Misbar

Cinta Itu Buta: Meromantisasi Perilaku Penguntit Creepy

Tangkapan Layar Official Trailer Film Cinta Itu Buta. youtube/Timeless Picture
Oleh: Aulia Adam - 13 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kisah dua manusia yang ditikung sahabat sendiri, bertemu dalam situasi sulit, dan diromantisasi oleh ketidakmasukakalan.
tirto.id - Jika Anda perempuan, coba bayangkan situasi ini untuk sesaat:

Anda buta mendadak. Pada malam yang sama, Anda baru saja menemukan fakta mencengangkan tentang calon suami berselingkuh dengan sahabat sendiri. Lebih parahnya lagi, sahabat itu teman yang tadi sore menemani Anda ke toko baju pengantin, untuk memesan baju pernikahan yang sudah lama Anda impikan. Ah ya, Anda adalah pekerja perantau—sebut saja di Korea Selatan—dan cuma punya kakak perempuan di Indonesia yang merupakan satu-satunya keluarga.

Lantas, apa yang akan Anda lakukan?

  1. Fokus mengobati mata yang buta;
  2. Pulang ke Indonesia untuk berobat, minta dukungan moral kepada kakak Anda;
  3. Pulang ke Indonesia untuk berobat dan liburan, menyembuhkan diri dari patah hati dan kebutaan Anda;
  4. Tetap tinggal di Korea Selatan, fokus mengobati mata Anda;
  5. Semua pilihan yang melibatkan pengobatan kebutaan Anda.

Diah (Shandy Aulia) sama sekali tidak diberi pilihan-pilihan di atas dalam naskah Cinta Itu Buta. Ia bahkan tak punya satu pun adegan di rumah sakit atau berkonsultasi dengan dokter. Kita sebagai penonton tak diberi penjelasan sebaris pun tentang kebutaan Diah yang jadi plot utama film ini.

Rachmania Arunita, sang sutradara, dan tiga penulis naskah (Fanya Runkat, Renaldo Samsara, Sigrid Andrea Bernardo) tak mau mengajak kita fokus pada kesehatan sang tokoh utama, melainkan pada kisah cintanya.

Di tengah kebutaan mendadak, dan kesendirian di negeri orang, datanglah pria dengan bahasa Inggris yang buruk dan tak bisa bahasa Korea ke rumah Diah. Tak peduli seberapa kasar teriakan dan makian—mengusir—yang dicetuskan Diah, laki-laki bernama Nik (Dodit Mulyanto) itu selalu datang dan membawakan makanan yang ia masak sendiri.

Selain ketidakpedulian Diah atas penyakit mendadaknya, proses perkenalan dua tokoh utama itu bikin dahi mengernyit.

Makian dan teriakan Diah—yang dibikin berulang-ulang—cuma dapat porsi singkat. Ia akhirnya melunak kepada Nik. Bukan karena diam-diam mencicipi masakan yang selalu dibikin pria asing itu, melainkan berkat kelakar dan lelucon Nik.

Masalahnya, semua yang keluar dari mulut Nik terdengar seperti kelakar cowok sange. Lelucon-lelucon itu sering kali seksis dan datang dari hasratnya yang ingin lebih dekat dengan Diah. Untuk perkenalan mereka yang baru terjadi beberapa hari, dan fakta Diah tinggal sendirian dan tidak bisa melihat sama sekali, respons Diah yang direkam film ini terasa janggal.

Kamera menangkap senyum diam-diam Diah setiap kali Nik selesai melempar guyonan. Diah digambarkan menyukai semua itu.

Misalnya candaan Nik satu ini (bukan spoiler, karena ada di trailer):

“Kamu tahu enggak, beda rumput laut sama kamu? Kalau rumput laut mengandung nutrisi, kalau kamu mengandung anak-anak kita nanti! HAHAHA!”

Jika candaan itu dilemparkan dua atau tiga tahun, bukan dua atau tiga hari, setelah bertemu Diah, mungkin efek dan maknanya akan berbeda.

Dalam beberapa adegan lain, Nik—di apartemennya—sempat mengajak Diah mabuk, meski dengan nada bercanda. Di atas bus yang sedang jalan, Nik menempelkan dua jarinya ke bibir dan hampir menempelkan jari bekas bibirnya itu ke mulut Diah.

Semua hal menggelikan (dan bisa jadi mengerikan) itu dibungkus dengan cara romantis dan lucu ala film romantic-comedy (romcom).

Cinta Itu Buta sebetulnya punya semua syarat standar untuk jadi romcom biasa: sepasang karakter utama dengan tabiat berseberangan, yang anehnya akan terasa sempurna untuk saling melengkapi.

Di tengah jalan, mereka dihalangi perpisahan yang tak terelakkan, berujung usaha salah satu pihak merebut hati pasangannya dengan cara-cara aneh yang dibingkai romantisme. Biasanya mengandung unsur hujan atau kembang api.

Masalahnya, cara-cara itu kelewat aneh, tak masuk akal, dan beberapa kali justru merendahkan logika dan motivasi Diah sebagai perempuan yang menjadi karakter utama Cinta Itu Buta.



Formula lawas romcom yang dipakai Cinta Itu Buta juga fokus utama kamera cuma membingkai dua sejoli itu. Semua karakter tambahan cuma tempelan dengan motivasi yang serba-hitam-putih, yang membuat film ini semakin terasa jauh dari realitas dan Dasar-Dasar Logika.

Pada ujung cerita, Arunita dan para penulis naskah menyiapkan plot twist yang lebih mencengangkan. Diam-diam ternyata Nik telah memengaruhi narasi hidup Diah sejak lama. Ia, tanpa consent Diah, memutuskan untuk “membantu” sang puan untuk putus dari Jun-Ho (Chae In-Woo), si calon suami. Kata membantu memang perlu ditulis dengan tanda petik karena film membingkainya demikian dan Diah dibikin merasa tertolong atas tindakan ikut campur itu.

Romantisasi yang dilakukan Cinta Itu Buta memang sudah tingkat lanjut. Nik—yang sebelum bertemu Diah saat sudah buta adalah seorang gelandangan—dibikin mati pada ujung film. Dan—entah bagaimana—sempat menulis surat romantis yang disimpan di ruang kapsul waktu berbayar. Dalam surat itu Nik mengaku sebagai “penguntit” yang selama ini jatuh cinta diam-diam kepada Diah, “membantu” menunjukkan siapa sebenarnya Jun-Ho sebagai bentuk balas budi.


Naskah dalam film ini ingin bikin kita sebagai penonton memandang semua hal creepy yang dilakukan Nik sebagai hal romantis dan lucu. Sampai-sampai karakter itu diperbolehkan menulis pick-up line sebagai berikut:

“Enam. Enam tetes air kencingku menetes saking tidak tertahan lagi. Entah kenapa aku lebih memilih untuk menahannya daripada kehilangan kesempatan untuk melihatmu.”

Dan Diah harus menangis terharu saat membaca rayuan itu.

Di belakang kepala, diam-diam saya membayangkan si sutradara dan para penulis naskah tengah dibisiki arwah Nik saat menulis pick-up line itu.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight