Menuju konten utama
Edusains

Mengapa Kita Cenderung Bergerak Berlawanan Arah Jarum Jam?

Studi di Spanyol dan Jepang menemukan manusia konsisten bergerak berlawanan arah jarum jam, terlepas dari norma sosial, dominasi tubuh, dan lingkungan.

Mengapa Kita Cenderung Bergerak Berlawanan Arah Jarum Jam?
Ilustrasi penonton konser band. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ziggo Dome, Amsterdam, 17 April 2015. Malam itu para metalhead Belanda kedatangan tamu spesial dari Amerika Serikat (AS). System of A Down, band nu-metal yang sebenarnya sudah masuk masa hiatus sejak 2006, sedang menjalani tur spesial untuk memperingati 100 tahun Genosida Armenia.

Para personel band, Serj Tankian, Daron Malakian, Shavo Odadjian, dan John Dolmayan, memang punya darah Armenia, dan pada tahun itu mereka menjelajah ke 19 kota di Amerika Utara, Eropa, dan Amerika Selatan untuk menggelar tur. Amsterdam merupakan kota keenam yang dikunjungi System of A Down dalam rangkaian tur bertajuk Wake Up the Souls Tour tersebut.

Dalam tur itu, bisa dibilang yang menjadi pusat perhatian adalah pentas di Alun-Alun Republik di Yerevan, ibu kota Armenia. Itu adalah untuk kali pertama System of A Down bermain di hadapan publik Armenia dan mereka memperlakukan momen itu berbeda dengan penampilan di kota lain. Set list-nya dibuat lebih panjang, durasi konser lebih lama, dan yang paling penting semua orang bisa menyaksikan konser tersebut secara cuma-cuma.

Namun, penampilan di Amsterdam sebelas tahun silam itu punya ceritanya tersendiri. Ketika lagu hit "Toxicity" masuk ke bagian bridge, seorang penonton yang berada di tribune Ziggo Dome merekam situasi di area festival. Dalam rekaman berdurasi satu menit dua detik itu tampak bagaimana area festival berubah menjadi mosh pit raksasa. Dalam mosh pit tersebut, terbentuklah lima circle pit, di mana para pesertanya bergerak memutar.

Menariknya, kelima circle pit tersebut bergerak dengan cara yang sama, yaitu berlawanan dengan arah jarum jam (counter clockwise). Dan ternyata, ini bukan kebetulan. Dua tahun sebelum tur System of A Down tersebut digelar, sekelompok peneliti dari Cornell University sudah pernah melakukan riset khusus soal mosh pit. Dari sana, mereka mendapati bahwa 95 persen circle pit bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.

Mosh pit merupakan fenomena kerumunan yang khas dari konser musik keras, terutama metal dan punk. Para pesertanya, yang sering disebut mosher, bergerak secara acak dan saling bertabrakan satu sama lain tanpa arah yang jelas. Secara kasat mata, mosh pit terlihat seperti kaos murni. Namun, di balik kekacauan itu, ada prinsip-prinsip fisika yang bekerja.

Para peneliti Cornell yang dipimpin Jesse Silverberg melihat gerakan acak para mosher itu secara statistik menyerupai perilaku partikel gas. Kecepatan para mosher terdistribusi mengikuti pola yang dalam fisika dikenal sebagai distribusi Maxwell-Boltzmann, yang biasanya digunakan untuk menggambarkan kecepatan partikel dalam gas pada suhu tertentu.

Ilustrasi penonton konser band

Ilustrasi penonton konser band. FOTO/iStockphoto

Sementara itu, circle pit adalah kondisi di mana para mosher berhenti bergerak secara acak dan mulai berputar bersama membentuk lingkaran, layaknya pusaran air. Fenomena ini dalam ilmu fisika disebut sebagai vortex state, yaitu kondisi teratur yang muncul dari sistem yang sebelumnya tidak teratur. Para peneliti Cornell memodelkan fenomena ini menggunakan simulasi komputer, dan simulasi tersebut berhasil mereproduksi dua kondisi tadi: kaos ala gas dan keteraturan ala pusaran.

Dalam simulasi komputer, peluang sebuah pusaran untuk bergerak searah atau berlawanan dengan arah jarum jam sebenarnya sama besarnya. Akan tetapi, praktik di lapangan tidak demikian. Ketika para peneliti melihat rekaman circle pit dari konser nyata, yang dikumpulkan dari berbagai negara termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, hasilnya, ya, itu tadi. Sebanyak 95 persen circle pit yang terekam bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, dan perbedaan ini secara statistik sangat signifikan dengan nilai p di bawah 0,001 (peluang terjadinya efek atau perbedaan akibat kebetulan sangat kecil, yaitu kurang dari 0,1%).

Kala itu, para peneliti Cornell menduga bahwa kecenderungan ini mungkin berkaitan dengan dominansi tangan atau kaki kanan pada manusia, yang diketahui bisa memengaruhi preferensi arah belokan. Akan tetapi, dugaan tersebut terbantahkan lewat sebuah studi yang hasilnya terbit belum lama ini.

Studi ini, bisa dikatakan, lebih sistematis dan terstruktur, dan dilakukan di dua negara sekaligus. Iñaki Echeverría-Huarte, peneliti dari Universidad de Navarra di Spanyol, dan koleganya dari University of Tokyo mulai penasaran dengan fenomena yang sama ketika menganalisis rekaman video dari eksperimen social distancing pada masa pandemi COVID-19. Dari video-video eksperimen tersebut, mereka menyadari bahwa, dalam 32 dari 33 percobaan, orang-orang secara konsisten lebih memilih berbelok ke kiri ketika bergerak dan berbalik arah.

Berangkat dari temuan itu, mereka kemudian merancang serangkaian eksperimen baru. Eksperimen utama mereka dilakukan di arena melingkar dengan radius lima meter di Universidad de Navarra, Spanyol. Sekelompok sukarelawan diminta berjalan bebas di dalam arena itu selama beberapa menit. Sebelum eksperimen kelompok dimulai, setiap peserta dites secara individual. Mereka diminta berjalan lurus menuju dinding, lalu berbalik. Dari situlah para peneliti mengkategorikan mereka sebagai right-turner (orang yang cenderung belok kanan) atau left-turner (orang yang cenderung belok kiri).

Hasilnya konsisten. Tidak peduli berapa proporsi right-turner atau left-turner dalam kelompok, tidak peduli berapa banyak orang yang ada di dalam arena, kerumunan itu hampir selalu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Nilai polarisasi rata-rata kelompok, sebuah ukuran matematis untuk menghitung seberapa kuat kecenderungan rotasi itu, secara konsisten positif di sekitar angka 0,2. Angka positif berarti berlawanan arah jarum jam.

Para peneliti kemudian mencoba mengeliminasi berbagai penjelasan yang mungkin satu per satu. Hipotesis pertama, mungkin tembok arenalah yang memengaruhi orang untuk berputar. Untuk menguji ini, mereka mengulang eksperimen di halaman sekolah seluas sekitar 50 kali 60 meter bersama lebih dari seratus siswa remaja, tanpa ada batas arena yang jelas. Hasilnya tetap sama. Kerumunan cenderung berputar berlawanan arah jarum jam.

Hipotesis kedua, jangan-jangan ini soal bagaimana orang menghindari tabrakan satu sama lain. Di Spanyol dan sebagian besar Eropa, orang cenderung menghindar ke kanan ketika berpapasan. Teorinya, kebiasaan itu bisa memunculkan rotasi berlawanan arah jarum jam di arena tertutup.

Untuk menguji ini, para peneliti mereplikasi eksperimen di Jepang, di mana orang justru cenderung menghindar ke kiri ketika berpapasan di koridor. Jika hipotesis kedua benar, maka di Jepang seharusnya muncul rotasi searah jarum jam. Hasilnya? Sama saja. Orang-orang tetap bergerak berlawanan arah jarum jam, dengan hampir semua percobaan menunjukkan nilai polarisasi positif.

Ilustrasi penonton konser band

Ilustrasi penonton konser band. FOTO/iStockphoto

Hipotesis ketiga, bisa jadi ini adalah norma sosial yang tidak disadari. Para peneliti menguji ini dengan survei terhadap 168 orang di Spanyol, menggunakan kerangka teoretis sosiolog Cristina Bicchieri untuk mengidentifikasi apakah ada norma sosial yang bekerja di sini. Namun, hasilnya justru terbalik. Kalaupun ada norma sosial yang dominan, norma itu malah mengarah ke searah jarum jam, bukan sebaliknya.

Jika ketiga hipotesis itu sudah gugur, lantas apa yang jadi penyebabnya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti meminta lebih dari 200 orang berjalan sendirian, satu per satu, di dalam arena tertutup selama 60 detik. Tidak ada kerumunan, tidak ada orang lain untuk dihindari, tidak ada interaksi sosial. Setiap orang berjalan sendiri.

Dari 200 peserta lebih itu, para peneliti kemudian membandingkan kecenderungan rotasi berdasarkan berbagai faktor: apakah peserta kidal atau tidak, kaki mana yang dominan, mata mana yang dominan, dan jenis kelamin. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik di antara semua kelompok itu. Orang kidal berputar berlawanan arah jarum jam. Orang yang dominan kaki kiri juga demikian. Perempuan dan laki-laki pun praktis tak ada bedanya.

Para peneliti bahkan mencoba membekap mata kanan peserta dengan penutup mata, untuk melihat apakah pembatasan bidang pandang kanan memengaruhi arah putaran. Hasilnya tetap tidak ada perbedaan signifikan. Kecenderungan berlawanan arah jarum jam tetap ada.

Satu-satunya faktor yang menunjukkan pengaruh nyata adalah usia. Namun, kecenderungan bergerak berlawanan jarum jam juga tidak lenyap. Malah, anak-anak kecil menunjukkan bias yang jauh lebih kuat. Dalam eksperimen terpisah yang menggunakan data dari sebuah taman kanak-kanak di Jepang, anak-anak berusia sekitar lima tahun yang berlari bebas selama kegiatan eurhythmics (kegiatan bergerak mengikuti irama musik) menunjukkan nilai polarisasi rata-rata di atas 0,7 (lebih tinggi dibanding angka orang dewasa 0,2). Anak-anak itu hampir semuanya bergerak berlawanan arah jarum jam secara bersamaan.

"Hasil penelitian kami mungkin terlihat seperti penemuan kecil yang tidak penting, tapi di alam, sebagian besar fenomena yang berkaitan dengan gerak hewan menunjukkan bahwa hewan bergerak tanpa preferensi arah," kata Claudio Feliciani, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi ini. "Bias kuat yang ditemukan pada manusia mengisyaratkan adanya asimetri di tingkat biomekanik."

Pada akhirnya, studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications Juni 2026 itu menyimpulkan bahwa kecenderungan berlawanan arah jarum jam pada manusia berasal dari sesuatu yang bersifat individual dan kemungkinan besar berakar secara biologis, bukan dari interaksi sosial atau produk budaya.

Sayangnya, para peneliti pun belum bisa memastikan apa "asimetri biologis" yang dimaksud. Mereka menduga ada hubungannya dengan asimetri sensori-motorik halus, yang mungkin melibatkan sistem vestibular di telinga bagian dalam yang mengatur keseimbangan dan orientasi tubuh. Akan tetapi, jawaban sejati dari misteri ini memang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi