Benarkah Hari Valentine Terkait Festival Lupercalia Era Romawi?

Penulis: R. A. Benjamin - 4 Feb 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Perayaan Valentine kerap disebut berakar dari tradisi Lupercalia era Romawi. Disanggah beberapa sejarawan.
tirto.id - Tahun Baru, Halloween, Natal, hingga upacara pernikahan menjadi beberapa perayaan modern yang kerap dikaitkan asal-usulnya dengan kebudayaan pagan Eropa. Beberapa ritualnya dapat dilacak hingga ke tradisi bangsa Romawi, Celtic, atau Nordik. Tradis dan ritus agama etnik atau politeisme memang kerap dikooptasi penganut Kristen dan perlahan berubah menjadi perayaan yang sepenuhnya berbeda.

Perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day pun tak terlepas dari pola perkembangan serupa. Hari Valentine yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari itu sebenarnya punya beragam versi asal-usul. Yang paling umum adalah kaitannya dengan kemartiran orang suci Kristen bernama Santo Valentineyang identitas dan sosoknya pun masih menjadi perdebatan.

Cerita lain mengklaim bahwa perayaan St. Valentine di pertengahan Februari dilatari motif kristenisasi perayaan pagan Lupercalia. Dalam budaya pagan Romawi, Lupercalia adalah festival untuk menghormati Faunus, dewa pertanian dan kesuburan Romawi.

Masyarakat pagan Romawi merayakan festival Lupercalia pada tanggal yang berdekatan dengan Hari Valentine modern, yaitu 15 Februari. Alih-alih bernuansa kasih sayang atau asmara, perayaan Lupercalia pada masanya lebih sering diasosiasikan dengan darah, pengorbanan hewan, hingga perjodohan acak untuk menghalau roh jahat dan ketidaksuburan.

Hari Valentine juga, entah disengaja atau tidak, kerap diasosiasikan dengan warna merah yang oleh beberapa pihak dianggap berakar dari aspek pengorbanan pada Lupercalia.

Jika pun benar Hari Valentine berangkat dari Lupercalia, transformasi yang terjadi agaknya kelewat signifikan. Bandingkan dengan Halloween dengan perayaan pagan Samhain, misalnya, yang berbagi lebih banyak kesamaan karakteristik dan tanggal.

Lagi pula, peringatan untuk Santo Valentine tidak memiliki konotasi romantis sampai puisi dari penyair Inggris Geoffrey Chaucer berjudul "Parliament of Fowls" dipublikasikan pada 1382sekitar tujuh abad setelah perayaan Lupercalia diyakini punah.

Festival Kesuburan dan Aksi Telanjang

Lupercalia dirayakan di Roma Kuno untuk memperingati datangnya musim semi sekaligus festival kesuburan. Catatan sejarah paling awal tentang festival Lupercalia berasal dari abad ke-3 sebelum masehi.

Lupercalia disebut sebagai hari libur suci untuk menghormati Dewa Faunus (atau Dewa Lupercus dalam versi lain) dan serigala betina yang membesarkan Remus dan Romulus, pendiri semi-mitos Kota Roma. Lupercalia ditujukan demi menyucikan kota, juga meningkatkan kesehatan dan kesuburan.

Perayaan ini sendiri diyakini berhubungan dengan Lykaia, festival serigala di Yunani Kuno dan penyembahan terhadap Dewa Pan—setara dengan Faunus atau Lupercus di Romawi. Nama Lupercalia pun dianggap berakar dari festival itu. Lykaia adalah turunan dari lýkos, bahasa Yunani untuk serigala. Sementara itu, dalam bahasa Latin yang digunakan orang Romawi, serigala disebut lupus.

Laman History menyebut bahwa ritual Lupercalia berlangsung di beberapa tempat, di antaranya Gua Lupercal di Bukit Palatine yang dipercaya sebagai lokasi Remus dan Romulus diasuh oleh serigala dan di tempat pertemuan umum Romawi yang disebut Comitium. Festival dimulai di gua Lupercal dengan mengorbankan satu atau lebih kambing jantan—representasi seksualitas—dan seekor anjing.

Upacara pengorbanan itu dilakukan oleh sekelompok pendeta Romawi yang disebut Luperci. Darah hewan yang dikorbankan lantas dioleskan ke dahi dua Luperci degan pisau yang juga digunakan dalam penyembelihan. Pesta pun dimulai usai ritual pengorbanan itu.

Ketika pesta selesai, Luperci bakal mengupas potongan kulit dari kambing persembahan yang juga disebut tali kulit atau februa. Mereka kemudian berlari telanjang atau hampir telanjang di seputar Bukit Palatine dan mencambuk para perempuan menggunakan tali kulit itu. Dalam ritus ini, cambukan dari Lupercus dipercaya bakal mendatangkan berkah kesuburan bagi para perempuan. Karena itulah, banyak perempuan dengan sukarela menyambut cambukan-cambukan itu bahkan memamerkan kulit mereka demi menerima berkah kesuburan.

Selama perayaan Lupercalia pula, perjodohan acak dilangsungkan. Para laki-laki bakal memilih nama perempuan dari toples secara acak dan mendapatkan pasangan selama festival. Hubungan-hubungan itu bisa jadi tetap bertahan sehabis festival, bahkan berlanjut ke jenjang pernikahan.

Infografik Lupercalia
Infografik Lupercalia. tirto.id/Sabit


Tidak terkait Valentine

Selain tanggal yang berdekatan, lotere perjodohan agaknya menjadi koneksi tipis antara Hari Valentine dan Lupercalia. Aspek inilah yang banyak dikutip oleh banyak sumber modern ketika menghubungkan Lupercalia sebagai asal-usul Hari Valentine.

Salah satu sumber utama tentang adanya lotere perjodohan pada Lupercalia dikisahkan oleh Pendeta Katolik Roma Alban Butler dalam buku The Lives of saints (1756-1759). Tradisi ini kemudian dianggap menjadi fondasi atas tradisi berkirim surat cinta pada Hari Valentine modern. Namun, pendapat ini disanggah beberapa sejarawan.

Kresimir Vukovic dari Catholic University of Croatia yang melakukan studi soal Lupercalia, misalnya, mengatakan kepada Time bahwa sama sekali tidak ada catatan ihwal undian perjodohan dalam Lupercalia. Secara matematis, undian perjodohan juga tak memungkinkan pada masa itu.

"Jumlah perempuan pasti jauh lebih banyak daripada laki-laki," ujar Vukovic.

Catatan terakhir tentang Lupercalia berasal dari akhir abad ke-5 masehi. Di sekitar masa yang sama, Paus Gelasius I disebut sebagai tokoh yang mendeklarasikan 14 Februari sebagai hari untuk merayakan kemartiran Santo Valentine. Namun, fakta itu tidak lantas bisa membuktikan bahwa Valentine adalah pengganti dari Lupercalia.

Pasalnya, tidak ada bukti konkret yang menunjukkan bahwa waktu pelaksanaan Lupercalia dijadikan dasar atau memengaruhi penetapan 14 Februari sebagai hari penghormatan untuk Valentine. Gereja memang jamak melakukan kristenisasi terhadap beberapa perayaan kaum pagan, tapi Lupercalia agaknya bukanlah salah satunya. Lagi pula, saat itu, Valentine belum dilambari makna romantis seperti sekarang ini.

Sejauh yang saya tahu, catatan paling awal tentang Hari Valentine sebagai perayaan cinta dan kesuburan baru muncul pada abad ke-14,” kata Vukovic.

Terdapat rentang waktu yang terlalu panjang antara abad 5 Masehi dan abad 14, ketika Geoffrey Chaucer membuat puisi yang mengaitkan Seynt Valentyne’s day (ia menulisnya demikian) dengan perayaan kasih sayang. Tapi, Chaucer bahkan tidak pernah menulis tanggal 14 Februari.

Satu hal yang pasti, Hari Valentine kini dirayakan di seluruh dunia dan acap kali dilambari dengan "kewajiban-kewajiban konsumerisme". Sementara itu, Lupercalia nyaris tak pernah dirayakan lagi, selain oleh para anggota The Satanic Temple. Komunitas religi nonteistik dan HAM itu memasukan Lupercalia ke dalam daftar "satanic holidays".

Baca juga artikel terkait HARI VALENTINE atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight