi tunangan Khashoggi asal Turki.

Terlepas dari itu semua, pertanyaannya kini adalah: bagaimana mungkin orang terkaya di dunia, pemilik Amazon Web Service --layanan yang menopang lebih dari 30 persen situsweb di seluruh dunia, pemilik Blue Origin, dan pemilik The Washington Post, kena retas?

Satu hal yang perlu dipahami: MbS pun bukanlah orang sembarangan di dunia IT.

Menggunakan Pegasus?

Peretasan pada iPhone milik Jeff Bezos diduga memanfaatkan alat retas milik NSO Group, perusahaan keamanan digital asal Israel, bernama Pegasus.

Pegasus mulai dikenal publik selepas Mei 2019 lalu, Facebook melalui Common Vulnerabilities and Exposures (standar publikasi temuan celah keamanan bernomor 2019-3568) mengonfirmasi celah keamanan pada WhatsApp.

Dalam CVE 2019-3568 itu, semua perangkat yang terpasang WhatsApp dinyatakan dalam posisi rawan kena retas. Dari mulai sistem operasi iOS, Android, Windows Phone, pengguna WhatsApp untuk Android sebelum versi v2.19.134, WhatsApp Business untuk Android sebelum versi v2.19.44, WhatsApp untuk iOS sebelum versi v2.19.51, WhatsApp Business untuk iOS sebelum versi v2.19.51, hingga WhatsApp untuk Windows Phone sebelum versi v2.18.348.

Celah keamanan WhatsApp memungkinkan peretas memasang malware yang kemudian bisa menyelinap ke dalam sistem kamera, mikrofon, aplikasi pesan instan, menangkap tangkapan layar (screenshot), hingga mencatat tiap ketukan keyboard. Mengerikannya lagi, serangan malware via celah keamanan di WhatsApp ini bisa dilakukan dengan cara sederhana: peretas tinggal melakukan panggilan telepon WhatsApp ke calon korban.

Laporan investigasi yang dirilis Haaretz menyebut NSO Group sebagai perusahaan teknologi yang berpusat di Herzliya Pituah, pinggiran Tel Aviv, Israel. Pada 2015, perusahaan ini dibeli Francisco Partners senilai $130 juta. Jualan utama NSO ialah perangkat-perangkat teknologi, khususnya Pegasus Spyware.

Pegasus adalah malware mata-mata yang bekerja dengan mencari celah keamanan di sistem atau aplikasi korban, seperti yang terjadi pada WhatsApp. Tatkala malware ini sukses masuk ke perangkat atau mesin korban, gawai akan mudah dikendalikan pemilik Pegasus.

Citizen Lab, laboratorium studi informasi yang berbasis di University of Toronto, menyebut perangkat-perangkat canggih NSO, khususnya Pegasus, telah digunakan oleh sekitar 45 negara, termasuk Meksiko, Bahrain, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab. Sementara itu, Haaretz melaporkan Pegasus paling tidak telah digunakan oleh 15 negara, termasuk Indonesia.

Pada 2016, Pegasus dijual seharga $650.000 atau lebih dari Rp9 miliar. Mohammed bin Salman, yang diperkirakan memiliki kekayaan pribadi sebesar $17 miliar, mudah saja membeli Pegasus dengan harga demikian. Namun, perlu diingat pula, MbS pun merupakan tokoh utama dunia IT.

Meretas tokoh kunci IT lain, dalam hal ini Bezos, mungkin bisa dilakukannya bahkan tanpa perlu membeli Pegasus.

Putra Mahkota Kerajaan Startup

Data Crunchbase menyebut, MbS merupakan orang yang memimpin The Public Investment Fund (PIF), firma investasi Kerajaan Arab Saudi, yang rajin memberikan suntikan dana pada startup di berbagai belahan dunia.

Uber, perusahaan yang mempopulerkan konsep ride-sharing, merupakan salah satu yang memperoleh dana dari PIF, yakni senilai $3,5 miliar di Juli 2016 silam. MbS diperkirakan memiliki 14 persen total kepemilikan Uber terkait kucuran dana tersebut. Selain Uber, PIF pun menggelontorkan uangnya pada Magic Leap ($461 juta), Lucid Motors ($1 miliar), Virgin Galactic ($1 miliar), Babylon Health ($550 juta), hingga Cloudkitchens ($400 juta) startup baru yang didirikan oleh Travis Kalanick, pendiri Uber.

Selain langsung mengucurkan uang ke startup, PIF pun menggelontorkan uangnya dua kali sejumlah $45 miliar, melalui SoftBank Vision Fund, kapital ventura yang dibentuk oleh Masayoshi Son. Dari SoftBank, diperkirakan ada 50 hingga 60 startup dunia yang memperoleh duit yang dikelola MbS, termasuk Grab, Tokopedia, OYO, Slack, hingga WeWork.

Selain melalui SoftBank, PIF mengucurkan uang senilai $1,07 miliar melalui Jada, kapital ventura yang memodali Raed Ventures dan Vision Ventures, kapital ventura yang rajin memberikan sokongan dana ke berbagai startup di Timur Tengah.



Kara Swisher, dalam kolomnya di The New York Times, menyebut pula bahwa MbS menjadi investor di Twitter bersama saudaranya sekaligus investor awal Apple, Pangeran Alwaleed bin Talal bin Abdulaziz Al Saud, yang memiliki bagian saham lebih besar dibandingkan Jack Dorsey, pendiri Twitter. Swisher juga mengungkap, atas kuasa MbS di Twitter, ia memanfaatkan platform microblogging itu “untuk memata-matai para pembangkang pemerintah Saudi.”

Lebih jauh, dana Saudi pada startup dunia bukan hanya berasal dari tangan MbS. Para tokoh Saudi lain, khususnya dari kalangan kerajaan, mendirikan banyak kapital ventura, misalnya Saudi Aramco Energy Ventures, Riyadh Valley Company Ventures, The Kingdom Holding Company Ventures, hingga Saad Al Sugair Ventures. Berdasarkan catatan Quartz, di luar kapital ventura yang berada di tangan MbS, para investor Saudi telah menggelontorkan uang senilai $6,2 miliar.

Dengan melihat deretan fakta tersebut, Jeff Bezos tampaknya kini telah memperoleh lawan sebanding dalam diri MbS si “Putra Mahkota Startup”. Atau malah mungkin lebih tangguh?

Baca juga artikel terkait MOHAMMED BIN SALMAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight