Mengenal Transplantasi Sumsum Tulang yang Dilakukan Ani Yudhoyono

Ilustrasi dokter menjelaskan Sumsum Tulang Belakang. FOTO/istockphoto
Oleh: Widia Primastika - 1 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Prosedur transplantasi sumsum tulang tak hanya menelan biaya tinggi, tapi juga memiliki risiko tinggi.
Rabu, 27 Maret 2019, putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan kepada publik bahwa ibunya telah mendapatkan donor sumsum tulang belakang.

“Alhamdulillah Pak Pramono Edhie Wibowo, adik kandung Ibu Ani memiliki kecocokan golongan darahnya,” ujar AHY di sela kampanyenya di Jawa Timur.

AHY mengatakan bahwa Ani Yudhoyono, yang saat ini tengah menjalani perawatan di Singapura karena kanker darah, telah menjalani pengecekan delapan parameter darah dan sumsum tulang belakang. Keduanya adalah syarat sebelum transplantasi dilakukan.

Meski begitu, AHY belum mengetahui waktu transplantasi tersebut dilakukan, sebab Ani masih harus menjalani beberapa siklus perawatan. “Masih ada siklus berikutnya. Setelah itu transplantasi sumsum tulang belakang. Itu pabrik sel darah yang saat ini terganggu, sehingga ter-transform jadi kanker darah. Insyaallah [sembuh],” tutur AHY.

Apa yang Dimaksud Transplantasi Sumsum Tulang?

Seperti dijelaskan dalam artikel Web MD, transplantasi stem cell atau sel induk, baik dari sumsum tulang maupun sumber lainnya, bisa menjadi alternatif pengobatan yang efektif untuk beberapa jenis kanker, seperti leukemia dan limfoma.

Menurut Cancer Research UK, sel induk adalah sel yang diproduksi di sumsum tulang. Nantinya, sel induk tersebut berkembang menjadi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.


Di dalam tubuh, ketiga sel darah tadi memiliki fungsi yang berbeda. Pada sel darah merah, kandungan hemoglobin di dalamnya bertugas mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Selanjutnya, ada sel darah putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan tubuh dan membantu melawan infeksi. Terakhir adalah trombosit yang berperan untuk membekukan darah sehingga bisa mencegah terjadinya pendarahan.

Tujuan dari transplantasi sel ini adalah untuk mengisi kembali tubuh dengan sel yang sehat dan sumsum tulang ketika kemoterapi dan radiasi selesai. Jika transplantasi sukses, sumsum tulang akan memproduksi sel darah yang baru. Transplantasi pun bisa berperan mengendalikan tubuh dari pasien.

Efektivitas Transplantasi Sumsum Tulang

Rochelle E. Curtis bersama empat rekannya pernah membuat studi berjudul “Solid Cancer after Bone Marrow Transplantation” (PDF). Mereka melakukan penelitian ini untuk mengetahui risiko munculnya kanker solid baru setelah transplantasi sumsum tulang.

Dalam penelitian tersebut, Curtis, dkk. mempelajari kondisi medis dari 19.229 pasien yang menerima transplantasi melalui prosedur transplantasi alogenik (transplantasi dari orang lain atau saudara sekandung) dan transplantasi singenik (transplantasi dari saudara kembar identik) antara tahun 1964 hingga 1992. Mereka mengamati faktor risiko yang berkaitan dengan pasien, proses transplantasi, dan perjalanan setelah transplantasi.

Dari riset tersebut, Curtis, dkk. menemukan bahwa pasien yang menjalani transplantasi sumsum tulang memiliki risiko kanker solid di kemudian hari. Berbeda dengan kanker darah, kanker solid adalah sebuah jaringan abnormal yang berbentuk padat dan mengandung kista atau area cairan.


Dalam penelitian tersebut, Curtis, dkk. juga mengetahui bahwa pasien anak-anak berusia di bawah 10 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi terkait kemunculan kanker solid.

Curtis, dkk. menduga peningkatan risiko kemunculan kanker baru setelah prosedur transplantasi kemungkinan akibat pengkondisian pra-transplantasi yang dilakukan menggunakan radiasi, perubahan fungsi kekebalan tubuh, dan perawatan penyakit primer sebelumnya.

Maka dari itu, Curtis,dkk menyarankan kepada pasien untuk tetap rajin kontrol seumur hidupnya.

Mahal dan Berisiko Tinggi

Dokter Spesialis Onkologi Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP mengatakan dalam kondisi pasien dengan leukemia akut, leukosit pasien menjadi ganas, sehingga “pabrik” dari sel darah tersebut harus diganti.

“Jadi pasien akan menjalani kemoterapi, lalu seluruh badannya akan dikasih sinar agar semua sel-sel sumsum tulang itu dimatikan, istilahnya sumsum tulangnya dikosongkan, pabriknya dikosongkan, kemudian diisi dari luar, dari luar itu dari donor biasanya,” ujar dr. Aru kepada Tirto.

Aru menjelaskan ada dua jenis transplantasi, yakni transplantasi seluruh sumsum tulang (pabrik sel) tersebut, dan transplantasi sel induk. “Jadi, sel yang akan jadi sel darah itu yang akan dimasukkan ke dalam [pabrik sel],” kata Aru.

Aru mengakui prosedur ini tak hanya mahal, tapi juga berat dan sangat rumit. Aru memperkirakan biaya yang harus dikeluarkan untuk prosedur ini sekitar 200.000 SGD, dalam rupiah nilainya hampir mencapai Rp2,1 miliar. Tak heran jika pengobatan ini kebanyakan dilakukan oleh golongan menengah ke atas.


Tak hanya itu, risiko yang wajib dipertimbangkan oleh pasien pun cukup tinggi, sebab ketika pabrik sel tersebut dikosongkan, kekebalan tubuh pasien akan nol sehingga pasien berpotensi terkena infeksi.



“Itu kan sumsum tulang itu kan merupakan pabrik sel darah putih, kan. Sel darah putih itu kan merupakan sistem pertahanan tubuh, kalau markas pasukannya dihancurkan, kan enggak ada yang membela negara,” ungkap Aru.

Meski sumsum tulang tersebut telah memperoleh donor, Aru menjelaskan sel darah memerlukan waktu agar populasi sel darah bisa terisi kembali, sehingga bukan tak mungkin pasien meninggal setelah transplantasi.

Oleh karena itu, proses transplantasi sumsum tulang tak bisa dilakukan dengan prosedur sembarangan. Teknologi transplantasi sumsum tulang pun juga terus diperbarui agar bisa meminimalkan risiko.

“Risiko besar. Punya potensi untuk menyembuhkan penyakitnya, tapi juga berisiko tinggi. Perlu teknologi dan tim dengan pengalaman banyak,” ujar Aru.

Aru membeberkan bahwa tim yang melakukan prosedur transplantasi sumsum tulang adalah tim khusus yang hanya direkrut untuk melakukan prosedur tersebut.

Selain itu, memilih pendonor transplantasi sumsum tulang juga tak boleh asal-asalan. Mereka harus memiliki kecocokan dengan pasien. Biasanya masih berasal dari satu keluarga. Jika pasien memiliki saudara kembar identik, pendonor yang paling cocok untuknya adalah si kembaran.

Namun, jika pasien leukemia adalah “keluarga kecil” dengan jumlah keturunan tak banyak seperti di Amerika Serikat, sumsum tulang bisa didapat melalui bank donor. “Ada bank donor, jadi kalau ada yang cocok, bisa dipakai. Sumsum [pendonor] diambil, kemudian dibekukan dalam suhu minus 80 derajat celcius,” kata Aru.

Baca juga artikel terkait LEUKEMIA atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight