Menuju konten utama

Minum Kopi Malah Sakit atau Pusing? Ini Penyebabnya

Kandungan kafein kopi dapat meningkatkan fungsi otak dan fokus karena senyawa bekerja dengan memblokir adenosin. Apa kaitan kopi dengan sakit kepala?

Minum Kopi Malah Sakit atau Pusing? Ini Penyebabnya
Pekerja mendinginkan biji kopi robusta setelah proses penyangraian di salah satu tempat produksi kopi tradisional Desa Lueng Ie, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Aceh, Rabu (26/8/2026). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Minum kopi dapat memicu gejala tak nyaman. Salah satunya timbul sensasi sakit kepala atau pusing. Kafein memiliki peran sebagai faktor yang terlibat dalam patofisiologi sakit kepala dan memicu migrain.

Minum kopi tidak lagi hanya sebatas gaya hidup atau penghilang kantuk belaka, melainkan jadi salah satu asupan yang memiliki dampak baik terhadap kesehatan, seperti halnya makanan atau minuman probiotik.

Akan tetapi, minum kopi tidak selalu baik untuk kesehatan tubuh. Kandungannya bisa memberikan efek berlawanan, terutama bagi seseorang yang punya gangguan pencernaan atau intoleransi maupun sensitif terhadap beberapa senyawa dalam kopi, seperti kafein.

Meskipun tidak pasti dialami semua orang, minum kopi justru dapat menyebabkan timbulnya masalah, salah satunya sakit kepala atau pusing. Kondisi tersebut banyak muncul di kalangan penikmat kopi dengan takaran berlebih.

Efek Minum Kopi Berlebihan & Penyebab Sakit Kepala

Minum kopi setiap hari dapat memberikan manfaat untuk kesehatan tubuh. Akan tetapi, jika kopi dikonsumsi dalam takaran berlebihan, hal ini justru berpotensi memberikan efek berlawanan, seperti menyebabkan sakit kepala.

Sakit kepala setelah minum kopi sebenarnya merupakan kondisi yang cukup umum dan dapat dialami siapa saja. Situasi ini bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti kelebihan kafein, sensitivitas kafein, atau intoleransi terhadap senyawa tersebut.

Bagi sebagian orang, kandungan kafein dalam kopi dapat mengobati sakit kepala karena senyawa tersebut mengecilkan pembesaran pembuluh darah di otak. Kendati demikian, sebagian lain justru merasakan efek berlawanan setelah minum kopi.

Manfaat kopi akan berdampak baik untuk kesehatan jika diminum sesuai takaran sebanyak 1 hingga 2 gelar per hari. Namun, dampaknya akan berlawanan jika minum kopi secara berlebihan berlebihan, seperti tiga gelas setiap hari atau lebih.

Dari panas bumi hadir secangkir kopi untuk dunia

Biji kopi disangrai menggunakan suhu panas tertentu di Kedai Kopi Ecovill, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Efek paling dekat akibat kebiasaan minum kopi berlebihan kebanyakan menyebabkan sakit kepala karena kandungan kafein kopi memiliki sifat diuretik yang membuat sering buang air kecil. Kondisi ini kemudian memicu dehidrasi ringan yang menyebabkan pusing atau sakit kepala.

Selain itu, efek sakit kepala atau pusing bisa seketika muncul bagi orang-orang yang sensitif terhadap kandungan kafein. Bahkan, kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala lainnya, seperti gelisah dan diare, terutama jika mengonsumsi kafein secara berlebih.

Mengonsumsi obat pereda nyeri atau obat sakit kepala yang juga memiliki kandungan kafein, berisiko menyebabkan sakit kepala. Apalagi jika disertai minum kopi yang semakin memperburuk karena asupan kafein yang berlebih.

Kafein sendiri merupakan senyawa aktif utama dalam kopi. Mengutip Coffee and Health, Otoritas Keamanan Pangan Eropa atau European Food Safety Authority (EFSA) menyimpulkan bahwa senyawa tersebut dapat bekerja sebagai antagonis reseptor adenosin yang dapat menyebabkan perasaan waspada, gangguan pola tidur, atau menahan kantuk.

Akan tetapi, bagi individu lain, kafein justru dapat meningkatkan kewaspadaan, perhatian, hingga kinerja fisik. Artinya, efek dari kafein tidak merata, atau bergantung pada variabilitas genetik.

Dari panas bumi hadir secangkir kopi untuk dunia

Pelanggan menunjukan kopi hasil pengeringan di Geothermal Dry House di Kedai Kopi Ecovill, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Berdasarkan jurnal di National Library of Medicine dengan judul "Caffeine for Headaches: Helpful of Harmful? A Brief Review of the Literature", kafein memiliki peran sebagai faktor yang terlibat dalam patofisiologi sakit kepala dan memicu migrain.

Efek stimulasi kafein diperkirakan dapat berkontribusi pada gangguan tidur, hingga akhirnya memicu serangan migrain. Terlebih, konsumsi kafein dalam dosis tinggi dapat menyebabkan efek diuretik akut yang memicu dehidrasi.

Pada saat tubuh mengalami dehidrasi, efek lanjutan adalah menyebabkan migrain atau sakit kepala karena kurang asupan air dalam tubuh.

Kafein dapat menyebabkan sakit kepala ketika konsumsi rutin dihentikan secara tiba-tiba atau penarikan kafein. Hal ini menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan aliran darah yang signifikan ke otak.

Budi daya kopi di Gunung Gambar

Petani menunjukkan buah kopi robusta hasil panen di kawasan Gunung Gambar, Ngawen, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (2/7/2026). ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana/agr/nz

Ketika seseorang sudah terbiasa mengonsumsi kopi lalu memutuskan berhenti, tubuh secara alami akan kehilangan toleransi terhadap kafein. Pada saat meminum kopi lagi, terutama di pagi hari, berpotensi menyebabkan sakit kepala atau pusing karena tubuh mengalami intoleransi terhadap senyawa tersebut.

Kafein juga dapat menyebabkan penurunan gula darah secara tiba-tiba atau hipoglikemia yang menimbulkan rasa pusing, gemetar, hingga lemas. Para peneliti menganjurkan agar membatasi asupan kafein, dengan rasio maksimal sekitar 1,5 hingga 2 cangkir per hari, demi memastikan tubuh agar tetap terhidrasi saat minum kopi guna menghindari efek migrain atau sakit kepala.

Manfaat Minum Kopi dan Jenis-jenisnya

Kopi memiliki beberapa jenis dengan karakter berbeda dan tersebar di sejumlah negara. Berdasarkan National Coffee Association, rincian jenis-jenis kopi paling umum beserta karakteristiknya terdiri dari Arabika, Robusta, Liberika, Excelsa, hingga kopi Luwak.

Kopi jenis Arabikabiasa tumbuh di dataran tinggi berkisar di atas 800-2.000 mdpl. Karakteristik paling utama Arabika adalah rasa yang lebih halus, kompleks, tingkat keasaman lebih tinggi, dengan kandungan kafein rendah.

Kopi Arabika banyak tumbuh di wilayah Amerika Tengah dan Selatan, Afrika Timur, serta Asia, termasuk di Indonesia.

Sementara Robusta berasal dari hutan lebat di Afrika sub-Sahara bagian tengah dan barat, serta Brasil. Namun, Robusta juga banyak tumbuh di sebagian negara di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Kopi Robusta mempunyai karakteristik dapat tumbuh di dataran rendah dengan rasa lebih pahit, dan kandungan kafein cukup tinggi.

Petik merah upaya meningkatkan kualitas kopi robusta

Warga menjemur kopi robusta di Kalisalam, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (20/7/2026). Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung mendorong petani kopi melakukan petik merah guna meningkatkan kualitas hasil panen di tengah menurunnya produksi kopi pada panen raya 2026. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/sgd

Kopi Liberika dilengkapi ciri identik dengan ukuran biji yang lebih besar dibanding Arabika dan Robusta. Rasanya pun cenderung lebih tajam dengan aroma unik.

Kopi Excelsamasih bagian dari varietas Liberika, namun memiliki karakter rasa yang khas antara asam dan fruity, serta aroma yang unik.

Di lain sisi, kopi Luwak merupakan kopi unik khas Indonesia yang diproses melalui fermentasi alami di saluran pencernaan musang (luwak), yang menghasilkan rasa cenderung lebih lembut.

Di samping itu, kopi juga memiliki sejumlah manfaat untuk kesehatan. Sebagaimana dikutip Healthline, para peneliti menemukan bahwa kandungan kafein kopi dapat meningkatkan fungsi otak dan fokus karena senyawa bekerja dengan memblokir adenosin.

Bahkan, kandungan kopi yang bersifat stimulan dapat mencegah batu ginjal karena pembentukan urin bisa jadi lebih cepat oleh diuretik alami yang dihasilkannya.

PRODUKSI KOPI LUWAK

Perajin memisahkan biji kopi dari kotoran hewan luwak (Paradoxurus hermaphroditus) untuk diolah menjadi minuman serbuk kopi luwak di Randugunting, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (4/10). Kopi seharga Rp400.000 per 100 gram tersebut menjadi minuman favorit dan buruan wisatawan-wisatawan asing dari Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan sejumlah negara benua Eropa untuk dijadikan oleh-oleh saat berkunjung di Yogyakarta. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc/16.

Manfaat lain kopi ialah sumber antioksidan tinggi seperti asam klorogenat (CGA) dan trigonelline yang membantu melawan peradangan serta menangkal radikal bebas dalam tubuh.

Kandungan kafein pada kopi juga dapat bertindak sebagai probiotik untuk memperkaya keanekaragaman mikrobiota di usus. Sehingga, efeknya akan berdampak pada kesehatan pencernaan, serta mendukung proses pembakaran lemak.

Selain itu, kafein dalam kopi juga dapat menembus barrier darah pada otak orang dewasa, sehingga meningkatkan fungsi kognitif berupa kemampuan mengingat atau memori.

Konsumsi hitam tanpa gula secara rutin dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Sebuah penelitian menemukan bahwa kopi robusta asal Lampung yang digiling murni atau tanpa pemanis tambahan seperti gula, terbukti dapat menurunkan kadar gula darah pada sampel pengujian hewan.

Awal musim panen Kopi Arabika

Warga memanen Kopi Arabika petik merah di perladangan lembah Gunung Sindoro-Sumbing Desa Kruwisan, Kledung, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (5/5/2025). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.

Tak hanya dapat menurunkan gula darah, kopi juga berperan sebagai antioksidan kuat. Kandungan senyawa klorogenat dan polifenol pada kopi mampu menekan stres oksidatif, memperbaiki kerusakan DNA, serta meningkatkan kadar antioksidan alami tubuh.

Kopi tanpa gula terbukti memiliki manfaat untuk diet karena kandungannya dapat meningkatkan laju metabolisme, menstimulasi pembakaran lemak, sumber antioksidan, penekan nafsu makan, hingga meningkatkan energi dan fokus oleh kafein.

Kopi hitam tanpa gula juga dikaitkan dengan perlindungan terhadap beberapa penyakit hati, termasuk sirosis dan penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD).

Kendati demikian, meskipun kopi hitam tanpa gula dapat berdampak baik bagi kesehatan tubuh, hal tersebut tidak membuat kopi jadi pengganti obat medis. Terlebih, tidak semua orang cocok dengan kandungan kopi, ada pula yang sensitif atau intoleran, terutama pada kafein.

Pelatihan bagi pelaku usaha kopi di Kendari

Instruktur pelatihan menunjukkan biji kopi robusta yang telah diroasting di rumah produksi kopi tolaki di Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Kamis (17/10/2024). ANTARA FOTO/Andry Denisah/tom.

Baca juga artikel terkait KOPI atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - GWS
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo