Kudeta Orang-Orang (Nazi) Jerman di Pulau Nias

infografik kudeta nazi nias
Enam tentara NAZI Jerman yang terdampar di Indonesia. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 26 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Orang-orang Jerman yang ditawan di Gunungsitoli, kota tertua dan terbesar di Nias, melancarkan kudeta dengan merebut gudang senjata. Mereka berkuasa sesaat dengan membuat lambang Swastika ala Nazi.
tirto.id - Meski letaknya terpencil, seberang barat Pulau Sumatera dan berukuran sekira 5,6 ribu kilometer persegi, Pulau Nias sudah jadi tempat wisata pada masa kolonial. Menurut pengakuan Drs. A Visser dalam Kenang-kenangan Pangreh Praja Belanda 1920-1942 (disusun SL van der Wal, 2001), Pulau Nias pernah dikunjungi wisatawan Amerika.

Beberapa kapal wisata Amerika singgah ke pulau itu. Sisi eksotis Nias pada masa itu adalah sisi selatan pulau tersebut. Sebuah kampung tua di Teluk Dalam bernama Böwömataluö, bertengger di sebuah bukit, yang masih menyisakan rumah-rumah tua nan kokoh. Suguhan atraksi hombo batu alias lompat batu sudah jadi ciri khas daerah itu hingga sekarang. Pantai dan peradaban masa lalu di pulau ini menjadi daya pikat para wisatawan masa lalu. Belakangan Pulau Nias lebih sering dikenal sebagai korban dari dampak tsunami paling dahsyat di barat daya Sumatera pada 24 Desember 2004.

Pusat administrasi Nias adalah Kota Gunungsitoli tempat Visser bertugas sebagai kontrolir. Ketika Perang Dunia II berkecamuk dan Belanda diduduki Jerman, Visser berada di Nias. Nias adalah daerah kerja misionaris orang-orang Jerman atau zending sejak era Deninger 1865. Setelah 10 Mei 1940, usai Belanda diserbu Jerman, Visser adalah pejabat yang bertanggung jawab atas penangkapan orang-orang Jerman di Nias.

“Visser menginternir orang-orang Jerman yang bekerja sebagai (pekerja) zending atau sebagai dokter,” tulis Rosihan Anwar dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925-1950 (1985). Berbulan-bulan setelah orang-orang Jerman di Nias ditahan oleh orang Belanda macam Visser, pada 20 Januari 1942, orang-orang Nias kedatangan orang-orang Jerman.

Orang-orang Jerman terakhir ini adalah korban dari kapal angkut yang dibom serdadu Jepang, 55 mil dari Pulau Nias. Selama dua hari, 36 orang Jerman bertahan hidup hingga frustrasi di tengah lautan. Mereka mendarat di Nias untuk kemudian jadi tawanan pihak Belanda. Tiba di Pulau Nias, seorang di antaranya, seorang kakek, yang merasa hidupnya tidak lagi berharga, gantung diri di pantai.

Pada 24 Januari, setelah lama berjalan kaki, mereka tiba di Hilisimaetano, pusat administrasi kolonial di Nias Selatan. Setelah dirawat sementara di rumah sakit, mereka dibawa oleh otoritas setempat ke Gunung Sitoli, pusat pemerintahan Nias. Kisah mereka dicatat Jacob Zwaan dalam Nederlands-Indië 1940-1946: Gouvernementeel intermezzo (1980) dan C. van Heekeren dalam Batavia Seint: Berlijn (1967).

Dari kisah tawanan menjadi cerita pemberontakan, dengan mendirikan pemerintah ala Nazi di Nias, belakangan jadi kisah orang-orang Jerman ini yang dicatat oleh van Heekeren, Jacobs Zwaan, serta Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil La Petite Histoire Indonesia (2004). Mungkin tak banyak yang tahu, termasuk pula orang-orang Nias sendiri, bahwa pernah ada tawanan orang Jerman yang pandangan politiknya mengikuti kiblat pemerintahan Hitler sesudah mereka merebut kekuasaan Belanda di Nias.


Mendirikan Pemerintahan Swastika

Di Gunungsitoli, kota tertua dan terbesar di Nias, setidaknya ada 60-an orang Jerman jadi tawanan. Kota ini diperintah oleh Visser sebagai kontrolir, jabatan bagi seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda di bawah asisten residen. Ada juga satu regu veldpolitie alias polisi lapangan. Namun, setelah otoritas Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati pada 8 Maret 1942, pejabat dan pegawai kolonial di Nias pun bingung. Kalijati adalah daerah di Subang, Jawa Barat, dua jam perjalanan darat dari timur Jakarta.

Di dalam tahanan, rupanya seorang tawanan bernama Albert Vehring mampu bersekongkol dengan anggota polisi pribumi yang jadi sipir penjara. Si polisi sudah muak terhadap majikan Belanda-nya. Menurut Visser, penjagaan di penjara ini lemah. Begitu juga gudang senjata milik pemerintah kolonial.

Diam-diam orang-orang Jerman berhasil membebaskan diri pada Minggu malam, 29 Maret 1942, berkat bantuan polisi-polisi pribumi yang tidak lagi tunduk pada pemerintah Belanda. Begitu bebas dari sel penjara, mereka menuju gudang senjata dan mengambil perlengkapan senjata api.

Tanpa menunggu lama, orang-orang Jerman mengepung rumah-rumah orang Belanda di Gunungsitoli. Dokter Heidt asal Bandung memimpin perebutan kekuasaan itu. Kini kondisi kekuasaan berbalik.

Orang-orang Belanda tidak berdaya. Mereka jadi tahanan, termasuk Visser. Tak hanya menawan orang-orang Belanda di Gunungsitoli, orang-orang Jerman ini bergerak ke Hilisimaetano. Esoknya, dua kapal kecil yang hendak mengambil beras untuk Jepang mendarat di Gunungsitoli. Dua kapal itu segera dikuasi orang-orang Jerman.

Setelah mereka menguasai Pulau Nias, salah seorang bernama Fischer, yang mereka panggil dengan nada hormat sebagai "Perdana Menteri," membuat lambang Swastika ala pemerintahan sosialis-nasionalis Nazi Hilter.

Pulau Nias, di tangan orang-orang Jerman bekas tawanan Belanda ini, tanpa diketahui oleh pusat pemerintahan Nazi di Berlin, dikuasai untuk sementara oleh pemerintahan ala Nazi.

Sekutu Nazi Jerman terdekat adalah Jepang, yang sama-sama punya semangat invasi dan fasisme kanan. Seminggu setelah kudeta, pada 5 April, tujuh orang Jerman diutus ke seberang pulau Nias, Sibolga, untuk mencari hubungan dengan Jepang. Bersama ketujuh orang itu, diangkut pula orang-orang Belanda dan Inggris yang jadi tawanan mereka.

Dua minggu setelahnya, 17 April 1942, tentara Jepang mendarat di Gunungsitoli. Saudara Tua ini disambut meriah oleh orang-orang Indonesia. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Mereka memberi hormat ala "Hail Hitler!" Pada 20 April, mereka bahkan merayakan hari ulang tahun "sang Fuhrer" alias si pemimpin Adolf Hitler.

Empat hari kemudian, lewat jalur laut, pasukan Jepang menduduki daerah Teluk Dalam dan Hilisimaetano. Serdadu-serdadu Jepang bergerak menguasai Nias tanpa kesulitan berkat kudeta orang-orang Jerman sebelumnya terhadap otoritas Belanda di Nias yang memang tidaklah seberapa kuat.

Dengan berkuasanya Jepang di Pulau Nias, orang-orang Jerman yang merangkai lambang Swastika ala NAZI ini pun meninggalkan pulau tersebut. Mereka menuju Sibolga. Hanya seorang yang tidak ikut dalam rombongan tersebut. Ia adalah dokter Heidt, yang memilih bertahan di Nias. Tragisnya, orang ini, pada Agustus 1942, memutuskan bunuh diri karena tak kuasa melawan sepi di Pulau Nias.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
DarkLight