Menristekdikti Pertimbangkan Bentuk Tim Penerjemah Jurnal di Kampus

Oleh: Alexander Haryanto - 27 Februari 2018
Dibaca Normal 1 menit
Di Jepang, ada banyak profesor yang tidak bisa Bahasa Inggris, tapi tetap bisa mempublikasikan jurnalnya ke Internasional karena ada tim penerjemah.
tirto.id - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Mohamad Nasir mempertimbangkan akan membentuk tim penerjemah guna membantu dosen dan para profesor menerjemahkan jurnal ilmiah dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris sehingga bisa menembus jurnal internasional.

Nasir mengatakan, salah satu kelemahan kampus di Indonesia adalah masalah penerbitan jurnal internasional. Sehingga ia berpikir untuk membentuk tim penerjemah di kampus.

"Masalah jurnal mungkin itu kelemahan kita, makanya perlu dibentuk tim yang ada penerjemahnya di kampus," ujar Menristekdikti di Jakarta, Selasa (27/2/2018), seperti dikutip Antara.

Berkaca pada Jepang, kata dia, ada banyak profesor yang tidak bisa Bahasa Inggris, tapi tetap bisa mempublikasikan jurnalnya ke Internasional karena kampus menyediakan tim penerjemah.

Anggota Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof Asep Saifuddin sebelumnya mengungkapkan, para dosen dan profesor kesulitan menulis dalam Bahasa Inggris. Alhasil, jurnal tersebut ditolak meskipun isinya bagus.

Senada dengan Saifuddin, Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), Profesor Deden Rukmana bahkan menyarankan agar pemerintah menyediakan tim penerjemah di setiap kampus sehingga dosen maupun profesor tetap menulis jurnal dalam Bahasa Indonesia.

1.200 Guru Besar Tak Pernah Publikasi Jurnal Internasional

Menteri Nasir sebelumnya pernah mengungkapkan, sekitar 1.200 orang guru besar di Indonesia tidak melakukan publikasi ilmiah khususnya di jurnal internasional.

"Kita memiliki 5.216 Guru Besar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi namun baru tiga ribuan yang rutin melakukan publikasi jurnal, ini menjadi perhatian ke depan," kata Menristekdikti tahun lalu.

Nasir mengatakan, banyaknya guru besar yang minim publikasi ini menjadi permasalahan bagi pendidikan tinggi di Indonesia karena berimbas pada kualitas. Bisa dibayangkan, kata dia, dengan jumlah dosen sampai 265 ribu di seluruh Indonesia yang tersebar di empat ribu kampus, publikasi ilmiah baru mencapai 9.989 artikel hingga akhir 2016.

Dalam hal ini guru besar aktif yang ada di dalamnya bukan hanya tidak melakukan publikasi namun juga minim melakukan pembinaan kepada juniornya untuk penulisan artikel. "Kami berharap setelah muncul halaman dalam jaringan SINTA, publikasi ilmiah di Indonesia dapat meningkat," katanya.

Dia mengatakan SINTA ini akan berperan dalam memotivasi akademisi untuk berlomba membuat jurnal ilmiah.

Di situs ini, katanya, semua akademisi bisa melihat indeks dan grafik dari publikasi yang ada di Indonesia termasuk semua jenis artikel dan penulisnya. Status peneliti yang ditentukan dari kategori satu hingga enam pun dimuat dalam situs ini.

"Diharapkan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah akan berdampak positif pada jabatan fungsional dosen dan peneliti," kata dia.

Dengan SINTA ini dia menargetkan pada tahun ini seluruh akademisi di Indonesia meraih capaian 15.000-17.000 publikasi.

Berdasarkan aplikasi Science and Technology Index (SINTA) Ristekdikti selama tiga tahun terakhir, per akhir 2017 baru ada 1.551 orang profesor yang publikasinya memenuhi syarat sesuai dengan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017.

Padahal, sudah ada 4.200 profesor yang sudah mendaftar pada aplikasi SINTA. Sedangkan untuk lektor kepala, dari 17.133 orang yang mendaftar SINTA, hanya 2.517 orang yang lolos memenuhi syarat publikasi.


Baca juga artikel terkait MENRISTEKDIKTI atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Alexander Haryanto