Obituari

Mengenang Dwi Koendoro, Pencipta Panji Koming yang Multitalenta

Infografik Obituari Dwi Koendoro
Dwi Koendoro, pencipta tokoh kartun Panji Koming yang muncul setiap hari Minggu di harian Kompas . FOTO/ facebook.com/dwi.koendoro
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 26 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Dwi Koendoro bukan sekadar komikus biasa. Karya film iklan dan dokumenternya juga pernah diganjar penghargaan.
tirto.id - “Wah, iya? Komikus keren tuh...” seru Rudi saat saya kabarkan padanya bahwa komikus Dwi Koen mangkat, Kamis (22/8/2019).

“Iya, subuh tadi meninggalnya,” jawab saya.

Rudi merupakan seorang pedagang buku lawas yang saya kenal sejak masih mahasiswa. Kamis sore itu saya dan Rudi ketemu di gelaran Jakarta International Literary Festival (JILF) di Taman Ismail Marzuki. Di selasar Teater Besar kami ngobrol hingga sampailah kabar meninggalnya sang maestro.

Demi mendengar kabar itu sejenak dia terdiam, matanya memandang kekosongan ruang di depannya. Baginya yang sudah bertahun-tahun akrab dengan buku-buku lawas, termasuk juga komik lawas, Dwi Koen bukanlah sekadar nama biasa. Kata “keren” yang spontan terucap olehnya adalah tengara tegasnya.

“Gue paling suka itu komiknya yang Sawung Kampret. Gue lupa terbit di majalah apa dulu, tapi terus diterbitin jadi buku. Ceritanya di zaman VOC gitu,” ujarnya.

Lalu mengalirlah ingatannya tentang komik itu, tentang seorang jagoan Sunda Kelapa yang asalnya dari Jawa bagian timur. Rupa-rupanya Sawung Kampret masih keturunan jauh Panji Koming—karakter komik lain yang juga anggitan Dwi Koen—yang seorang abdi Majapahit. Juga tentang bagaimana Sawung Kampret membikin repot VOC dan antek-anteknya.

“Itu komik kocak banget pokoknya. Ya, kayak Panji Koming yang tiap Minggu di Kompas,” katanya.

Saya sendiri lebih mengenal Dwi Koen sebagai penganggit komik strip Panji Koming itu. Latarnya memang di masa lalu, tapi plotnya sangat aktual. Kisahnya di suatu waktu bisa berupa komentar atas kejadian sosial-politik kiwari, kadang sindiran yang satir, kadang terasa begitu filosofis.

Panji Koming tak meracau sendirian. Bersamanya hadir pula Pailul yang kritis dan slengean, Bujel dan Trinil yang lugu, para kekasih Ni Woro Ciblon dan Dyah Gembili, juga Mbah yang tampaknya seorang pendeta—atau mungkin dukun. Selain mereka yang rakyat biasa, masih ada Denmas Arya Kendor di bangsawan Majapahit yang arogan, Culas, tapi sering juga sial.

Majapahitnya Panji Koming tentu saja adalah refleksi dari Indonesia. Dengan begitu, kisah-kisahnya adalah komentar atau kritik tak langsung terhadap penguasa dan juga masyarakat. Itu ketahuan juga dari seringnya Dwi Koen menyisipkan tokoh penguasa Majapahit dengan wajah yang sekilas mirip dengan tokoh politik zaman ini.

“Sayang sekali, ya...” kata Rudi, mungkin merasa kehilangan.

Kami berdua sama-sama begitu mengenal karyanya, tapi tentang pribadi dan proses kreatifnya wawasan kami sama-sama terbatas. Bisa jadi juga banyak orang lebih mengenal Panji Koming daripada nama penciptanya. Maka momen wafatnya sang maestro ini sekaligus juga momen berkenalan dengannya. Dan rupa-rupanya, atributnya sebagai seniman tidaklah tunggal.


Pada Mulanya Adalah Snow White

Nama lengkapnya adalah Dwi Koendoro Brotoatmodjo dan lahir di Banjar, Jawa Barat, pada 13 Mei 1941. Ayahnya, Soemantri Brotoatmodjo, adalah seorang insinyur. Sementara ibunya Siti Soerasmi Brotopratomo berasal dari keluarga seniman, penari Jawa, penata gending, dan penulis. Maka tak heran bahwa Dwi Koen kemudian memilih seni sebagai jalan hidupnya.

Dwi Koen dikenal suka menggambar dan membuat komik sejak sekolah dasar. Biasanya komik-komik buatannya itu dibaca saudara-saudara dan teman. Saat remaja, komik strip karyanya pertama kali muncul di majalah Teratai yang terbit di Jakarta pada 1957.

Di sekitar tahun itu juga minatnya bertumbuh, dari gambar statis ke gambar bergerak. Muasalnya adalah film Snow White dan film-film bikinan studio Disney yang kerap ia tonton. Gandrunglah Dwi Koen pada animasi.

"Sejak melihat film-film Walt Disney, cita-cita saya hanya satu, yaitu bikin film animasi," ujarnya sebagaimana dikutip Seno Gumira Ajidarma dalam artikel Dunia Para Kartunis: Dwi Koen, Humor yang Menggugat, Panji Koming Semula Hanya Sambilan.

Usai menamatkan sekolahnya, Dwi Koen remaja memutuskan untuk studi film animasi. Hanya saja, di zaman itu di Indonesia belum ada program studi film, apalagi animasi. Maka, pada 1961 ia memilih program studi yang masih dekat dengan itu dan sebenarnya sudah ditekuninya, Ilustrasi Grafis di Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI, Yogyakarta.

Sebagaimana diakui Dwi Koen dalam Yuk, Bikin Komik (2007), sambil kuliah ia juga makin rajin berkarya. Komik strip dan ilustrasinya sering kali muncul di lembar-lembar harian Kedaulatan Rakyat dan mingguan Minggu Pagi. Di zaman itu, keduanya adalah media prestisius di Yogyakarta.

“Pada 1970 baru resmi membuat komik yang rada sesungguhnya untuk majalah Stop, Jakarta. Komik humor, di samping tugas sebagai ilustrator dan art designer,” kenang Dwi Koen (hlm. 156).



Mulanya Sambilan

Kini marhum Dwi Koen dikenal karena dua karya besarnya, Sawung Kampret dan Panji Koming. Sawung Kampret saya sebut pertama karena sebenarnya karakter ini lahir lebih dulu daripada Panji Koming. Sepenuturan Dwi Koen, karakter Sawung Kampret ia ciptakan pada 1969. Saat itu, nama karakter pendekarnya adalah Mahisa Aspirin, bukan Sawung Kampret.

“Namun, karena kesibukan di pelbagai tugas baru bisa muncul utuh pada 1990 di majalah HumOr. Kemudian, versi barunya diterbitkan penerbit Mizan,” kenangnya (hlm. 157).

Sementara Panji Koming baru muncul di harian Kompas pada 14 Oktober 1979. Terbit di koran terkenal dan beroplah besar membuat Panji Koming lebih mudah dikenal khalayak luas. Komik ini juga dikenal karena muatan satir dan kritik sosialnya.

Seno menyebut apa yang dilakukan Dwi Koen dengan Panji Komingnya adalah suatu “seni mengkritik”. Rupa-rupanya, tersebab muatan itu, Panji Koming yang semula dagelan jadi diperbincangkan, bahkan dibedah dengan analisis ilmiah.

Seno mencatat setidaknya telah ada empat karya ilmiah yang menjadi Panji Koming sebagai objek kajian ilmiah. Satu yang paling terkenal dan sudah diterbitkan jadi buku adalah Menakar Panji Koming: Tafsiran Komik Karya Dwi Koendoro pada Masa Reformasi Tahun 1998 yang ditulis Muhammad Nashir Setiawan (2002).

Tapi, siapa nyana, komik strip yang diseriusi oleh para sarjana ini bagi Dwi Koen mulanya adalah kerja sambilan belaka. Pada medio 1979 Dwi Koen didapuk jadi kepala bagian produksi di Gramedia Film. Ia merasa terjebak dalam pekerjaan yang “kering” karena tiap hari musti mengurusi administrasi.

Di saat itulah datang tawaran dari awak redaksi Kompas untuk bikin komik strip. Tawaran yang lalu ditanggapi Dwi Koen dengan antusias.

"Mula-mula saya ajukan Pailul, tapi katanya terlalu Jawa. Jadilah Panji Koming, yang lantas dianggap singkatan Kompas Minggu. Ya sudahlah!" kisah Dwi Koen sebagaimana dikutip Seno.

Dari sekadar mengisi ruang kosong di lembaran koran, Panji Koming malah lanjut terus hingga bertahun kemudian. Pernah, karena kesibukan kerja, sekali-dua Dwi Koen alpa membuat Panji Koming dan redaksi Kompas malah kebanjiran komplain.

“Ternyata strip kartun tersebut selalu ditunggu pembaca. Mulai saat itulah saya tak kenal lagi dengan istilah ‘weekend’. Setiap hari Sabtu harus setor ke Kompas. Karena Panji Koming memarodikan masalah politik, ekonomi, budaya, atau apa pun yang layak diparodikan dalam kurun mingguan,” kenang Dwi Koen (hlm. 156).



Praktisi Multimedia

Meskipun dikenal khalayak sebagai komikus, atribut Dwi Koen sebenarnya lebih komplek. Benar belaka bahwa ia mahir menggambar, tapi minat utamanya sebenarnya adalah film dan animasi. Kenyataannya pekerjaan utama Dwi Koen sejak 1976 adalah produser dan sutradara film—terutama iklan, dokumenter, dan tentu saja animasi.

Tentang ini pun ada kisahnya sendiri. Suatu kali, pada 1993, seorang wartawan Jepang meminta bertemu dengannya. Sedianya ia akan mewawancarai Dwi Koen soal komik strip Panji Koming. Si wartawan lalu menemuinya di hari kerja, saat Dwi Koen tidak menggambar tapi sedang menyunting sebuah film dokumenter.

“Dia agak heran. Saya terangkan profesi utama saya sebagai orang film. Mulai saat itu disebutkan saya sebagai praktisi multimedia,” tulis Dwi Koen dalam bukunya (hlm. 157).

Di bidang ini pun Dwi Koen adalah sineas pilih tanding. Buktinya jelas dari sederet penghargaan yang diganjarkan kepadanya. Sebutlah, misalnya, pada 1979 ketika dua iklan garapannya menjadi pemenang untuk dua kategori berbeda dalam Festival Film Iklan Indonesia. Juga jangan lupa pada Piala Citra yang diraihnya pada Festival Film Indonesia 1981 melalui film dokumenter “Sepercik Kenangan Segelombang Teladan”.

Baca juga artikel terkait KARTUN atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight