15 September 2004

Kisah Johnny dan Pembubaran Ramones

Reporter: - 15 September 2021
Dibaca Normal 4 menit
“Kami memiliki selera bermusik yang sama dan senang berdandan. Kami adalah teman main yang kemudian sepakat membentuk grup band.”
tirto.id - Selain disco, funk, smooth jazz, fusion, dan soul, salah satu genre musik paling bersinar di dunia Barat pada dekade 1970-an adalah punk rock. Jenis musik ini memiliki ciri khas lagu-lagu berdurasi pendek, bertempo cepat, yang dipenuhi melodi dan gaya bernyanyi yang keras. Liriknya kerap membawa pesan-pesan politik dan anti-kemapanan. Istilah "punk rock" pertama kali digunakan oleh para kritikus musik AS di masa itu.

Banyak kelompok musik punk rock yang menciptakan musiknya dari modifikasi berbagai materi lama yang dianggap usang dan diberikan warna baru. Berbeda dengan musik rock yang agak rumit seperti pada umumnya di masa itu, punk rock mengandalkan sekitar tiga kord saja yang diulang-ulang sepanjang lagu yang hanya berdurasi sekitar 2 menitan. Lebih jauh, modifikasi itu tidak hanya dalam musiknya, melainkan juga dalam manajemen produksi dan pemasaran.

Salah satu band punk rock yang dianggap paling berpengaruh hingga sekarang adalah Ramones, band AS yang menjadi legenda sekaligus kiblat musik punk rock dunia pada masanya.

Ramones didirikan oleh empat orang anak muda kelas menengah yang berkumpul di Forest Hills, New York. Mereka bukan sekumpulan remaja istimewa yang punya keahlian bermusik di atas rata-rata. Bahkan, kemampuan pas-pasan itu sempat menjadi penghambat di masa-masa awalnya.

Ramones melakukan bongkar pasang formasi demi menambal berbagai kekurangan. Setelah menemukan formasi paling sesuai, mereka merekam album dan melakukan tur hampir tanpa henti selama lebih dari 20 tahun, sebelum akhirnya dibubarkan secara mufakat pada 1996. Di antara empat personel pertamanya, perselisihan tanpa henti antara Joey dan Johnny konon menjadi akar utama pembubaran Ramones.

John William Cummings atau Johnny lahir di Queens, New York. Ayahnya pekerja konstruksi yang bertugas merawat gedung-gedung agar beroperasi dengan baik. Sebagai anak yang lahir di keluarga kelas menengah biasa, Johnny tumbuh besar di antara serbuan musik rock khas ala dekade 1960-an.

Ia lahir di tengah keluarga Katolik sekuler. Ayahnya yang berdarah Irlandia tidak rutin mengunjungi gereja setiap hari Minggu. Meski Johnny menerima komuni pertamanya di usia enam tahun, ia berhenti datang rutin ke gereja karena mencontoh ayahnya. Seperti anak-anak Katolik seusianya, ia kerap bermasalah dengan otoritas suster Katolik yang terkenal punya disiplin ketat. Johnny bahkan mengaku pernah mendapat kekerasan fisik yang berlarut-larut.

“Saya tidak berhubungan baik dengan para suster itu. Mereka suka memukul saya dengan tongkat. Ibu saya tidak percaya sampai suatu hari saya tunjukkan bukti memar di badan saya. Meski tetap Katolik, saya tak akan rutin ke gereja,” tulis Johnny dalam otobiografinya yang ditulis secara pseudonim berjudul Commando: The Autobiography of Johnny Ramone (2012:26)

Memasuki usia remaja, ia mulai main musik dengan teman-teman seumurannya. Johnny kemudian membentuk The Tangerine Puppets, bersama Tommy yang belakangan jadi drumer Ramones. Band itu tidak bertahan lama karena Johnny justru bekerja bersama ayahnya. Baru di awal 1970-an, Johnny tak sengaja bertemu dengan Dee Dee yang rupanya punya hasrat yang sama untuk membentuk grup band. Dengan uang terbatas, mereka membeli gitar dan bass listrik sebagai modal awal membentuk grup band yang lebih serius. Joey dan Tommy, teman mereka, sepakat bergabung. Maka lengkaplah formasi awal Ramones.

“Kami memiliki selera bermusik yang sama dan senang berdandan. Kami adalah teman main yang kemudian sepakat membentuk grup band,” kata Johnny mengenang masa-masa ketika baru membentuk Ramones.

Sebagai gitaris, kemampuan Johnny jelas bukan yang terbaik di dunia. Hal ini betul-betul ia sadari. Di sepanjang kariernya, memang hampir tak ada tanda-tanda ia berusaha memainkan solo gitar yang panjang. Ia merasa tak perlu membuat penontonnya kagum dengan permainan gitar. Meski begitu, cara bermainnya yang unik justru menginspirasi banyak orang untuk menirunya sehingga Ramones menjadi kiblat punk rock di dunia Barat kala itu.


Teknik Downstroke dan Popularitas "Blitzkrieg Bop"

Cara Johnny memainkan gitar terbilang sederhana. Ia enggan memamerkan lengkingan menyayat hasil petikan senar ala gitaris rock pada umumnya. Teknik yang ia kembangkan justru petikan ke bawah yang intens, penuh energi, dan pastinya keras. Sebuah "downstroke". Teknik ini sederhana, tapi seperti teknik musik lainnya, tetap memerlukan latihan rutin.

Ed Stasium, seorang teknisi rekaman pernah menyebut teknik ini merupakan teknik rumit yang dibuat sederhana oleh Johnny. Padahal, menurut Ed, bahkan Eddie Van Halen pun tidak bisa melakukannya apalagi dalam durasi yang lama. Iron Maiden, grup band beken asal Inggris yang membawa aliran heavy metal, bahkan sempat mengaku mendapat pengaruh dari teknik ini.

Downstroke jadi makin beken ketika dikawinkan dengan karya-karya mereka yang punya karakteristik berdurasi singkat, tempo cepat yang cenderung tergesa-gesa, energik, dan to the point. Hasilnya: debut album mereka berhasil dirilis pada 1976.

Sire Records menjadi perusahaan rekaman yang menawarkan kontrak untuk rilisan album perdana mereka pada 1976. Lisa Robinson, editor majalah Hit Parader, menyaksikan penampilan Ramones di sebuah gelaran musik kecil-kecilan di New York. setelah menulis tentang band yang baru ditontonnya itu, Lisa menghubungi Danny Fields dan membujuknya agar mau menjadi manajer band tersebut. Fields setuju tanpa berpikir terlalu panjang. Selain itu, Fields juga meminta Craig Leon untuk menjadi produser. Lewat Leon akhirnya Ramones dilirik oleh Seymour Stein, presiden Sire Records.

Infografik Mozaik Johnny Ramone
Infografik Mozaik Johnny Ramone. tirto.id/Sabit


Johnny dan teman-temannya mulai mengerjakan album pertama itu pada bulan Januari 1976. Musik yang sederhana, teknik sekadarnya, berpadu dengan metode produksi musik yang mutakhir membuat mereka hanya perlu tujuh hari dan modal 6.400 Dollar untuk merampungkan semuanya. Lagu andalan dalam album perdana itu, "Blitzkrieg Bop", menjadi salah satu lagu punk rock paling beken sepanjang masa.

Sejak itu, mereka tidak berhenti melakukan tur musik dan mengerjakan album-album lainnya seperti Leave Home (1977), Rocket to Russia (1977), Too Tough to Die (1984) dan lain-lain. Produktivitas mereka itu disebabkan oleh mulai bersinarnya jenis musik keras. Di Inggris ada Sex Pistols dan The Clash. Di AS juga tidak kalah banyak bermunculan band-band seperti Blondie, Television, hingga Talking Heads.


Ketika mulai sukses, Ramones tetap tidak pernah jauh dari masalah. Masing-masing personel punya masalahnya sendiri. Dari masalah pribadi berupa selisih asmara, hingga ketergantungan heroin dan minuman keras. Johnny mengakuinya dalam berbagai kesempatan. Selain dalam ucapannya, ia juga menunjukkan sifat bengal yang kerap hampir merenggut nyawanya sendiri. Pada 1983, misalnya, kepala Johnny sampai cedera parah akibat adu pukul dengan Seth Macklin, sesama musisi punk.

Beruntung, dokter yang langsung melakukan operasi di kepalanya berhasil menyelamatkan nyawa Johnny. Belakangan, beberapa sumber menyebut pengalaman itu menjadi inspirasi untuk album Ramones Too Tough to Die yang dirilis pada 1984.

Meski begitu, Ramones terus bertahan dan melakukan tur serta tampil di berbagai festival hingga 1996. Pada 6 Agustus tahun tersebut, Ramones tampil untuk terakhir kalinya di Hollywood, California. Pentas itu menjadi perpisahan karena menurut para personelnya, mereka sudah tak sanggup lagi terus bermusik di tengah berbagai masalah dan ketidakcocokan.

Tidak banyak yang dilakukan Johnny usai membubarkan Ramones. Ia justru berjuang melawan kanker prostat yang dideritanya sejak tahun 1999. Pada 15 September 2004, tepat hari ini 17 tahun lalu, Johnny Ramone meninggal di rumahnya di Los Angeles dalam usia 56 tahun kurang 23 hari. Jenazahnya dikremasi dan abunya disimpan oleh Linda, istrinya.

Baca juga artikel terkait BAND PUNK ROCK atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Musik)

Kontributor: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh
DarkLight