Peran Penting Lagu Anak & Kehangatan Keluarga di Acara Sofa Kuning

Oleh: Addi M Idhom - 9 November 2020
Dibaca Normal 4 menit
Di tengah surutnya popularitas lagu anak, acara Sofa Kuning di Mola TV dapat menjadi sarana orang tua mengajak si kecil bernyanyi dan belajar bersama.
tirto.id - Salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan orang tua saat menghabiskan waktu bersama anak-anak adalah dengan bernyanyi bersama. Selain bisa menghibur, bernyanyi bersama juga dapat menjadi sarana edukasi bagi si kecil.

Seiring dengan kemajuan teknologi digital, banyak anak-anak mudah tersedot perhatiannya pada gadget. Hal ini tidak hanya dapat mengurangi kebersamaan anak-anak dengan orang tua, tapi juga bisa berdampak buruk kepada kondisi kesehatan fisik hingga psikologis si kecil.

Oleh karena itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang tua tidak memberikan waktu bagi bayi atau anak usia 1 tahun bermain gadget. Sementara anak usia 2-5 tahun, harus dibatasi waktunya bermain dengan gadget, maksimal 1 jam setiap hari, atau seminimal mungkin.

Salah satu cara mencegah anak-anak tersita waktunya menyendiri dengan gadget ialah mengajak mereka menonton acara edukasi di televisi atau platform digital. Dengan begitu, kebutuhan anak akan hiburan terpenuhi, tetapi tetap dengan kontrol orang tua. Proses belajar pun bisa dijalani si kecil sembari menikmati hiburan.

Sayangnya, tidak gampang menemukan acara edukasi yang menarik buat ditonton oleh anak-anak bareng orang tua. Salah satu pilihan menarik, adalah acara Sofa Kuning yang dapat disaksikan di Mola TV.

Tayang perdana di Net TV sejak Agustus 2020 lalu, siaran ulang 10 episode Sofa Kuning kini sudah tersedia di Mola TV. Platform hiburan digital ini menyediakan pula potongan video lagu anak-anak yang ditampilkan di Sofa Kuning.


Sofa Kuning: Acara Bernyanyi Sambil Belajar

Sofa Kuning menyajikan tontonan seru bagi seluruh keluarga. Dengan menonton acara ini, para orang tua dapat mengajak anak-anak bernyanyi sekaligus belajar bersama.

Tontonan seperti ini tentu bisa mengisi banyak waktu luang anak-anak, ketika pandemi membuat kegiatan belajar di PAUD, Play Group, dan TK harus berlangsung di rumah. Para orang tua dapat pula bernostalgia dengan beragam lagu yang pernah menghiasi masa kecil mereka.

Sejumlah lagu anak-anak populer yang ditampilkan dalam acara Sofa Kuning juga terdengar lebih menarik, karena telah digubah ulang oleh Aqi Singgih, vokalis grup musik Alexa dan salah satu pemeran di film Gundala (2019).


Aqi memandu acara Sofa Kuning bersama keluarga kecilnya. Ditemani sang istri, Audrey Singgih, dan dua anaknya yang masih balita, Rhuka Singgih dan Gaia Singgih, Aqi mengajak para penonton acara Sofa Kuning menikmati kehangatan berkumpul bersama keluarga.

Dengan menonton Sofa Kuning, para orang tua bersama buah hati mereka yang masih balita bisa menyanyikan sejumlah lagu anak-anak bersama. Selain itu, Aqi dan Audrey akan menyodorkan banyak pertanyaan yang akan memantik keingintahuan anak-anak.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dikemas dalam permainan interaktif yang dapat diikuti melalui aplikasi Mola TV, dan menjanjikan hadiah total ratusan juta rupiah, berupa iPAD hingga beasiswa.

Banyak lagu anak-anak yang begitu mudah dinyanyikan. Sebagai contoh, dalam episode pertama acara Sofa Kuning, Aqi Singgih dan keluarga kecilnya mengajak penonton untuk menyanyikan lagu "Halo-Halo Bandung."

Selesai menyanyikan satu lagu, Aqi dan Audrey mengajukan sejumlah pertanyaan, seperti: "apa bahasa daerah di Bandung," hingga "Apa nama gedung putih terkenal di Bandung."

Epiode pertama tersebut menyajikan pula lagu terkenal asal Papua: "Apuse." Lagu dengan bahasa asli dari Papua ini ditampilkan bersama lirik di layar. Lalu diikuti pertanyaan pilihan ganda soal "Apa ibukota Papua," hingga "Apa arti kata 'Doreri' dalam lagu Apuse."

Selain lagu nasional dan lagu daerah, Sofa Kuning memunculkan banyak lagu anak-anak populer lainnya. Episode kedua Sofa Kuning di Mola TV, misalnya, menyajikan lagu seperti "Balonku" dan "Kring-kring Ada Sepeda."

Penyajian lagu-lagu tersebut diikuti pula sejumlah pertanyaan pilihan ganda, semisal "Apa bahasa inggris balon," "Berapa jumlah balon di lagu Balonku," "Apakah sepeda beroda satu ada," hingga "Apa arti kata 'lembu' dalam lirik lagu Kring-kring Ada Sepeda."

Jika menonton episode ketiga acara Sofa Kuning di Mola TV, kita akan menyaksikan keriangan Aqi, Audrey, serta dua buah hati mereka saat bersama menyanyikan lagu "Cicak-cicak di Dinding."


Penyajian salah satu lagu dalam episode ketiga acara Sofa Kuning tersebut, lantas diikuti dengan pertanyaan menarik, seperti: "Binatang apa yang ditangkap oleh cicak," atau "Berapa jumlah kaki cicak."

Keriangan dan kehangatan keluarga dalam acara ini dimeriahkan dengan hadirnya animasi yang mengiringi lagu. Para keluarga di tanah air tak hanya bisa menemukan sarana edukasi anak-anak yang menarik, tapi juga kebersamaan yang bermakna dengan menonton Sofa Kuning di Mola TV.


Manfaat Penting Lagu Anak-anak

Banyak orang tua bisa jadi merasakan kegelisahan serupa: lagu anak-anak di Indonesia semakin langka. Lagu anak populer seperti "Balonku," "Kring-kring Ada Sepeda," "Cicak-cicak di Dinding," "Kereta Api," dan lain sebagainya, semakin kurang populer meski posisinya tidak tergantikan.

Dibandingkan dengan era 1990-an, lagu anak-anak pada masa sekarang jelas kalah populer dari nyanyian orang dewasa. Lagu orang dewasa bahkan bertambah mudah ditemukan oleh anak-anak di berbagai platform. Anak-anak kini lebih gampang mendengar lagu orang dewasa ketimbang musik yang sesuai dengan usia mereka.

Di sisi lain, banyak acara televisi yang menampilkan anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa. Padahal banyak kata-kata di liriknya "terlalu dewasa" untuk dinyanyikan anak-anak yang belum tuntas mengenyam bangku SD.

Kondisi ini beriringan dengan minimnya produksi lagu anak-anak oleh industri musik di tanah air. Hal ini bisa terjadi karena industri musik menilai lagu-lagu orang dewasa lebih menjual, demikian mengutip sebuah laporan riset bertajuk "Kembalikan Lagu Anak-anak Indonesia: Sebuah Analisis Struktur Musik."

Laporan riset di Jurnal Panggung (Desember 2015) terbitan ISBI Bandung tersebut menyimpulkan pula, bahwa pola ritmis, interval, tempo, hingga range nada lagu pop dewasa, tidak cocok dengan anak-anak. Mereka berisiko mengalami cedera pita suara jika menyanyikan lagu-lagu pop dewasa.


Yang terabaikan oleh industri musik adalah perkembangan anak-anak tidak terpisahkan dari lagu. Bahkan, dalam kandungan pun, janin bisa mendengarkan musik yang diputar di sekitar ibunya.

Saat tumbuh, anak-anak bermain dengan riang, juga ketika diiringi dengan musik. Singkat cerita: musik adalah salah satu aspek yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran anak.

Mengutip pendapat Fathur Rasyid dalam buku Cerdaskan Anakmu dengan Musik, lagu anak-anak sebenarnya memiliki banyak fungsi positif dalam pembelajaran. Lagu anak-anak bisa mengajarkan emosi, bahasa nada dan gerak, hingga cara mengungkapkan perasaan: senang, sedih, lucu, dan lain sebagainya.

Lirik bermuatan pendidikan pun bisa didapatkan dari banyak lagu anak-anak. Itulah mengapa lagu anak-anak tak memiliki lirik panjang, sehingga mudah dihafal dan sesuai dengan imajinasi mereka.

Oleh karena itu, para pencipta lagu anak diharapkan menulis lirik yang membantu perkembangan fisik, emosi, dan kecerdasan anak.


Inisiator gerakan Peduli Musik Anak, Ribut Cahyono menulis, dalam perkembangan musik anak di Eropa dan Amerika sejak awal abad 19, lagu-lagu pengasuhan (Nursery Rhyme) terus menjadi pedoman nilai-nilai pendidikan atau budaya pengasuhan, khususnya untuk anak usia dini.

Oleh sebab itu, Ribut menyayangkan Nursery Rhymes masih asing di perbendaharaan perangkat pendidikan Indonesia, demikian isi artikelnya di laman pedulimusikanak.com.

Masih mengutip artikel Ribut, unsur-unsur dalam Nursery Rhymes adalah rima tanpa makna; bisa dipakai untuk musik pengantar tidur (lullabies); permainan jari; rima berhitung; teka-teki; balada; dan lagu permainan.

Ribut mencatat, ciri-ciri Nursery Rhymes mudah ditemukan dalam banyak lagu "Tembang Dolanan Anak" di berbagai daerah yang sarat dengan karakter khas budaya lokal.

Jadi, inspirasi buat lagu anak sejatinya bertebaran di budaya nusantara. Sayangnya, popularitas lagu anak-anak, baik yang lahir dari budaya lokal ataupun musik modern, makin surut.

Para orang tua memiliki tanggung jawab untuk memilihkan musik yang ramah anak untuk didengar oleh buah hati mereka. Ramah berarti lagu itu sederhana dalam nada maupun lirik, serta memuat nilai-nilai positif bagi pembentukan karakter anak-anak.

Sebagai salah satu acara musik dan edukasi untuk anak-anak, Sofa Kuning yang ditayangkan Mola TV, setidaknya bisa menjadi ajang banyak orang tua untuk mendekatkan buah hati mereka dengan Nursery Rhymes.

Baca juga artikel terkait MOLA TV atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Musik)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight