Menuju konten utama

Kriteria Baru Pasien Sembuh COVID-19 dari WHO

Kriteria baru soal pasien COVID-19 yang dipulangkan menurut WHO.

Kriteria Baru Pasien Sembuh COVID-19 dari WHO
Ilustrasi Corona. foto/istockphto

tirto.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) rilis kriteria pasien yang dapat dipulangkan dari isolasi akibat infeksi virus COVID-19 pada 27 Mei 2020 lalu. Kriteria baru tersebut didasarkan pada temuan bahwa pasien yang gejalanya telah sembuh mungkin masih positif COVID-19 bila dites menggunakan Rapid Test maupun PCR selama beberapa minggu.

Terlepas dari hasil tes positif ini, pasien-pasien ini disebut diklaim memiliki tingkat menularkan yang rendah kepada orang lain.

Kriteria terbaru tersebut dapat diterapkan kepada seluruh pasien kasus COVID-19 tanpa memperhatikan lokasi isolasi dan keparahan penyakit. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

- Untuk pasien dengan gejala: dapat pulang setelah 10 hari gejala tersebut muncul, ditambah setidaknya tambahan 3 hari tampa gejala (termasuk tanpa demam dan masalah pernapasan).

- Untuk pasien tanpa gejala: dapat pulang setelah 10 hari tes menunjukkan positif SARS-CoV-2

Sebagai contoh, jika pasien memiliki gejala selama dua hari, maka pasien tersebut dapat dipulangkan setelah 10+3 = 13 hari dari gejala tersebut muncul. Sementara jika pasien memiliki gejala selama 14 hari, maka pasien dapat dipulangkan setelah 14 + 3 = 17 hari setelah gejala muncul.

Lebih lanjut, jika pasien memiliki gejala selama 30 hari, maka ia dapat dipulangkan setelah 30+3 = 33 hari setelah gejala muncul.

Sebelumnya, WHO menyarankan untuk tidak memulangkan pasien jika dalam dua kali pemeriksaan berturut-turut tidak menunjukkan hasil negatif baik pada Rapid Test maupun PCR Test, setidaknya dalam 24 jam.

Rekomendasi pertama ini, disebutkan WHO, berdasarkan pada wabah SARS dan MERS yang disebabkan keluarga virus yang sama dengan COVID-19, virus corona.

Setelah rekomendasi pertama tersebut, WHO mendapatkan umpan balik yang menyatakan dua kali tes dalam kurun 24 jam tersebut sangat sulit dilakukan. Terbatasnya alat-alat laboratorium, perlengkapan, dan personil di area transmisi menjadi pemicu sulitnya dua kali tes pemeriksaan tersebut.

Adanya deteksi virus RNA dalam sampel seseorang tidak membuktikan bahwa seseorang tersebut dapat menularkan virus kepada orang lain. Faktor yang menyebabkan virus menyebar dari satu orang ke orang lain adalah ketika virus tersebut dalam kondisi bereplikasi. Hal ini ditambah dengan adanya perilaku yang menularkan termasuk batuk atau bersin yang menyebarkan droplets.

Pada umumnya, 5-10 hari setelah infeksi virus COVID-19 tersebut, pasien akan segera memproduksi antibodi terhadap virus tersebut. Adanya antibodi tersebut membuat tingkat transmisi virus menurun.

Dengan bukti yang menunjukkan adanya kelangkaan virus dalam sampel pernapasan setelah 9 hari gejala yang nampak terlebih pada pasien dengan penyakit ringan, tampaknya aman untuk memulangkan pasien dari isolasi. Tidak hanya itu, kondisi pasien tersebut biasanya juga disertai dengan peningkatan kadar antibodi dan berkurangnya gejala yang dimiliki.

Di sisi lain, penting untuk diingat bahwa gejala yang muncul pada pasien harus telah berhenti setidaknya tiga hari sebelum dilepaskan dari isolasi sebagai kriteria klinis. Waktu minumin isolasi tersebut adalah 13 hari sejak gejala muncul.

Hingga kini, kasus virus corona atau COVID-19 telah mencapai 9.194.445 di seluruh dunia menurut catatan Worldometers dikutip Tirto pada Selasa (23/6/2020) pukul 14.26 WIB. Angka kematian terus meningkat hingga mencapai 474.503 jiwa, sementara yang dinyatakan sembuh 4.941.653 orang.

Saat ini, kasus COVID-19 yang masih aktif berjumlah 3.778.289 pasien dengan rasio perbandingan 98 persen dalam kondisi penyakit ringan, dan 3 persen sisanya dalam keadaan fatal.

Lima negara dengan kasus terbanyak antara lain Amerika Serikat dengan total kasus 2,3 juta, Brazil dengan kasus 1,1 juta, Rusia dengan kasus 592 ribu, India dengan kasus 440 ribu, dan Inggris dengan total kasus 305 ribu.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Dinda Silviana Dewi

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Yantina Debora