Berita Internasional Terkini

Demo Tolak Pembatasan Covid di Belanda: 5 Polisi Luka, 40 Ditangkap

Oleh: Alexander Haryanto - 24 November 2021
Dibaca Normal 1 menit
Ribuan orang di Belanda turun ke jalan untuk memprotes aturan pembatasan terbaru dari pemerintah.
tirto.id - Protes terhadap aturan pembatasan Covid-19 di Belanda telah berujung kekerasan sehingga menyebabkan 5 polisi terluka dan 40 orang ditangkap di tiga provinsi.

Dilaporkan Al Jazeera, polisi dilengkapi dengan perlengkapan anti huru hara menyerang kelompok yang melakukan protes di Den Haag pada Sabtu malam. Sebaliknya, polisi melempar pengunjuk rasa dengan batu dan kembang api.

Akibat bentrok itu, 5 polisi di Den Haag dilaporkan terluka, satu di antaranya mengalami luka serius. Polisi kemudian menangkap 19 orang, salah satunya karena melempar batu melalui kaca depan ambulans yang lewat.

Polisi juga melaporkan kalau mereka menangkap 13 orang lainnya di dua kota berbeda di provinsi selatan Limburg. Kericuhan juga terjadi di provinsi utara Flevoland. Sedangkan di kota Urk, delapan orang lainnya ditangkap polisi.

Kerusuhan itu terjadi setelah polisi menembak pengunjuk rasa di Rotterdam. Dalam insiden itu, sedikitnya tiga orang terluka dan 51 orang ditangkap.

"Kerusuhan dan kekerasan ekstrem terhadap petugas polisi, polisi anti huru hara dan petugas pemadam kebakaran tadi malam di Rotterdam menjijikkan untuk dilihat," kata Menteri Kehakiman Ferd Grapperhaus dalam sebuah pernyataan.

Belanda menerapkan kembali beberapa tindakan lockdown di akhir pekan selama tiga minggu awal. Langkah itu dilakukan untuk memperlambat penyebaran virus corona Covid-19. Sebab, Belanda tengah mengalami infeksi harian pada level tertinggi sejak awal pandemi.



Pembatasan Covid-19 di Belanda

Sekarang, pemerintah Belanda berencana melarang orang yang belum divaksin memasuki beberapa tempat, dengan apa yang disebut opsi 2G.

Kantor berita AFP melaporkan, seorang pemilik toko pizza di Den Haag mengatakan, polisi menyeret beberapa orang keluar dari tokonya, mereka memecahkan kaca di pintu depan dan memukul kepalanya tanpa alasan.

"Orang-orang di sini memprotes 2G dan penguncian," kata Ferdi Yilmaz. "Mereka marah karenanya."

Sementara itu, NPR melaporkan, polisi menembak pengunjuk rasa di pusat kota Rotterdam. Akibatnya, menurut polisi, dua orang dirawat di rumah sakit setelah terkena peluru.

Saat ini, penyelidikan sedang berlangsung untuk menentukan apakah mereka ditembak oleh polisi. Kondisi orang yang terluka itu pun tidak diungkapkan.

Polisi juga mengungkapkan, petugas menangkap 51 orang, sekitar setengahnya masih di bawah umur. Seorang petugas polisi dirawat di rumah sakit dengan cedera kaki yang diderita dalam kerusuhan itu, yang lain dirawat oleh staf ambulans dan "tak terhitung" lainnya menderita luka ringan.

Walikota Ahmed Aboutaleb mengatakan: "pada beberapa kesempatan polisi merasa perlu menarik senjata mereka untuk membela diri" ketika peserta mengamuk melalui distrik perbelanjaan pusat kota pelabuhan, membakar dan melemparkan batu dan kembang api pada petugas.

"Mereka menembaki pengunjuk rasa, orang-orang terluka," kata Aboutaleb.


Baca juga artikel terkait DEMO DI BELANDA atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Alexander Haryanto
Penyelia: Iswara N Raditya
DarkLight