Menuju konten utama

Terlarang di Awal Orba, Gending Sriwijaya Tetap Jaya

Tari Gending Sriwijaya mengungkapkan kebesaran sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berpengaruh di Nusantara.

Terlarang di Awal Orba, Gending Sriwijaya Tetap Jaya
Gerak Tari Gending Sriwijaya. FOTO/Indonesiakaya.com

tirto.id - Tak hanya para seniman dan budayawan, para warga internet ikutan berkicau soal kabar bahwa pemerintah Palembang bakal "menghapus tarian Gending Sriwijaya." Kabar ini rupanya bikin pemerintah Kota Palembang dan para seniman Sumatera Selatan berang. Mereka tidak sama sekali mengganti, apalagi menghapus, tarian khas yang kuat pengaruh Hindu-Buddha itu, agama yang tumbuh bersama kebudayaannya di masa Kerajaan Sriwijaya.

Kabar "akan menghapus" tarian Gending Sriwijaya pertama kali mencuat saat ada suatu pertemuan antara Dinas Kebudayaan Kota Palembang dan para seniman Sumatera Selatan untuk membahas apa yang mereka sebut "menciptakan tarian baru," bernama Tari Palembang Darussalam, yang lebih menyiratkan nilai-nilai Islami. Selama ini, kata kepala dinas kebudayaan Palembang, tarian khas daerahnya belum ada, dan rencana ini digulirkan lewat sebuah kontes untuk memilah gerakan, kostum, dan makna tarian.

Tari‎an Palembang Darussalam akan dibawakan sebagai tarian penyambut para tamu dan disejajarkan, bukan menghapus, dengan tarian Gending Sriwijaya serta Tari Tanggai dan Tari Tepak Keraton.

Menyambut Pembesar

Surtia Ningsih, dalam kajian akhir untuk studi sarjananya di Universitas Negeri Yogyakarta, menggambarkan bagaimana Tari Gending Sriwijaya kali pertama dipertunjukkan pada 2 Agustus 1945 untuk menyambut para pembesar di halaman Masjid Agung Palembang.

Guna menyambut para tamu di hari-hari terakhir transisi pendudukan Jepang ke Republik Indonesia itu, halaman masjid dipoles hiasan-hiasan kertas, daun-daunan, dan bendera-bendera Jepang. Suasana dibikin semarak, tetapi tak ada satu pun bendera Merah-Putih berkibar.

Berikutnya, serombongan gadis anggun memasuki pelataran masjid dengan lilitan dodot songket dan penutup dada dari bahan buludru bertabur manik-manik emas. Mereka juga mengenakan beragam perhiasan mahkota, anting, hingga gelang dari logam mulia. Ketika M. Syafe’i, ketua Sumatora Tyuo Sangi In (Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera) di Bukittinggi dan Djamaluddin Adinegoro, sastrawan dan anggota Dewan Harian Sumatera, melangkah ke pelataran, dua dari para gadis penari mengalungkan untaian bunga. Setelahnya, Syafe’i dan Adinegoro menyesap sirih yang disodorkan seorang penari sebagai tanda penghormatan. Tak berapa lama, para gadis mulai memperagakan tarian.

Saat itu sedang dilakukan upacara penyambutan pembesar zaman Jepang. Syafei dan Djamaluddin berkunjung ke Kota Palembang untuk membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan. Di wilayah Jakarta, pada dasarnya, badan ini telah dibentuk dan diketuai oleh Dr.K.R.M.T Radjiman Wodyodiningrat.

Busana yang dikenakan para penari itu terbuat dari emas murni. Di momen tari Gending Sriwijaya itu kali pertama dibawakan, para penari itu adalah Siti Nuraini Assari (pengalung bunga), Sukaenah A. Rozak (pembawa tepak sirih), Gustinah A. Rohman (pengalung bunga kedua), Rogayah Harun, Delima A. Rozak, Tuhta M. Amin, Halimah M. Amin, Busron Yakib Darmi, Emma, dan R.A Tuti Zahara Akib. Ada sembilan penari yang membawakan Gending Sriwijaya, menggambarkan Batanghari (Sungai) Sembilan, yakni sembilan anak sungai Musi yang menjelaskan bahwa Sumatera bagian selatan dibangun lewat peradaban sungai.

infografik gending sriwijaya

Sejarah Tari Gending Sriwijaya

Tari Gending Sriwijaya, menurut sejarahnya, digagas pada akhir tahun 1942. Saat itu Kolonel Matsubara, Kepala Pemerintahan Umum Kantor Syu Sei Tyo Palembang atas nama Syu Tyokan, meminta kepada O.M Shida selaku kepala Hodohan (Jawatan Penerangan Jepang) membuat sebuah lagu dan tarian sebagai penyambut pembesar Jepang di Sumatera Selatan.

Permintaan ini dilanjutkan oleh O.M Shida dengan memerintahkan M.J Su’ud sebagai wakil kepala Hodohan. Sayangnya, belum lagi dibuat, M.J. Suud keburu ditangkap Kempetai, karena dianggap terlibat dalam peristiwa pemberontakan rakyat Air Hitam di daerah Musi.

Setelah tertunda beberapa lama, pada Oktober 1943, gagasan ini kembali diteruskan oleh Letkol O.M. Shida. Ia memerintahkan Nungtjik A.R, sastrawan ternama pada zamannya, yang kemudian mengajak seorang komponis andal, Ahmad Dahlan Mahibat. Syair Gending Sriwijaya kemudian lahir di tangan Dahlan dan disempurnakan oleh Nungtjik.

Kurang lebih isi syair bercerita tentang kemasyhuran dan keagungan Kerajaan Sriwijaya dari Dinasti Syailendra. Ia menceritakan masa Sriwijaya sebagai pusat agama Buddha, di Bukit Siguntang, dan memiliki peninggalan berupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Seusai menggubah lagu, bagian tarian diserahkan kepada Nyonya Tina Haji Gung, penari profesional yang dianggap ahli dalam hal adat budaya Palembang. Ia jugalah yang kemudian mengurusi properti dan busana dalam pementasan Tari Gending Sriwijaya, dibantu Sukaenah A. Rozak sebagai ahli tari. Latihan tari rutin digelar di Bioskop Saga.

Kata “gending” adalah irama dan Sriwijaya adalah salah satu kemaharajaan bahari yang berdiri sekitar 600-an Masehi. Kemaharajaan ini punya pengaruh kekuasaan luas pada abad 8 M. Wilayahnya, yang boleh jadi tidaklah terpusat, disebut-sebut membentang dari Kamboja, Thailand selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat, dan kemungkinan Jawa Tengah.

Sriwijaya diartikan sebagai "kemenangan yang gilang-gemilang" sehingga, secara harfiah, Gending Sriwijaya berarti irama kerajaan yang penuh kegemilangan. Kosa-gerak Tari Gending Sriwijaya menggambarkan kebesaran dan kemasyhuran Kerajaan Sriwijaya. Ragam geraknya dikombinasikan unsur-unsur gerak Buddhisme dan gerak tapa Budha di relief Candi Borobudur, plus unsur-unsur adat-istiadat di wilayah Batanghari Sembilan.

Unsur Nyanyian (di)Lenyap(kan)

Setelah proklamasi Kemerdekaan, lagu dan Tari Gending Sriwijaya menjadi ritus lazim menyambut kedatangan tamu-tamu kehormatan dari karesidenan, provinsi, kabupaten, serta acara-acara resmi. Namun, perkembangan kesenian daerah Sumatera Selatan termasuk Tari Gending Sriwijaya ikut terpengaruh dari Gerakan 30 September 1965.

Di masa itu, sekitar 1965-1968, lagu Gending Sriwijaya tidak lagi digunakan sebagai pengiring tarian. Gara-garanya, tuduhan terhadap aktivitas Nungtjik A.R selaku penggubah syair lagu Gending Sriwijaya yang aktif dalam gerbong kesenian Kiri. Para penari takut mementaskan tarian ini lantaran semangat anti-komunis pemerintahan Orde Baru.

Padahal, Nungtjik A.R bukanlah pencipta, tetapi hanya penyempurna syair yang sudah digubah A. Dahlan Mahibat. Larangan pementasan ini menimbulkan polemik di kalangan seniman dan masyarakat Palembang. Tetapi, pemerintah Kota Palembang mengatasi masalah ini dengan membawa Tari Gending Sriwijaya dalam Jakarta Fair pada Juni 1969.

Gemilang kejayaan Kerajaan Sriwijaya seakan berpindah sejenak pada upacara pembukaan Pekan Raya Jakarta. Tari Gending Sriwijaya kembali dipentaskan, di bawah tudung payung yang menyiratkan kebesaran raja-raja Sriwijaya, disimbolkan lewat dua pria pembawa tombak dan seorang pria pembawa payung.

Dalam pembukaan festival itu, Elly Rudi selaku pembimbing tari mengusulkan kepada Sukaenah A. Rozak sebagai salah satu penari pertama Tari Gending Sriwijaya untuk mengubah formasi. Pembawa tombak dan pembawa payung yang semula perempuan diganti laki-laki, supaya terlihat lebih gagah dan melindungi para putri yang tengah menari.

Awalnya, Gending Sriwijaya menghadirkan tarian dan nyanyian. Elly merombaknya dengan menghilangkan unsur menyanyi. Alasannya, agar penonton fokus pada kosa gerak tari. Langkah ini dikonsultasikan lebih dulu kepada pakar tari termasuk Bagong Kusudiardjo, seniman dan maestro tari Jawa klasik dari Yogyakarta.

Hingga kini, kita menikmati tariannya semata, yang diiringi pembawa tombak dan payung. Mereka menari dengan gerak yang membuhulkan kemenangan gilang-gemilang dari sebuah kerajaan agung yang dulu berpengaruh di Nusantara.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Aditya Widya Putri

tirto.id - Humaniora
Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fahri Salam