Menuju konten utama

ISIS Klaim Ada di Balik Serangan Teror Parlemen di Iran

Serangan tersebut, diakui ISIS, dilakukan dengan menggunakan senapan serbu, granat, dan rompi bunuh diri.

ISIS Klaim Ada di Balik Serangan Teror Parlemen di Iran
Anggota legislatif Iran duduk di dalam parlemen saat serangan di pusat Teheran, Iran, Rabu (7/6). ANTARA FOTO/TIMA via REUTERS/cfo/17

tirto.id - Dalam sebuah pertanyaan, Rabu (7/6/2017) waktu setempat, kelompok ISIS mengklaim bahwa lima petempurnya bertanggung jawab atas serangan terhadap parlemen Iran dan tempat suci Ayatollah Khomeini.

Serangan tersebut, diakui ISIS, dilakukan dengan menggunakan senapan serbu, granat, dan rompi bunuh diri, serta menewaskan sejumlah orang dan melukai hampir 60 lagi.

Kelompok tersebut juga mengancam Iran, yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk Syiah, dengan mengatakan bahwa mereka akan melakukan lebih banyak serangan di sana.

"Kekhilafahan tidak akan melewatkan kesempatan untuk menumpahkan darah mereka sampai hukum Syariah diterapkan," ujar pernyataan tersebut seperti dikutip dari Antara.

Diberitakan sebelumnya, setidaknya 12 orang tewas dalam pengeboman bunuh diri dan serangan bersenjata ke gedung parlemen Iran serta di dekat makam Ayatollah Khomeini di Teheran.

Menindaklanjuti kejadian ini, Garda Revolusioner Iran kemudian menyalahkan negara saingannya di kawasan, Arab Saudi, atas serangan ganda tersebut.

Namun, kelompok ISIS menyatakan bertanggung jawab dan telah mengeluarkan video untuk memperlihatkan pria-pria bersenjata berada di dalam gedung parlemen.

Rangkaian serangan itu muncul tak lama setelah Arab Saudi dan kekuatan-kekuatan Sunni lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Senin (5/6/2017), atas tuduhan bahwa Qatar mendukung Teheran dan kelompok-kelompok militan. Korps Garda Revolusioner Islam berpengaruh menuding Arab Saudi berada di balik serangan serangan tersebut, yang jarang terjadi di Iran.

"Serangan teroris ini terjadi hanya satu minggu setelah pertemuan antara presiden AS (Donald Trump) dan para pemimpin (Arab Saudi) terbelakang yang mendukung teroris. Fakta bahwa IS menyatakan bertanggung jawab adalah bukti bahwa mereka terlibat dalam serangan brutal itu," kata Garda dalam pernyataan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Saudi del A-Jubeir, ketika berbicara di Berlin, mengatakan ia tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dan tidak ada bukti keterlibatan kalangan pegaris keras Saudi.

Serangan itu juga memperburuk ketegangan di Iran antara Presiden Hassan Rouhani, yang baru terpilih serta merupakan sosok pragmatis, dan saingan-saingannya di antara kalangan ulama garis keras dan Garda Revolusioner.

Wakil Menteri Dalam Negeri Mohammad Hossein Zolfaghari menjelaskan, para penyerang berpakaian perempuan memasuki gerbang utama parlemen di Tehran pusat, menurut kantor berita Tasnim.

Salah satu dari penyerang meledakkan rompi bunuh diri di parlemen, kata Zolfaghari.

Sekitar lima jam setelah laporan pertama, media Iran mengatakan empat orang yang melakukan penyerangan di gedung parlemen terbunuh dan insiden itu berakhir.

Setidaknya 12 orang tewas oleh para penyerang, kata kepala departemen tanggap darurat Iran Pir-Hossein Kolivand, seperti dikutip stasiun penyiaran IRIB. Sekitar 43 orang terluka dalam serangan.

Tak lama setelah gedung parlemen diserang, seorang pengebom lainnya meledakkan rompi bunuh diri di dekat makam pendiri Iran yang dipuja, Ayatollah Khomeini, demikian Zolfaghari mengungkapkan. Tempat suci itu terletak di beberapa kilometer sebelah selatan kota.

“Penyerang kedua ditembak mati,” tuturnya.

Makam tersebut merupakan salah satu tujuan utama wisatawan dan peziarah.

Kementerian Intelijen mengatakan pasukan keamanan telah menahan "tim teroris" lainnya yang berencana melancarkan serangan ketiga.

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Politik
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari