tirto.id - Meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berkurang, kualitas udara di lima daerah di Sumatra Selatan masih kategori tidak sehat. Hal ini perlu diwaspadai mengingat karhutla masih mengancam.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, lima daerah dengan kualitas udara tidak sehat adalah Palembang, Lahat, Penukal Abab Lematang Ilir, Prabumulih, dan Ogan Komering Ulu Selatan.
Dari grafik Stasiun Musi II Palembang, Sabtu (31/10/2026), konsetrasi partikulat atau PM2.5 di Palembang pada pukul 00.00 WIB-08.00 WIB tercatat 62,8-96,6 mikrogram meter per kubik atau kategori tidak sehat.
Sementara pantauan di Stasiun Talang Betutu, PM2.5 fluktuatif. Pada pukul 00.00-01.00 WIB, polutan udara dalam kategori sedang di angka 45,4-46,3 mikrogram meter per kubik.
Polutan udara meningkat pada 02.00-08.00 WIB di kisaran 59,5-74,3 mikrogram meter per kubik. PM2.5 membaik dalam kategori sedang terjadi pada pukul 09.00-11.00 WIB yang tercatat 41,8-52,5 mikrogram meter per kubik.
Kepala Stasiun Meteorologi Stasiun Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengungkapkan, kualitas udara di Sumsel, khususnya di Palembang fluktuatif tetapi cenderung membaik di banding hari-hari sebelumnya. PM2.5 masih berada di level tidak sehat pada dini hari dan berangsung menurun menjelang siang.
“Fluktuatif, kalau kita lihat data per pukul 12.00 WIB, yang sekarang sudah masuk kategori sedang," ungkap Siswanto, Sabtu (31/10/2026).
Namun, kata dia, warga dimbau tetap waspada karena saat ini Sumael masih berada di musim kemarau. Karhutla masih mengancam di wilayah-wilayah rawan, seperti areal gambut yang dapat menimbulkan asap dan terbawa angin menuju Palembang.
“Tergantung dorongan angin dari arah mana dan membawa partikel polutan dari karhutla,” kata Siswanto.
Sementara rekapitulasi hotspot di Sumsel dalam SiPongi Kementerian Kehutanan pada Sabtu (31/10/2026) pukul 05.30 WIB, tercatat sebanyak 81 titik atau naik drastis pada hari sebelumnya yang hanya berjumlah 27 titik. Hotspot terbanyak masih berada di Ogan Komering Ilir dengan jumlah 37 titik, Muara Enim 14 titik, dan Lahat 9 titik.
Sedangkan karhutla terjadi pada 30 Oktober 2026 sebanyak 8 lokasi yang masing-masing berada di OKI berjumlah 5 titik, Musi Banyuasin 2 titik, dan Ogan Ilir 1 Titik. Luas lahan terbakar di hari itu sebanyak 46,50 hektare.
Masuk tirto.id

































