Erick Thohir soal BUMN Punya Kampus: Sebaiknya Fokus Inti Bisnis

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 12 Februari 2020
Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan perusahaan pelat merah sebaiknya fokus pada inti bisnis yang ia lakoni sehingga tak harus memiliki universitas.
tirto.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir akan meninjau ulang kepemilikan universitas oleh sejumlah perusahaan pelat merah. Erick bilang BUMN sebaiknya fokus pada inti bisnis yang ia lakoni sehingga tak harus memiliki universitas.

“Kalau bukan expert perguruan tinggi enggak usah masuk ke sektor perguruan tinggi. Udah banyak yang bagus-bagus,” ucap Erick dalam paparannya di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Erick mengatakan hal ini sejalan dengan rencananya merampingkan bisnis BUMN agar tidak terlalu melebar ke hal-hal yang malah membebani perusahaan itu.

Ia mencontohkan beberapa waktu terakhir, dirinya sudah membenahi 64 rumah sakit BUMN yang memiliki pangsa pasar 20 persen dari sektor rumah sakit.

Lalu ada juga fenomena banyaknya BUMN yang memiliki hotel. Jumlahnya, kata Erick, mencapai 105 buah. Atas dasar itu, Erick mengatakan akan memeriksa universitas-universitas yang sudah terlanjur dimiliki BUMN.

“Saya juga tidak mau BUMN jadi ‘palu gada’ artinya apa? Lu mau gua ada. Saya mereview apa benar BUMN perlu punya universitas? Wong, bersaing di bisnis sendiri belum tentu survive. Apalagi menjalankan sesuatu yang bukan keahliannya,” ucap Erick.

Erick menambahkan ia mau BUMN lebih berfokus menjalin kerja sama dengan universitas yang sudah ada. Menurut dia, agak kurang pas bila BUMN ikut-ikutan jadi competitor industri pendidikan.

Erick yakin kampus lebih memerlukan bantuan dari BUMN agar mereka dapat menghasilkan tenaga kerja yang bisa bersaing. Peran BUMN, kata Erick, bisa membantu pada pembelajaran yang dikerjakan oleh universitas yang sudah ada.

“Toh mereka expert-nya,” ucap Erick.


Baca juga artikel terkait BUMN atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight