Menuju konten utama

Kembangkan Marzipan, Apple Siasati Stagnannya Penjualan Mac?

Pada kuartal 1 masing-masing tahun 2015, 2016, 2017, dan 2018, total penjualan unit Mac hanya berkisar di angka 5 juta unit.

Kembangkan Marzipan, Apple Siasati Stagnannya Penjualan Mac?
Macbook Pro. Getty Images/iStock Editorial

tirto.id - Semenjak Juni 2007, Apple merilis iOS, sistem operasi mobile yang diciptakan dengan bahasa Swiff dan kernel Darwin. Melalui App Store, toko aplikasi iOS yang disediakan Apple, pengguna dapat mengunduh dan memainkan 1,8 juta aplikasi di iPhone, iPad, hingga iPod Touch yang sama. Sayangnya, Mac, lini produk yang membesarkan nama Apple sejak dekade 1980an, tak termasuk di dalamnya.

Berbeda dengan iPhone, iPad, dan iPod Touch, lini produk Mac (Macbook dan iMac) tidak memanfaatkan iOS. Mac menggunakan macOS, varian terbaru dari Macintosh, sebagai sistem operasinya.

Selain itu, meskipun hanya Mac yang bisa digunakan untuk membuat aplikasi iOS (karena X-Code aplikasi pembuat aplikasi bagi iOS hanya tersedia bagi Mac), aplikasi bagi iOS dan macOS berbeda. iOS dibuat dengan framework—kerangka kerja yang berfungsi sebagai abstraksi standar membuat aplikasi—UIKit, yang mengutamakan interaksi dengan sentuhan, sementara macOS dibuat dengan framework AppKit, yang mengutamakan interaksi dengan mouse atau kursor.

Namun, dalam Apple WWDC 2019, keterbatasan ini nampaknya akan memiliki akhir. Melalui proyek bernama Marzipan, Apple berencana membuat aplikasi-aplikasi iOS bisa dijalankan secara native di lini produk Mac.

Sebagaimana dilansir CNET, proyek Marzipan masih dalam tahap pengembangan. Dalam bocoran unjuk gigi, aplikasi iOS seperti Apple News, Stock, Voice Memo, dan Home, bisa dijalankan pada komputer Mac, khususnya yang telah menggunakan macOS Majove.

Sayangnya, dalam ulasan yang dilakukan The Verge, aplikasi iOS yang berjalan di macOS via Marzipan disebut “setengah matang,” “mimpi buruk,” “benar-benar aneh,” dan ungkapan yang menunjukan kenegatifan lainnya.

Proyek Marzipan bukanlah kerja baru Apple. Ini merupakan usaha Apple untuk membuat satu kesatuan aplikasi utuh antara iPhone, iPad, dan Mac. Dalam laporan Bloomberg, disebut perbedaan mendasar bagaimana pengguna perangkat-perangkat berbasis iOS dengan perangkat-perangkat Mac memperoleh aplikasi.

Di iOS, semua berjalan mudah via App Store. Ini tak terjadi pada Mac. Meskipun memungkinkan mengunduh via App Store, pengguna Mac lebih senang memang aplikasi baru memanfaatkan file instalasi .DMG, setara .EXE atau .MSI pada Microsoft Windows.

Lebih jauh, membuat aplikasi iOS untuk bisa berjalan di Mac dilakukan untuk memungkinkan Apple membuat satu sistem operasi utuh. Namun, Pemimpin Eksekutif Apple Tim Cook mengatakan, “Anda memang bisa menggabungkan pemanggang roti dan kulkas, tetapi hasilnya tidaklah akan menyenangkan.”

Craig Fegerighi, Kepala Perangkat Lunak Apple, di sisi lain menyebut bahwa menggabungkan iOS dan macOS adalah “kompromi” yang mungkin dilakukan. Membuat satu aplikasi bisa bekerja di berbagai perangkat, antara mobile dan desktop, bukanlah ide baru. Microsoft melakukannya dengan Universal Windows Platform. Sementara itu, Google cukup berhasil menghadirkan aplikasi-aplikasi Android pada laptop berbasis Chrome OS.

Membuat aplikasi dapat berjalan di segala perangkat menyenangkan. Dari sisi pengembangan, ini membuat biaya penciptaannya jadi murah. Menurut data yang dipacak Statista, rata-rata biaya pengembangan aplikasi dihargai $11 hingga $150 per jam, tergantung di mana pengembang tinggal.

Selain untuk membuat satu kesatuan aplikasi utuh, untuk apa sebenarnya Apple menginisiasi Marzipan?

Infografik Apple Marzipan

Infografik Apple Marzipan. tirto.id/Sabit

Menyelamatkan Mac

Dengan menginisiasi Marzipan, Apple kemungkinan di satu saat tertentu akan menggeser Intel sebagai pemasok prosesor bagi Mac. Mengapa? Hingga kini, iOS berjalan di perangkat-perangkat berbasis prosesor Ax, yang dibuat berdasarkan rancangan prosesor ARM. Dari semua produk Apple, hanya Mac yang belum terbebas dari penggunaan prosesor non-Apple.

Proyek Marzipan kemungkinan akan menjadi “pilot proyek” bagaimana aplikasi-aplikasi iOS bekerja di Mac. Jika sukses, Apple akan melangkah lebih jauh, yakni menggeser Intel dan akan menggunakan prosesornya sendiri di berbagai lini Mac.

Menggeser Intel bukan wacana baru. Pada 2018, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Apple memang berencana mengusung prosesornya sendiri di Mac pada 2020. Alasannya, Apple ingin “keleluasaan.” Leluasa menentukan apa yang harus dilakukan sebuah prosesor, keleluasaan untuk memilih kekuatan seperti apa yang harus ditingkatkan, dan sebagainya.

Sementara itu, Shannon Cross, analisis dari Cross Research, menyebut bahwa wacana mengenyahkan Intel dan Marzipan memiliki satu kesatuan. “Kami melihat Apple sedang berusaha mengintegrasikan hardware dan software," katanya.

Dengan Mac yang berbasis chip Apple, nantinya, tak ada beda terlalu jauh antara iPhone, iPad, hingga Mac. Bahkan, pengguna bisa memperoleh tenaga yang besar sebagaimana Mac digabungkan dengan mobilitas iPhone dan iPad.

Namun, lebih jauh dari itu, sebagaimana dilansir Statista, dalam empat tahun terakhir, penjualan lini Mac stagnan. Pada kuartal 1-2015, kuartal 1-2016, kuartal 1-2017, dan kuartal 1-2018, total penjualan unit Mac hanya berkisar di angka 5 juta unit.

Catatan Mac itu berbeda dengan dunia laptop secara keseluruhan. Pengapalan laptop terus meningkat saban tahunnya. Pada 2016, total pengapalan laptop berada di angka 156,8 juta. Kini, alias di 2019, angkanya menjadi 166 juta.

Di sisi lain, Microsoft pun mengalami pertumbuhan serupa. Lini tablet mereka, yang diprakarsai Surface, moncer. Pada 2016, Microsoft hanya menjual 20 juta unit. Namun, pada 2020 kelak, diprediksi sanggup mencapai 37 juta unit.

Membuat aplikasi iOS bisa bekerja untuk Mac kemungkinan adalah cara Apple untuk menggenjot kembali penjualan Mac.

Baca juga artikel terkait APPLE atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani