tirto.id - Kendaraan darat memiliki sistem pengereman yang berbeda-beda. Sistem rem yang digunakan mesti disesuaikan dengan sejumlah faktor sesuai dengan fungsinya. Begitu pula dengan perbedaan sistem rem pada mobil dan truk besar.
Mobil dan truk besar termasuk kendaraan darat yang paling populer serta banyak digunakan. Keduanya memiliki sistem pengereman berbeda, yang disesuaikan dengan berat, kecepatan maksimal, fungsi, serta tingkat keamanan. Bahkan tak jarang terdapat sistem rem yang hanya ada pada tipe kendaraan tertentu.
Misal, truk besar dilengkapi rem bantu seperti retarder. Sedangkan mobil penumpang hanya mengandalkan rem kaki dan rem tangan saja, tanpa memiliki rem bantu.
Mengapa kedua tipe kendaraan ini memiliki sistem rem berbeda, dan bagaimana cara kerjanya? Simak penjelasan lengkapnya.
Bagaimana Sistem Pengereman Mobil dan Truk Besar Bekerja?
Mengacu laman Universal Technical Institute, sistem rem pada kendaraan termasuk mobil dan truk besar difungsikan sebagai alat untuk membantu kendaraan berhenti. Berdasar fungsinya itu, maka pengereman bisa dibilang menjadi bagian sistem keselamatan paling penting.
Umumnya sistem pengereman pada kendaraan terdapat 2 jenis, yakni rem cakram yang memanfaatkan cakram rotor baja untuk memperlambat roda, serta rem tromol yang menggunakan tekanan hidrolik.
Berdasar studi berjudul "Bagaimana Mekanisme Rem pada Kendaraan Bekerja?" yang terbit melalui laman Fakultas Teknik Universitas Medan Area, 2 jenis rem tersebut pada dasarnya memanfaatkan gesekan pada kedua sisi roda untuk memperlambat dan menghentikan kendaraan.
Ketika pengemudi menginjak pedal rem, energi kinetik kendaraan bakal diubah menjadi energi panas melalui gesekan antara komponen rem. Proses gesekan itu dapat memperlambat laju roda hingga berhenti.
Selain memiliki fungsi keselamatan ketika berkendara, sistem pengereman juga berfungsi menjaga kendaraan agar tetap aman ketika parkir, atau menjaga posisi ketika berada di permukaan miring.
Meski memiliki fungsi sama, sistem rem kendaraan memiliki cara kerja berbeda, terutama mekanisme pengereman mobil penumpang dengan truk besar.

1. Cara Kerja Sistem Pengereman Mobil
Pengereman mobil penumpang modern pada umumnya menggunakan sistem hidrolik, yang mengubah energi kinetik menjadi energi panas melalui gesekan komponen rem.Mengacu Auto2000, terdapat sejumlah komponen utama dalam sistem pengereman mobil penumpang, yakni pedal rem, brake booster, drum brake, disc brake, brake fluid, master silinder, hingga sistem ABS (anti-lock braking system).
Kebanyakan mobil penumpang menggunakan sistem rem hidrolik. Ketika pedal rem ditekan, gaya yang dihasilkan bakal diperbesar oleh brake booster (bantuan vakum mesin), agar pengemudi tidak perlu memberikan tekanan terlalu berat ketika mengerem.
Dorongan tersebut kemudian menekan piston di dalam master silinder (silinder utama), lalu mengubah tenaganya menjadi tekanan fluida (minyak rem).
Tekanan yang dihasilkan dari proses ini lalu disalurkan secara merata melalui selang-selang baja atau karet menuju roda kendaraan.
Tekanan dari minyak rem mendorong piston di dalam kaliper, lalu menjepit kampas rem (brake pads) ke piringan cakram yang berputar bersama roda bagian depan.
Sementara pada roda belakang, tekanan minyak bakal mendorong silinder roda yang membuat sepatu rem bergesekan dengan dinding dalam mangkuk tromol.
Gesekan kuat antara kampas rem dengan cakram atau tromol, menghasilkan hambatan laju putaran roda. Proses tersebut bakal membantu roda mobil melambat perlahan.
Ketika pengemudi melepas pedal rem, pegas pengembali akan menarik kampas merenggang kembali ke posisi awal, lalu minyak rem kembali ke penampungan.
Sebagai catatan, tidak semua mobil penumpang menggunakan perpaduan rem cakram dan tromol, ada pula mobil yang hanya menggunakan rem cakram pada 4 rodanya.

2. Cara Kerja Sistem Pengereman Truk Besar
Kendaraan truk besar umum menggunakan sistem rem angin (air brake). Sistem ini memanfaatkan udara yang dimampatkan sebagai media untuk digunakan pada pengereman.Sistem tersebut digunakan karena kendaraan jenis truk besar memerlukan daya pengereman tinggi, yang tidak akan cukup jika hanya mengandalkan cairan hidrolik biasa seperti pada mobil penumpang.
Saat pengemudi truk besar menginjak pedal rem, katup udara bakal membuka dan mengalirkan udara bertekanan tinggi ke ruang silinder rem. Tekanan udara kemudian masuk menuju brake chamber, serta mendorong batang pendorong (pushrod).
Batang itulah yang kemudian menggerakan slack adjuster dan poros, untuk menekan sepatu rem ke tromol atau cakram. Gesekan yang dihasilkan bisa memperlambat roda hingga menghentikannya.
Truk besar biasanya juga dilengkapi sistem pengereman tambahan, karena beban kendaraan berat berisiko ketika melewati turunan. Rem tambahan bisa meminimalisir kendaraan tidak mengalami brake fade, yang kerap menjadi pemicu rem blong.
Rem tambahan truk besar bisa berupa rem knalpot (exhaust brake), yang bekerja dengan cara menutup sebagian jalur gas buang mesin untuk memperlambat gerak piston, serta membantu menahan laju truk.
Ada pula yang menggunakan rem mesin (engine brake), yang mengatur ulang kompresi mesin untuk membantu menahan kecepatan kendaraan tanpa mengandalkan kampas rem.
Ketika parkir, truk besar bakal menggunakan sistem rem pegas (spring brake). Ketika udara dikeluarkan dari brake chamber (ruang rem), pegas raksasa di dalam sistem akan mengembang lalu mendorong pushrod untuk mengunci roda, atau membuatnya tidak bisa melaju meski di medan yang sedikit menurun.
Mengapa Mobil dan Truk Besar Menggunakan Teknologi Rem Berbeda?
Perbedaan sistem pengereman pada mobil penumpang dan truk besar, didasarkan pada karakteristik kendaraan, beban, kondisi operasional, serta kebutuhan keselamatan.
Berbeda dengan mobil penumpang biasa yang memiliki bobot dan kapasitas angkut yang relatif kecil, truk dirancang untuk membawa muatan dalam volume besar.
Kategori kendaraan berat membutuhkan sistem rem yang bisa menghasilkan gaya pengereman besar, serta bekerja secara berulang tanpa terlalu terganggu oleh panas.
Ketika kendaraan yang lebih berat seperti truk melaju dengan kecepatan yang sama dengan mobil penumpang, sejatinya energi kinetik yang dihasilkan truk lebih besar.
Penyesuaian sistem rem yang digunakan truk dirancang untuk mengelola energi yang lebih besar, serta mencegah rem blong ketika kelebihan panas akibat aktivitas gesekan saat mengerem. Terlebih truk juga mendapat tambahan berat dari muatan.

Truk dilengkapi dengan rem tambahan seperti gas buang (exhaust brake). Komponen ini bisa digunakan ketika truk melewati turunan panjang, agar rem utama tidak bekerja terlalu berat. Rem bantu juga bisa mengurangi panas, yang kerap meningkatkan risiko rem blong.
Perbedaan sistem pengereman antara mobil penumpang dengan truk besar didasarkan pada karakteristik kedua kendaraan, serta untuk meningkatkan faktor keselamatan.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id


































