Mengayuh Sepeda Ribuan Kilometer, Cara Diego & Marlies Lihat Dunia

Oleh: Restu Diantina Putri - 4 April 2019
Dibaca Normal 5 menit
Dua puluh tiga negara. Dua belas ribu kilometer. Sebelas bulan. Dua sepeda. Diego dan Marlies mengorbankan banyak hal demi melihat dunia dengan cara yang berbeda.
tirto.id - Begitu Diego dan Marlies dikabarkan sampai di Vietnam setelah berminggu-minggu mengarungi daratan Cina, saya bersorak kegirangan. Dua sosok ini patut ditemui, karena takkan ada cerita biasa dari petualangan mengayuh sepeda melintasi banyak negara dalam sebelas bulan terakhir.

Diego Yanuar dan Marlies Fennema adalah sosok menyenangkan dan sederhana, persis seperti yang mereka tampilkan di @everythinginbetween, akun Instagram yang mereka buat khusus untuk berbagi cerita perjalanan.

Dua puluh tiga negara. Dua belas ribu kilometer. Sebelas bulan. Entah berapa ribu kayuhan. Badai salju. Kelaparan. Kehujanan. Kepanasan. Berdua di tempat yang jauh dari rumah. Perjalanan Diego dan Marlies sebenarnya hanya diawali sebuah telepon sederhana sekitar tiga tahun lalu.

“Diego,” kata Marlies nun jauh di Belanda sana. “Kenapa kita tidak bersepeda saja dari Belanda ke Jakarta?”

Di seberang benua, tepatnya di Jakarta, Diego terdiam mendengar ide kekasihnya. Ingatannya melompat ke atas kabin pesawat yang ia naiki tiap kali harus menemui Marlies. Diego menghitung berapa negara yang bakal mereka lewati jika melakukan perjalanan darat.

Ajakan iseng Marlies menjadi rencana serius. Mereka akhirnya menabung selama beberapa tahun dan melakukan banyak riset sebelum menempuh perjalanan penuh risiko. Banyak hal telah mereka korbankan demi perjalanan ini. Diego dan Marlies bahkan melepas pekerjaan tetapnya yang nyaman di Belanda.


“Banyak yang bilang, wah enak banget bisa keliling dunia. Orang kaya. Tapi kami sama sekali bukan orang seperti itu. Kami sekarang tidak punya kendaraan, mobil atau motor, tidak punya pekerjaan, bahkan tidak punya rumah. Tapi kami komitmen menempatkan perjalanan ini di atas segalanya,” cerita Diego saat ditemui Tirto di kediaman kakaknya, Andien Aisyah, di Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (9/3/2019).

Awalnya mereka ingin memulai perjalanan pada 2017. Namun saat itu, keduanya masih memiliki Benny dan Jerry, dua ekor tikus peliharaan yang tak mungkin ditelantarkan. “Itu yang memberatkan kami. Karena kami sayang sekali pada mereka. Jadi kami menunggu saja, sembari terus menabung,” kata Marlies.

Nijmegen, kota tempat tinggal Marlies, menjadi titik nol perjalanan besar mereka keliling dunia dari atas dua pedal pada 2 April 2018. Mereka menamai perjalanan ini Everything in Between.

Memaknai Ulang Hidup dari Hal-hal Sederhana

Bulgaria, menurut Marlies, selalu menjadi negara paling berkesan dalam perjalanan mereka. Banyak hal mereka alami di sana. Setiap harinya Diego dan Marlies harus berkemah dan beradaptasi dengan cuaca buruk.

“Setiap hari kami berada di luar ruangan. Kami harus berdamai dengan berbagai elemen. Dengan matahari, cuaca, bukit, salju. Setiap hari harus menemukan tempat berlindung yang baru. Ini sebuah cara hidup yang berbeda dan baru bagiku. Dan itu setimpal,” kenang Marlies.

Sementara bagi Diego, Tajikistan adalah negara dengan keadaan geografis paling menakjubkan. Kendati demikian, ia tetap menempatkan masyarakat Iran sebagai orang-orang terbaik yang mereka temui.

“Ah ya, Iranians,” seru Marlies menimpali Diego.

Sebelum menyentuh Iran, Diego dan Marlies punya pandangan tertentu mengenai negara bangsa Parsi ini. Sejarah konflik dan keadaan geografis yang dikelilingi gurun pasir, membuat mereka berpikir dua kali. Ekspektasi rupanya berbeda dengan realitas, hampir seratus persen. Diego mengatakan tak ada yang menandingi keramahan masyarakat Iran.


Saya memperhatikan belang di kulit kaki Diego yang membentuk pola sandal gunung akibat terpapar sinar matahari. Pola belang di kaki keduanya sudah mencuri perhatian saya sejak mereka mengunggah foto dari Tehran, Iran.

“Baik orang maupun makanannya benar-benar menyenangkan. Entah kenapa di sana semua makanan terlihat segar. Padahal mereka di tengah gurun. Dan semua orang yang kami temui menawari kami banyak kebaikan. Mulai dari menginap hingga uang. Mereka memperlakukan kami, terutama Marlies dengan sangat hormat,” cerita Diego.

Di sana, mereka sempat bertemu dengan seorang pria baik hati. Pada saat hari terakhir di Iran, pria tersebut menawari apapun miliknya untuk mereka.

“Aku sempat bercanda meminta mobilnya. Dan ia langsung memberikan kuncinya. Aku kaget juga karena kami tahu dia bukan orang kaya. Itu luar biasa,” timpal Marlies.

Bagi banyak orang, termasuk saya, perjalanan mereka mungkin adalah sesuatu yang besar. Tapi tidak bagi Diego dan Marlies. Keduanya justru banyak belajar dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya saat mereka bertemu seorang pedagang kelapa di Malaysia. Saat mereka datang dan ditawari kelapa gratis, warungnya masih sangat ramai.

“Jam 4 sore, warung itu tutup walaupun pelanggan masih ramai. Tapi dia tetap memilih menutup warungnya hanya karena ingin pulang dan beristirahat. Dia tidak berpikir soal uang lagi,” kenang Diego, berusaha mengingat nama pria pedagang yang dimaksud.

Yang Terjadi di Tajikistan

Marlies tak pernah berbicara pada dirinya sendiri sebanyak saat mereka berada di sebuah pegunungan di Tajikistan.

Ayo, jangan menyerah. Kamu bisa,” Marlies menyemangati diri sendiri. Ia sempat ingin menyerah.

Apa yang kulakukan di sini? Aku bisa mati.” Marlies merasakan wajahnya membeku.

Diego sudah kehabisan kata-kata. Jiwa dan raganya luar biasa lelah di tengah badai salju yang mulai mengintai di belakang. Di tengah keputusasaan, kedinginan, dan kelelahan di atas ketinggian lebih dari 4.600 meter di atas permukaan laut, mereka berhasil melewati perbatasan Tajik. Seorang anak perempuan tiba-tiba muncul menawari mereka untuk bermalam di rumahnya.

Diego dan Marlies saling pandang. Tanpa perlu kata-kata dari satu sama lain, keduanya mengangguk. Tepat setelah keduanya masuk rumah, badai salju hebat menghantam pegunungan Tajikistan. Semuanya segera menjadi putih. Bagian perjalanan ini juga dituliskan mereka dalam salah deskripsi foto yang dipamerkan dalam eksibisi Everything in Between yang digelar di Kopi Kalyan, Barito, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Aku tidak bisa membayangkan kalau kami tidak bertemu dengan anak itu. Kami pasti berkemah di luar,” kata Marlies.

Walaupun tak diungkapkan eksplisit oleh keduanya, Tajikistan jelas memberi pengalaman luar biasa bagi pasangan ini. Negara sempalan Uni Soviet itu merupakan negara termiskin ke-6 di Asia. Setelah perang sipil (1992-1997), ekonomi Tajikistan belum benar-benar bangkit.


“Kami disuguhi roti untuk makan. Roti itu dibungkus sedemikian rupa agar awet selama beberapa hari. Rotinya keras sekali sampai-sampai kau bisa menggunakannya untuk memecahkan kaca jendela,” ujar Marlies.

Lalu tibalah krisis. Air bersih jadi barang langka. Diego maupun Marlies selalu merasa bersalah jika harus menggunakan air bersih dalam jumlah banyak, misalnya untuk mandi. Tak punya pilihan, Marlies nekat mandi salju.

“Aku benar-benar butuh air segar. Jadi aku keluar dan menggosok-gosokkan tubuhku dengan salju. Dan itu dingin sekali,” cerita Marlies.

Di Kota Nijmegen, Marlies adalah seorang pengajar. Ia memiliki seorang murid imigran dari Tajikistan yang tak bisa pulang kampung. Sebelum beranjak, Marlies menyempatkan mengambil beberapa genggam tanah Tajikistan sebagai oleh-oleh untuk muridnya. "Aku ingin menunjukkan sebagian dari kampung halamannya padanya."


Melihat Wajah Dunia yang Sesungguhnya

Melakukan perjalanan di atas sepeda jelas berbeda dengan backpacking. Diego dan Marlies harus pintar-pintar mencari rute yang dapat dilalui sepeda berbobot 50 kilogram lengkap dengan bawaan masing-masing. Sebisa mungkin mereka menghindari ibukota atau kota-kota besar.

“Karena jalanan di kota itu sangat bercabang dan lebih mudah tersesat. Selain itu macet dan penuh kendaraan seperti truk,” terang Diego.

Diego dan Marlies selalu memilih jalan pinggir kota atau pelosok, alih-alih daerah langganan turis. Itulah sebabnya mereka kerap menjumpai masyarakat lokal yang lebih otentik ketimbang yang lazim ditemui di daerah turis.

“Maka dari itu, kami jarang mengambil gambar masyarakat lokal di sana. Sebisa mungkin kami berusaha menjadi bagian dari mereka. Kamera hanya akan memberi jarak,” jelas Diego. Hal ini terlihat dari unggahan @everythinginbetween yang lebih banyak berisi gambar lanskap dan foto mereka berdua.

“Karena pengalaman terbaik yang kita dapat,” imbuh Marlies, “adalah dari apa yang kita lihat, kita cium, momen-momen kebersamaan yang kita alami.”

Marlies mendekat ke Diego. Tangannya menyentuh bagian belakang kerah baju pria itu, mengambil potongan seperti label atau stiker yang masih menempel. Melihat kompaknya pasangan ini, saya penasaran untuk tidak bertanya soal pertengkaran selama perjalanan. “Kalian pernah bertengkar selama perjalanan?”

Yeah, we argued a lot,” aku Diego.

“Enggak ah,” sangkal Marlies.

Yeah, kita sering beradu argumen soal rute, kan?” kata Diego pada Marlies.

“Itu bukan bertengkar. Tapi berdiskusi. Kami berdiskusi rute mana sebaiknya yang diambil. Tapi biasanya kami lebih sering beradu argumen untuk hal-hal emosional,” jelas Marlies.

Dalam perjalanan itu, mereka banyak menyaksikan wajah dunia yang tak banyak ditampilkan. Meminjam istilah Marlies, “too much negativity—terlalu banyak hal negatif”.

Bagi Marlies, perjalanan ini jelas menguras sisi emosionalnya. Bagaimana tidak? Selama bersepeda, mereka banyak menyaksikan kerusakan, orang-orang yang menderita, lahan dihancurkan, pohon-pohon ditebang, hingga hewan yang ditabrak kendaraan dan dibiarkan begitu saja. Di Kamboja mereka melihat orang yang sekarat di pinggir jalan.

“Terlalu banyak ‘mengapa’ di kepalaku. Mengapa begini? Mengapa begitu? Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Itu membuatku sedih. Aku harus membaginya dengan Diego. Karena aku hanya punya dia saat itu,” ujarnya putus asa.

Marlies kemudian membuka sebuah buku kecil bersampul cokelat yang gemuk dengan sisipan kertas.

“Ah ya, ini jurnal pribadiku selama dua tahun. Semua catatan perjalanan kami kucatat di sini. Setiap hari.”

Selama perjalanan, Marlies meminta orang-orang yang ia temui untuk menulis sesuatu. Marlies belum membaca satu pun darinya. Ia bilang, surat akan ia buka pada tanggal yang sama ketika surat ditulis pada tahun sebelumnya.

“Omong-omong, jurnal ini terbuat dari kotoran gajah yang didaur ulang.”


Infografik Diego dan Marlies
Infografik Diego & Marlies

Pemahaman yang didapat dari perjalanan sebelas bulan nyatanya telah memberi wawasan baru bagi Diego dan Marlies, bahwa untuk tahu apa yang terjadi di dunia, sejatinya manusia tak perlu mengelilinginya.

“Mulai saja dari lingkungan sekitar dulu. Sesederhana tidak buang sampah sembarangan, misalnya. Kalau semua orang peduli dengan sekitarnya, saya pikir akan membuat dunia jadi lebih baik,” kata Diego.

Diego dan Marlies sadar perjalanan ini terlalu berharga untuk dinikmati sendiri. Itulah kenapa mereka membuat akun Instagram khusus bernama @everythinginbetween

Selain berbagi cerita perjalanan, akun itu dibikin sebagai upaya penggalangan dana untuk kemanusiaan, hewan, dan tumbuhan. Melalui kitabisa.com, Diego dan Marlies menginisiasi kampanye satu euro satu kilometer dengan target 15.000 euro (Rp260 juta). Dana itu kemudian disalurkan ke tiga yayasan, yakni Yayasan Lestari Sayang Anak, Jakarta Animal Aid Network (JAAN), dan Kebun Kumara. Dari kampanye tersebut mereka berhasil menggalang dana hingga lebih dari Rp329 juta.

Baca juga artikel terkait TRAVELLING atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Windu Jusuf