Otak-otak Jenius Penggerak Zaman dan Masa Depan

File foto -Terrence Tao, manusia dengan IQ 230 yang berprofesi Matematikawan. Terrence Tao menjadi Profesor termuda University of California Los Angeles (UCLA) di usia 24 tahun. [Foto/wikipedia.org]
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 21 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Orang-orang jenius tak hanya mereka yang memiliki IQ di atas 140 dan bergerak di bidang sains, namun juga yang mempelopori bisnis teknologi-informasi dan mampu menggerakkan zaman menuju era digital yang makin mentereng di masa depan. Siapa saja mereka?
Musim panas 1968. Syahdan, di sudut negara bagian Maryland, Amerika Serikat, tersebutlah Joseph Bates, anak jenius berusia 12 tahun yang kala itu sedang sekarat dikoyak-koyak bosan. Bagaimana tak bosan, di sekolahnya di Baltimore, ia jauh mengungguli rekan-rekan satu kelasnya di pelajaran matematika. Orang tua Bates akhirnya mendaftarkan dirinya untuk mengikuti perkuliahan sains komputer di John Hopkins University.

Akan tetapi, langkah itu pun tak dirasa cukup untuk menenangkan besarnya tegangan sirkuit yang berkumpul di otak Bates. Di bangku kuliah, yang orang normal lain masuki saat menginjak usia 19-20 tahun, Bates kembali jauh mengungguli kawan-kawannya. Lebih tepatnya: orang-orang dewasa yang lebih cocok menyandang titel kakak kandung Bates ketimbang teman kelas. Saking cerdasnya, Bates juga menyibukkan diri dengan mengajar bahasa pemrogaman FORTRAN untuk mahasiswa pascasarjana.

Tak paham dengan apa yang idealnya dilakukan pada Bates, instruktur komputernya kemudian mengenalkan Bates ke Julian Stanley. Stanley adalah seorang profesor sekaligus peneliti yang berfokus di bidang psikometrik alias kajian tentang kemampuan kognisi.

Untuk mengelaborasi lebih jauh kamampuan si anak ajaib, Stanley menyuguhi Bates sejumlah tes termasuk tes SAT (Scholastic Assessment Test) yang biasa diambil oleh lulusan sekolah menengah atas di AS dan nilainya menjadi syarat masuk di perguruan tinggi.

Seperti sudah diduga sebelumnya, skor Bates jauh di atas rata-rata skor minimal untuk masuk ke John Hopkins University. Stanley pun mencari sekolah lokal yang mau untuk menampung Bates dalam belajar matematika tingkat lanjut dan kelas sains. Ketika rencananya gagal, Stanley kemudian meyakinkan seorang dosen agar Bates bisa diterima di John Hopkins. Akhirnya, saat Bates menginjak umur 13 tahun, ia resmi terdaftar sebagai sarjana di kampus itu.

Stanley suka menyebut Bates sebagai “mahasiswa nol” dalam programnya yang bertajuk Study of Mathematically Precocious Youth (SMPY). Tujuan mulia dari program tersebut adalah agar anak-anak berkebutuhan khusus seperti Bates bisa dimunculkan ke permukaan dan mendapat dukungan dari pemerintah AS.

Program yang juga berwujud penelitian itu memakai metode survei longitudinal, yang dalam konteks penjaringan anak-anak berbakat secara intelektual, menjadi penelitian terpanjang. SMPY telah berjalan selama 45 tahun. Stanley dan kawan-kawan melacak karier dan pencapaian dari kurang lebih 5.000 individu jenius yang kini sudah banyak yang menjadi ilmuwan top dunia, salah satunya adalah Bates.

Studi ini telah menjadi sumber bagi terbitnya lebih dari 400 artikel ilmiah dan buku serta menjadi sumber pencerahan bagaimana cara menelusuri, mencari, dan mengembangkan bakat-bakat terpendam di luar sana. Bidang yang dituju pun beragam, yakni Science (sains), Technology (teknologi), Engineering (ilmu teknik), dan Mathematics (matematika)—populer dengan nama STEM.

Anak-anak yang direkrut pada gelombang pertama STEM sekarang sedang dalam masa puncak karier mereka dan menunjukkan bahwa keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat memang memiliki pengaruh yang signifikan.

Inovator yang menjadi motor di bidang sains, teknologi, dan kebudayaan (populer) adalah para jenius yang berhasil ditemukan dan dikembangkan salah satunya oleh John Hopkins University's Center for Talented Youth yang Stanley mulai di era 1980-an dan melengkapi program SMPY. Sejak awal dibuka untuk umum, keduanya selalu membuka tangan untuk para remaja muda yang mencetak skor yang mendekati sempurna pada ujian masuk universitas, termasuk dalam golongan 1 persen.

Mereka di antaranya adalah Terrence Tao, matematikawan dengan IQ 230, dan Lenhard Ng, matematikawan Duke University. Ada juga pendiri Facebook Mark Zuckerberg, Co-Founder Google Sergey Brin dan musisi pop Lady Gaga. Mereka semua pernah menjajaki program John Hopkins University's Center for Talented Youth dan lulus.

Jonathan Wai, psikolog di Duke University Talent Identification Program, adalah salah seorang peneliti yang berkolaborasi dengan Hopkins Center. Ia pernah mengkombinasikan data dari 11 studi longitudinal jenis prospektif maupun retrospektif, termasuk SMPY, untuk menunjukkan korelasi antara kemampuan kognitif awal dan prestasi yang dicapai saat dewasa.

Hasilnya, “Anak-anak yang mencapai skor 1 persen alias mendekati sempurna saat dewasa lebih cenderung menjadi ilmuwan maupun akademisi dengan nama mentereng, CEO yang masuk daftar 500 majalah Fortune, hakim federal, senator, maupun milyader,” katanya sebagaimana dikutip Scientific American, Rabu (7/9/2016).

“Suka ataupun tidak suka, orang-orang inilah yang mengontrol masyarakat kita,” imbuhnya.



Menggerakkan Masa Depan

Pemahaman orang-orang mengenai istilah “jenius” masih merujuk pada definisi orang-orang yang lahir dengan Intelligence Quotient (IQ) di atas 140. Rujukan paling populer dan yang masih hidup hingga hari ini antara lain ahli astrofisika Christopher Hirata dengan IQ 225, fisikawan Kim Ung-Ying dengan IQ 210, Matematikawan Sir Andrew Wiles dengan IQ 170, atau yang kisah hidupnya sudah diabadikan pita seluoid, ahli fisika teoritis Stephen Hawking dengan IQ 160.

Mereka menggeluti dunia sains yang amat jarang orang awam jangkau dengan kapasitas IQ normal. Namun sesungguhnya, orang-orang dengan IQ tinggi tak melulu yang mengabdikan dirinya di bidang sains. Ada Judit Polgar (IQ 170) dan Garry Kasparov (IQ 190) yang menggeluti dunia catur. Atau Rick Rosner (IQ 192) dan James Woods (IQ 180) yang setia mencari pundi-pundi keuntungan di gemerlapnya industri hiburan Hollywood.

Akan tetapi, tak boleh dilupakan juga bahwa definisi jenius bisa meluas, artinya tak hanya terpaku pada tingginya IQ. Zaman yang bergulir hari, di abad ke-21 ini, disebut-sebut oleh banyak pengamat sosial sebagai era digital. Saat semua hal bergantung pada produk teknologi, maka mereka yang akan menggerakkan masa depan adalah para jenius di bidang teknologi.

Mark Zuckeberg dengan Facebook-nya, atau Paul Allen dan Bill Gates dengan Microsoft-nya, keduanya hanyalah sumbu. Daya ledak itu akan semakin menyalak ke depannya dan akan melibatkan lebih banyak jenius teknologi lain.

April lalu Wire mengunggah daftar 25 jenius yang membentuk bisnis masa depan lewat teknologi digital berujud piranti lunak dan aplikasi unik. Salah satunya adalah Stephenie Landry, perempuan brilian di balik situs jual-beli Amazon. Situs yang kini telah bertahan selama 22 tahun itu telah merevolusi cara berbelanja sekaligus distribusi barang di seluruh dunia. Ke depan, Amazon akan menjangkau lebih banyak negara dan akan menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Ada juga nama yang lebih asing namun telah menghadirkan produk teknologi yang canggih, Meron Gribetz, sang pendiri Meta. Meta menggagas teknologi augmented reality, semacam headset yang beberapa waktu populer sebab menawarkan pengalaman baru dengan mampu menjangkau realitas secara visual. Inovasi Gribetz akan makin berkembang ke depannya mengingat industri teknologi makin bergegas memuaskan orang-orang yang haus akan realita visual.

Untuk produk yang lebih populer dan barangkali telah sukses merevolusi cara orang-orang sedunia dalam menonton tayangan serial, ada Lisa Nishimura dari Netflix. Idenya awalnya sederhana: semua orang betah menghabiskan waktunya untuk streaming, termasuk untuk dokumenter bagus hasil ramuannya. Ia hanya ingin menekankan bahwa Netflix, sebagai pelopor tayangan streaming, tak hanya berpusat di AS, namun meluas untuk bisa dinikmati orang di seluruh penjuru dunia.

Masih ada banyak sosok jenius yang dalam daftar Wire itu akan membentuk masa depan lewat inovasinya di bidang teknologi dan informasi. Satu kesamaan yang orang-orang itu miliki ialah sikap tak egois atas kelebihan yang diberikan Tuhan dan kemudian melekat dalam diri mereka. Mereka ingin membagikannya ke dunia. Mereka ingin memberikan manfaat dan sumbangsih kepada peradaban, yang diharapkan efeknya jauh lebih fantastis ketimbang skor SAT saat masuk kampus maupun nilai kognisi dalam lembar tes IQ.

Baca juga artikel terkait INTELLIGENCE QUOTIENT atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight