Menuju konten utama

Misteri Kaki Kiri dan Alasan Pemain Kidal Istimewa di Sepak Bola

Dari keajaiban otak hingga strategi taktik lapangan, ada alasan ilmiah mengapa pemain kidal seperti Messi dan Yamal begitu berharga di dunia sepak bola.

Misteri Kaki Kiri dan Alasan Pemain Kidal Istimewa di Sepak Bola
Kapten tim Inter Miami Lionel Messi merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Atalanta United pada laga Major League Soccer (MLS) 2025 di Stadion Chase, Florida, Amerika Serikat, Sabtu (11/10/2025) waktu setempat. Messi membuat dua gol pada pertandingan tersebut untuk membawa timnya menang 4-0. Major League Soccer. foto/ANTARA
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada 7 Juli 2026, WhoScored mengumumkan bahwa sejak mereka mulai mengolah data, pemain dengan koleksi gol terbanyak dari tendangan kaki kiri adalah Lionel Messi. Jumlah gol La Pulga dari kaki ajaibnya mencapai 560 angka. Itu setara dengan 83 persen dari total gol Messi.

Di panggung sepak bola, pemain berkaki kiri punya tempat istimewa. Sebelum Messi, ada sang legenda Diego Maradona yang menjadi ikon kesuksesan Argentina di Piala Dunia 1986. Sosok lain adalah Roberto Carlos yang terkenal dengan tendangan kaki kiri nan sakti seperti yang ia peragakan di Tournoi de France 1997. Ada pula ikon baru, Lamine Yamal, dengan aksi individual memukau yang jadi salah satu kunci kesuksesan Barcelona dan Timnas Spanyol.

Dikutip dari American Psychological Association (APA), jumlah orang bertangan kidal ada di kisaran 10,6 persen. Dari angka tersebut, sekitar 60 persen di antaranya juga dominan menggunakan kaki kiri. Sementara itu, hanya 3 persen dari orang right-handed yang kaki kirinya dominan.

Uniknya, dalam olahan data Opta soal pemain lapangan di lima liga elite Eropa (Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, dan Prancis), tercatat ada 2.800 pemain atau setara dengan 27 persen yang kaki kirinya dominan.

Lionel Messi Dribble

Lionel Messi (nomor punggung 10) dari Inter Miami CF menguasai bola dalam pertandingan fase pertama Leagues Cup antara Inter Miami CF dan Atletico San Luis di Nu Stadium pada 5 Agustus 2026 di Miami, Florida. (Photo by Megan Briggs / Getty Images via AFP)

Ada jarak lebar antara proporsi kidal yang di bawah 10 persen dalam populasi manusia, dengan 27 persen di tingkat pemain sepak bola profesional. Hal ini ini membuktikan bahwa olahraga mengolah si kulit bundar punya kebutuhan tersendiri untuk memakai pemain dengan kaki kiri dominan. Mengapa demikian?

Jawabannya bukan cuma sebatas karena tuntutan strategi pelatih. Ada keunggulan biologis yang bekerja secara alami di dalam otak pemain kidal. Mereka punya cara membaca ruang yang berbeda dari pemain yang kaki kanannya dominan.

Rahasia Otak Pemain Kidal: Cara Membaca Ruang yang Beda dari Si Kaki Kanan

Menurut kajian Selcuk Akpinar dan Bilal Bicer (2014), fenomena banyaknya atlet kidal di olahraga kontak langsung dapat dijelaskan melalui hipotesis keunggulan bawaan. Pergerakan sisi kiri tubuh dikendalikan oleh otak kanan, belahan otak yang secara alami menjadi markas untuk pusat pengolahan visual, navigasi ruang (spatial processing), hingga perhitungan estimasi jarak secara instan.

Saat pemain dengan kaki kiri dominan tengah beraksi, otak kanan mereka memegang kendali penuh, yaitu mengukur ruang sekaligus menggerakkan kaki. Mengingat kedua urusan tersebut selesai di "satu pintu" (sama-sama di otak kanan), sinyal saraf tak perlu membuang waktu untuk menyeberang ke belahan otak sebelah.

Temuan Cherbuin & Brinkman (2006) pun memperkuat hal ini. Otak orang kidal punya jalur komunikasi antar-sisi yang lebih simetris dan efisien, sehingga informasi kognitif dapat diolah dengan lebih cepat.

Keunggulan biologis inilah yang membuat pemain sepak bola kidal sanggup mengambil keputusan intuitif di area padat dalam hitungan milidetik, lebih cepat daripada pemain yang dominan kaki kanan. Pemain berkaki kidal mampu memproses stimulus visual secara instan, seperti melihat celah umpan, alur bola, hingga jalur tembakan sepersekian detik lebih awal dibanding perkiraan lawan.

Lamine Yamal Timnas spanyol

Penyerang Spanyol bernomor punggung 19, Lamine Yamal, mengontrol bola selama pertandingan sepak bola persahabatan internasional antara Spanyol dan Mesir di Stadion RCDE di Cornella de Llobregat, dekat Barcelona, ​​pada 31 Maret 2026. (Foto oleh Lluis GENE / AFP)

Namun, keunggulan biologis itu hanyalah separuh cerita saja. Ada bagian yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana lawan menghadapi para pemain kidal ini.

Mayoritas pesepak bola bertumpu pada kaki kanan. Otomatis, para pemain bertahan dan penjaga gawang jauh lebih sering berhadapan dengan lawan yang sama-sama kaki kanannya dominan. Sebaliknya, mereka lebih jarang melawan pemain kidal.

Saat berhadapan dengan pemain kidal, muscle memory yang sudah telanjur terbentuk, di samping keterbatasan pengalaman, membuat para bek ibarat mati kutu. Pola antisipasi bek menjadi lebih lambat karena arah liukan bola dan lekukan umpan berlawanan dari biasanya.

Mengapa Pemain Kidal Penting dalam Taktik Sepak Bola?

Dalam sepak bola modern, adanya pemain kidal membawa dimensi taktis yang tidak bisa digantikan oleh pemain dengan kaki kanan dominan. Akpınar dan Biçer (2014) mencatat bahwa pemain berkaki dominan kiri sangat dibutuhkan untuk menciptakan sudut-sudut permainan yang menguntungkan.

Satu fungsi paling populer adalah kehadiran penyerang sayap kidal yang beroperasi di sisi kanan (inverted winger). Misalnya, Lionel Messi dan Lamine Yamal, atau sang legenda Arjen Robben dengan deretan gol template-nya untuk Bayern Munchen.

Penempatan si kidal di sisi kanan penyerangan ini memberi keuntungan berupa sudut serang dan tembakan yang jauh lebih luas. Saat pemain kidal melakukan pergerakan cut inside, posisi bola yang berada di kaki kiri secara alami terlindungi oleh tubuh pemain dari jangkauan tekel bek lawan. Pergerakan diagonal ini sekaligus membuka sudut pandang luas untuk membidik ke tiang jauh gawang.

Timnas Argentina vs Uruguay

Lionel Messi dari Argentina sedang beraksi di World Cup pada babak penyisihan Amerika Selatan Argentina melawan Uruguay di El Monumental, Buenos Aires, Argentina, Minggu (10/10/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Agustin Marcarian/RWA/sa.

Bukan cuma urusan menyerang. Kebutuhan tim terhadap pemain kidal di zona pertahanan juga krusial. Peran bek tengah dan bek kiri berkaki kidal sangat terasa dalam skema apa pun.

Pemain kidal di posisi tersebut dapat membuka sudut posisi tubuh secara alami ke arah seluruh lapangan. Hasilnya, mereka bisa mengontrol bola dan melepaskan operan vertikal atau diagonal ke lini depan dengan cepat tanpa gampang terhalang oleh pressing pemain lawan.

Lain ceritanya jika posisi bek tengah-kiri diisi oleh pemain yang dominan kaki kanan. Karena insting alaminya mengontrol bola dengan kaki kanan (ke arah sisi dalam), sudut pandang dan jalur operan sang bek menjadi lebih sempit. Otomatis, ia lebih rentan terkena press lawan dan pertahanan bisa langsung terkena masalah besar.

Tak kalah penting, adanya pemain kidal di lini belakang memberi kekuatan pertahanan saat ia harus terlibat duel 1 vs 1 dengan penyerang kidal lawan.

Tempat istimewa pemain kidal di sepak bola adalah paduan sempurna antara keunggulan biologis yang mereka miliki dan kebutuhan taktis di lapangan. Cukup wajar jika nilai pasar mereka cukup tinggi. Sebagai contoh, Lamine Yamal. Menurut data Transfermarkt, nilai pasarnya diperkirakan mencapai Rp3,83 triliun. Ada pula Cole Palmer (nilai transfer Rp1,91 triliun), Bukayo Saka (nilai transfer Rp1,91 triliun), atau dari era dahulu Antoine Griezmann (nilai pasar tertinggi Rp 2,6 triliun)

Pemain kidal datang dan pergi mengisi dunia sepak bola, melukis sejarah yang beraneka rupa. Begitu kuatnya pengaruh kaki kiri di atas lapangan, sampai-sampai Jorge Valdano pernah berseloroh soal Diego Maradona, salah satu legenda kidal terbaik, bahwa "Tidak ada satu pun bola di dunia ini yang merasakan pengalaman lebih indah, selain saat bola itu berada di kaki kirinya."

Baca juga artikel terkait SC BOLD atau tulisan lainnya dari Ahmad Zidan Nahari

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ahmad Zidan Nahari
Penulis: Ahmad Zidan Nahari
Editor: Fitra Firdaus