Ingin Bebas dari Minyak, Uni Emirat Arab Pergi ke Mars

Omran Sharaf, direktur proyek untuk wahana antariksa Emirates ke Mars. AP / Jon Gambrell
Oleh: Ahmad Zaenudin - 28 Juli 2020
Dibaca Normal 4 menit
Uni Emirat Arab meluncurkan program luar angkasa.
“Beberapa jam sebelum peluncuran,” kicau Hazzaa al-Mansoori, mantan pilot pesawat tempur F-16 Uni Emirat Arab, pada 25 September 2019 lalu, “hati saya dipenuhi perasaan kemuliaan dan kekaguman yang tak terlukiskan.”

“Hari ini,” lanjut al-Mansoori, “saya membawa mimpi dan ambisi negara saya, Uni Emirat Arab, ke dimensi yang sama sekali baru. Semoga Allah memberi saya kesuksesan.”

Al-Mansoori saat itu hendak terbang mengangkasa dengan menumpang wahana antariksa Rusia Soyuz MS-15 menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Ia didampingi Jessica Meir dari NASA dan Oleg Skripochka dari Rusia. Tepat pada pukul 15.42 Eastern Time, atau 2.42 dini hari Waktu Indonesia Barat, di tanggal yang sama twit ditulis, al-Mansoori akhirnya sampai ke stasiun “termahal yang pernah dibuat manusia” yang berlokasi di orbit Bumi rendah--2.000 kilometer di atas Bumi.

Al-Mansoori sah menjadi orang Arab ketiga yang sukses menapaki luar angkasa, selepas Sultan bin Salman Al Saud dari Arab Saudi melakukannya pada 1985 tatkala menumpang misi Ulang-Alik NASA dan Muhammed Ahmed Faris, pilot pesawat tempur Suriah, yang pergi ke Mir, stasiun antariksa milik Uni Soviet, pada 1987.

“Saya akan berusaha mengingat setiap detik peluncuran itu,” tutur al-Mansoori, sebagaimana diwartakan The New York Times. “Ini sangat berarti bagi saya dan saya berkewajiban membagi pengalaman itu ke setiap orang, ke negara saya, ke semua orang Arab.”


Tapi, di dunia antariksa, Emirat tidak seperti Amerika Serikat atau Rusia. Keikutsertaan al-Mansoori ke ISS hanya dianggap sebagai unjuk gigi kekuatan harta yang dimiliki sultan-sultan Emirat. NASA bahkan tidak menganggap al-Mansoori sebagai astronaut, melainkan spaceflight participant alias turis. Pada tahun 2001, dengan ongkos hanya sebesar $20 juta, pebisnis Dennis Tito melakukan apa yang dilakukan al-Mansoori. Tidak ada yang spesial.

Emirat memang bukan AS atau Rusia, tetapi jelas sultan-sultan di sana jauh lebih kuat dibandingkan Tito. Tak sampai setahun selepas al-Mansoori menapaki ISS, Emirat kembali membuat terobosan: meluncurkan wahana miliknya, Hope, ke Mars pada 19 Juli silam.

Hope: Harapan Kejayaan Antariksa Uni Emirat Arab

Ketika Amerika Sukses menjejakan kaki di Bulan melalui misi Apollo 11 pada 1969, Uni Emirat Arab masihlah sebatas tanah jajahan Inggris dalam naungan Trucial States, atau dikenal sebagai As-Sāḥil al-Muhādin, alias Pesisir Gencatan Senjata. Uni Emirat Arab baru merdeka pada 1972, tahun ketika NASA meluncurkan misi Apollo 17, misi terakhir lembaga antariksa itu pergi ke Bulan.

Emirat sangat jauh tertinggal dibandingkan AS dalam ukuran antariksa karena start yang lambat ini. Namun, pada Desember 2017, ketika NASA telah berumur 59 tahun, Emirat ingin mengakhiri ketertinggalannya itu. Penguasa UEA Syekh Mohammed bin Rashid al-Maktoum melalui akun Twitter resminya menyatakan bahwa Emirat akan memulai misi antariksanya, dan warga Emirat dimintanya untuk “memecah segala hambatan (untuk mewujudkan misi antariksa)”.

“Kami percaya, tidak ada yang mustahil untuk dilakukan,” tegas kicauan sang Syekh.

Selain sukses mengikutsertakan Hazzaa al-Mansoori ke ISS melalui Soyuz, hingga 2019 Emirat telah sukses meluncurkan tiga satelit observasi Bumi, hasil kerjasama dengan Korea Selatan. Pada 2020, di tengah pandemi, kesuksesan itu disusul dengan peluncuran The Emirat Mars Mission, misi mengirimkan wahana Hope ke Mars.

Namun, Omran Sharaf, Project Manager Hope, menegaskan bahwa Pemerintah Emirat mewanti-wanti bahwa program antariksa yang dicanangkan negeri itu “harus dikerjakan (sendiri), bukan membeli”.


“Itu telah menjadi syarat sejak dimulainya misi antariksa,” kata Sharaf, sebagaimana dikatakannya pada Kenneth Chang untuk New York Times.

Tentu saja, karena ketertinggalan Emirat dan negara-negara kuat di antariksa seperti AS dan Rusia terlalu jauh, Emirat tidak ingin memulai misi antariksanya dari bawah. “Mereka ingin mempercepat prosesnya. Jangan mulai dari awal. Bekerja dengan orang lain. Lantas, bawa ke level selanjutnya,” tegas Sharaf.

The Emirat Mars Mission sendiri dibantu oleh Jepang dan AS. Jepang membantu Emirat dengan menyediakan roket menuju Mars, Mitsubishi H-IIA. Sementara AS, melalui Laboratory for Atmospheric and Space Physics pada University of Colorado, membantu Emirat untuk menciptakan wahana Hope yang berbiaya $200 juta. Bersama ilmuwan dan teknisi University of Colorado itulah sekitar 100-an orang pintar Emirat yang rata-rata masih berusia 30-an ikut bekerja.

Hope bukan wahana asal-asalan. Ia dibekali spektrometer inframerah, spektrometer ultraviolet, dan kamera beresolusi tinggi untuk menangkap data-data seputar Mars. Hope rencananya akan sampai di Mars pada bulan Februari tahun depan dan akan dikonfigurasikan untuk melayang-layang 200 kilometer hingga 43.500 kilometer di atas permukaan Mars.

“Kami menegaskan misi ini dilakukan untuk mengirimkan wahana ilmiah ke Mars, bukan mengirimkan sampah,” tegas Sarah al-Amiri, Menteri Ilmu Pengatahuan Emirat.

Ketika Hope sampai di Mars, wahana itu akan bertemu kawan-kawannya, tiga wahana dari NASA, dua dari European Space Agency, dan satu dari India.

Lantas, mengapa Mars?

Mars: Harapan Hidup Umat Manusia

Mimpi manusia menjejakkan kaki di tanah Mars, sebagaimana dikisahkan Gerald Walberg dalam “How Shall We Go to Mars? A Review of Mission Scenarios” (1993) telah dicanangkan umat manusia di awal dekade 1960-an, menjadi misi lanjutan selepas NASA pergi ke Bulan. Tentu, Mars berbeda dengan Bulan, yang tanpa perlu ke sana pun manusia bisa melihatnya dengan mudah. Menurut Walberg, ketika keinginan menapaki Mars mulai mengemuka, manusia memikirkan bagaimana caranya ke sana.

Lebih dari 30 tahun semenjak berencana ke Mars, ilmuwan-ilmuwan antariksa umumnya meneliti cara terbaik ke sana. Misalnya, jika menggunakan roket berkekuatan cairan kimia atau bahkan nuklir, manusia dapat mencapai ke Mars dalam waktu 1-1,5 tahun. Namun, jika menggunakan roket berkekuatan tenaga Matahari, butuh waktu hingga tiga tahun untuk mencapai Mars.

Waktu peluncuran, yang erat terkait dengan titik posisi Mars di tata surya juga berpengaruh. Menurut kalkulasi Walberg, dengan asumsi manusia atau wahana tinggal di Mars selama 60 hari, bulan November setiap tahunnya adalah saat paling tepat untuk memulai perjalanan ke Mars. Karena pada bulan itu posisi Mars relatif lebih dekat dengan Bumi.

Dalam sejarahnya, wahana Mariner 4 dari NASA adalah yang pertama yang menyapa Mars. Mariner 4 terbang dari Bumi pada 1964 dan sampai di Mars pada 1965. Wahana ini memang tidak mendarat di permukaan Mars, tetapi ia sukses memotret Mars dari dekat untuk pertama kalinya. Baru pada 1971, Uni Soviet, melalui wahananya, sukses menyentuh permukaan Mars.



Dalam The Future of Humanity: Terraforming Mars, Interstellar Travel, Immortality, and Our Destiny Beyond Earth (2019), Michio Kaku menyebut masa depan umat manusia tidak berada di Bumi. Alasannya, Jika melihat evolusi yang terjadi di Bumi, tulis Kaku, "99,9 persen bentuk kehidupan punah.” Bumi punya hukumnya tersendiri untuk memusnahkan para penghuninya, misalnya melalui bencana. Saat ini sendiri, Bumi tengah menghadapi pemanasan global, masalah nuklir, dan penyakit biologis seperti COVID-19.

“Manusia hanya memiliki dua pilihan (untuk segala masalah yang dilahirkan Bumi) beradaptasi atau mati,” tegas Kaku. Adaptasi yang dimaksud ialah mulai mencari “rumah baru” bagi umat manusia. Mars adalah salah satu jawabannya.

Tentu saja, apa yang diutarakan Kaku bukanlah motivasi utama Uni Emirat Arab meluncurkan misi ke Mars. Elizabeth Gibney, dalam paparannya di Scientific American, menyebut bahwa Emirat tengah menghadapi berbagai macam masalah, salah satunya adalah berkurangnya cagangan minyak yang selama ini menjadi sumber kekayaan para sultan Emirat. Selain itu, pemuda-pemudi Emirat saat ini kebanyakan mengenyam pendidikan teknik dan bisnis. Hanya kurang dari lima persen pemuda yang belajar di ilmu-ilmu sains dasar.

Untuk menjadi negara yang terbebas dari ketergantungan minyak, Emirat butuh memacu anak mudanya belajar ilmu-ilmu dasar yang di kemudian hari bisa diimplementasikan ke banyak bidang. Misi ke Mars, menurut penguasa Emirat, akan mampu menginspirasi anak muda.

Baca juga artikel terkait MARS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight