Beda Cara Trump dan Monyet Merebut Kekuasaan

Presiden Donald Trump berbicara pada rapat umum kampanye di Battle Creek, Mich., Rabu, 18 Desember 2019. Paul Sancya/AP
Oleh: Ahmad Zaenudin - 29 Oktober 2020
Dibaca Normal 4 menit
Seperti manusia, hewan pun mengenal pemimpin dan kekuasaan.
"Keluarganya sangat korup," kata Presiden Donald Trump, merujuk lawan politiknya yang maju sebagai kandidat presiden Amerika Serikat pada pilpres 2020, Joseph Robinette Biden Jr, dalam wawancaranya dengan jurnalis CBS Lesley Stahl.

Trump mengungkapkan keheranannya dalam wawancara yang ironisnya dipotong-potong oleh tim kemenangan Trump guna menghilangkan konteks. Ia heran mengapa seorang Biden yang menurutnya sangat korup tidak dicecar oleh media. "Tatkala Joe Biden berada di tengah-tengah skandal, semua media malah bertanya kepadanya soal es krim," ujar Trump

Dalam kesempatan lain, di tengah massa pendukungnya, Trump mendeklarasikan diri sebagai pilihan terbaik masyarakat AS untuk semua isu, bahkan terkait hubungan AS-Cina. "Bagaimana mungkin Biden dapat membuat kesepakatan dengan Cina padahal ia mengambil uang dari mereka untuk dirinya sendiri? Putranya menggondol uang senilai $1,5 miliar (dari Cina)," cecar Trump.

Tak ketinggalan, setelah masyarakat AS kehilangan lebih dari 22 juta pekerjaan akibat pelemahan ekonomi di tengah pandemi Corona, Trump sesumbar "akan meloloskan undang-undang bersejarah lainnya, pemotongan pajak bagi kaum kelas menengah".

Trump, yang saat ini menjabat presiden dari sebuah negara adidaya, nampaknya mengalami gangguan di bagian otak yang membuatnya sulit mengingat. Mike McIntire, dalam laporannya untuk The New York Times, mencatat sejarah bisnis Trump sendiri dipenuhi dengan deal keuangan dengan pihak asing, termasuk dengan Cina. "Trump menghabiskan satu dekade untuk memperoleh proyek di Cina, yang sayangnya tidak berhasil dicapai".


Meskipun kurang sukses berbisnis di Cina, Trump diketahui hingga saat ini memiliki rekening di sana--selain di Inggris dan Irlandia--atas nama Trump International Management L.L.C. Tentu, sebagai sosok yang berbisnis dengan Beijing, pada 2013 hingga 2015, Trump membayar pajak senilai $188.561 untuk Pemerintah Cina.

Di sisi lain, pelemahan ekonomi AS akibat Corona disokong oleh keputusan sembrono Trump sendiri menghadapi virus SARS-CoV-2 ini. Alih-alih cepat-cepat menutup gerbang AS, melakukan karantina dan lockdown secara ketat, serta menggiatkan tes massal, Trump malah memandang remeh Corona agar publik tidak panik. Sikap ini berbanding terbaik dengan pengakuannya kepada Bob Woodward untuk buku berjudul Rage (2020). Dalam keterangannya untuk Woodward di bulan Februari 2020--persisnya sebelum WHO menyatakan Corona sebagai pandemi--Trump menyebut Corona sebagai "sesuatu yang mematikan".

Kini pemilihan presiden AS di depan mata. Trump, berdasarkan ucapan-ucapannya di atas, hanya mempraktikkan cara demokrasi elektoral memilih pemimpin. Dalam sistem demokrasi elektoral, suara adalah yang utama. Suara, dalam tataran ideal, diberikan oleh pemilik suara pada sosok yang memiliki rekam jejak baik atau kemampuan memimpin. Sayangnya, suara pun dapat diberikan oleh pemilik suara pada calon pemimpin yang hanya bisa membual. Tentu, ada beberapa negara di dunia yang tidak mengakui suara. Seseorang menjadi kepala negara atau pemerintahan hanya karena terlahir dari rahim seorang ratu. Arab Saudi membuktikannya.

Manusia adalah spesies binatang. Sistem kepemimpinan pun ada pada binatang yang bukan manusia. Pertanyaannya, bagaimana rupa kepemimpinan dalam dunia binatang? Lebih buruk atau justru lebih baik dibandingkan manusia?

Memahami Kepemimpian dalam Dunia Binatang

"Mintalah 200 orang untuk berkumpul dan terapkan aturan sederhana: setiap orang harus menjaga jarak sejauh satu lengan dengan orang di sampingnya," buka studi berjudul The Origins and Evolution of Leadership (2009) yang ditulis Andrew J. King, peneliti pada Institute of Zoology, London, Inggris.

Dengan permintaan dan aturan sederhana ini, kelompok orang tersebut akan berkumpul melingkar, menciptakan "pusat" imajiner. "Lalu," tulisannya kemudian, "ulangi eksperimen ini, tetapi dengan satu permintaan tambahan: minta kelompok untuk bergerak." Dengan permintaan tambahan ini, klam King, akan muncul satu atau sebagai kecil orang sebagai pemimpin, mengarahkan ke mana kelompok berjumlah 200 orang ini bergerak.

Tak ada yang terlalu "wah" dari penelitian ini. Namun, tutur King, permintaan pada 200 orang tersebut membuahkan hasil yang "persis sama dengan prediksi model komputer yang dirancang untuk mengeksplorasi koordinasi pada hewan". Artinya, kepemimpinan, dan kepatuhan "berlaku di seluruh taksonomi". Kepemimpinan, tegas King, merupakan sesuatu yang universal, bukan hanya berlaku pada manusia.

Alasannya sederhana: manusia dan binatang membutuhkan kepemimpinan untuk berkoordinasi dalam banyak aktivitas mereka, mulai dari berburu hingga menjaga satu sama lain.

Gagasan untuk memahami sistem dan bentuk kepemimpinan pada binatang kali pertama dilakukan pada 1937. G. J. Syme, peneliti pada Departemen Psikologi dan Farmakologi, University of Western Australia, dalam studinya berjudul "The Concept of Spatial Leadership in Farm Animals: An Experiment With Sheep" (1975) menyebut bahwa kala itu seorang peneliti bernama F. F. Darling meneliti kepemimpinan pada kawanan rusa merah. Darling berkesimpulan bahwa kawanan rusa, sebagaimana manusia, memiliki pemimpin. Pemimpin dalam kawanan rusa juga bertindak "sebagai pemimpin gerakan dengan tujuan, salah satunya, memperhatikan kesejahteraan kelompok."

Maksud dari "pemimpin gerakan" dalam studi yang dilakukan Darling adalah binatang--tak seperti manusia modern--berburu makanan untuk hidup. Tatkala berburu, pemimpinlah yang menyediakan pedoman. Pemimpin berperan sebagai semacam pengawas yang mampu mengendus ancaman, misalnya kedatangan kelompok harimau.

Lalu, bagaimana pemimpin dipilih dalam dunia binatang?

Marie Bourjade, peneliti pada Université Toulouse Jean Jaurès, dalam studinya berjudul "Is Leadership a Reliable Concept in Animals? An Empirical Study in the Horse" (2015), menyatakan umumnya peneliti percaya bahwa pemimpin di kawanan hewan senantiasa bergerak di posisi paling depan. Masalahnya, penelitian kepemimpinan di dunia binatang dilakukan dengan mengamati tingkah laku dan pemodelan matematika karena teknik wawancara mustahil diterapkan. Walhasil, "siapa yang terpilih menjadi pemimpin" sukar diketahui. Tiap binatang pun sesungguhnya memiliki cara memilih yang berbeda-beda.

Bourjade menyebut, pada kawanan gorila dan babun, pemimpin adalah ia pejantan top-ranking dalam kawanannya. Mereka disebut jantan karena memiliki tubuh yang lebih kuat daripada betina. Bagi kawanan gorila dan babun, ini adalah bukti ketangguhan. Bagi kawanan musang kerdil dan anjing liar, yang terpilih menjadi pemimpin lagi-lagi menempati peringkat tertinggi, tetapi tanpa kewajiban menjadi pejantan. Di sisi lain, pada kawanan hewan berkuku (ungulates) seperti badak, tapir, sapi, babi, jerapah, unta, domba, rusa, dan kuda nil (percayalah, saya sedang tidak memaki) pemimpin umumnya merupakan betina tua.

Ketika meneliti tingkah-laku kawanan kuda Przewalski, Bourjade menyebut kuda dipimpin seekor betina, meskipun studinya berkesimpulan bahwa "tidak ada kuda yang bisa dikualifikasikan sebagai pemimpin". Tak ada kualifikasi pemimpin dalam studi yang dilakukan Bourjade karena ia meneliti kawanan kuda di peternakan. Klaim Bourjade, indikator-indikator pemimpin mungkin telah diberlakukan pada kawanan kuda Przewalski di kandangnya, dan tidak terlihat ketika ia menelitinya.


Dalam studi berjudul "Leadership in Elephants: The Adaptive Value of Age" (2011), Karen McComb menyebut kemampuan ekologis sebagai kunci pemimpin paling umum dalam dunia binatang. Kemampuan ekologis berupa, misalnya, memahami wilayah untuk memperoleh makanan. Namun, dalam penelitian McComb terhadap gajah Afrika, kunci utama pemimpin dalam dunia binatang, khususnya yang hidup di alam liar seperti Afrika, adalah "kemampuan untuk menanggapi ancaman predator dengan tepat".

Sehari-harinya, gajah Afrika menghadapi ancaman kaum predator yang amat ganas, yakni singa, khususnya singa jantan karena tubuhnya lebih kuat. Menurut McComb, pemimpin dalam kawanan gajah Afrika memerlukan "mekanisme pertahanan yang kooperatif dan agresif". Kemampuan tersebut, menurut hasil penelitian McComb pada 1.500 gajah di 58 kawanan yang dilakukan dengan memperdengarkan rekaman auman singa, menunjukkan bahwa gajah betina tualah yang bertindak sebagai pemimpin. Sederhana alasannya: betina menghasilkan keturunan. "Tua" juga berarti telah makan asam garam menghadapi ancaman predator.

Pada penelitian tersebut, betina tua gajah Afrika berperilaku lebih agresif ketika diperdengarkan suara singa, terlebih suara singa jantan. Unggul dari betina muda atau pejantan gajah Afrika.

Brian Handwerk, dalam laporannya untuk National Geographic, menyebut tiap-tiap binatang memiliki aturan main berbeda untuk menjadi pemimpin. Kawanan simpanse menentukan siapa yang menjadi pemimpin melalui kekerasan, persis seperti kisah Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk berkuasa. Sementara itu, beberapa jenis anjing dan hyena tutul menentukan pemimpin berdasarkan garis keturunan, seperti orang-orang di Istana Saudi dan dinasti Kim di Korea Utara. Yang unik, kawanan ikan stickleback menentukan pemimpin mereka dengan jalan yang agak ganjil: pilih yang paling cantik.



Apakah hanya manusia yang menentukan pemimpin dengan cara demokrasi? Tentu tidak. Ingat, manusia pun pada dasarnya merupakan spesies binatang. Wajar jika tingkah laku manusia sangat mungkin muncul juga pada binatang atau sebaliknya. Secara umum, pemimpin dalam kawanan simpanse adalah yang paling kuat. Namun, masih menurut Handwerk, simpanse lemah pun dapat berkuasa dengan cara berkoalisi.

Merujuk penelitian Michael Wilson--peneliti pada University of Minnesota, di Taman Nasional Gombe, Tanzania--yang dikutip Handwerk, seekor simpanse yang dinamai Freud "berkuasa dengan membangun ikatan dengan sesama simpanse, merawat dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan mereka". Sebagaimana politisi di dunia manusia, Freud melakukan tindakan-tindakan populis, misalnya menggelitiki bayi simpanse kawanannya untuk memperoleh simpati.

Lagi-lagi, karena manusia dan binatang sama saja, masalah-masalah seputar pemimpin pun tak jauh beda. Laporan The New York Times oleh Natalie Angier, seorang peneliti monyet rhesus dari University of Chicago, membenarkan hal ini. Sistem sosial yang kompleks (seperti kepemimpinan) dalam dunia manusia dan binatang, ujar Angier, merupakan kunci kesuksesan (untuk bertahan hidup) tapi juga bisa menjadi "kunci kehancuran". Monyet rhesus mereka bertarung dengan sesamanya bukan untuk memperebutkan makanan, wilayah, atau sumber daya, tetapi untuk kekuasaan. Bagi monyet rhesus, sebagaimana manusia, kekuasaan adalah "kontrol terhadap apapun".

Dalam dunia monyet rhesus, kekuasaan direngkuh dengan cara bertarung, dengan membunuh. Di dunia manusia, kekuasaan bisa diraih dengan berbohong, dengan janji-janji palsu.

Baca juga artikel terkait HEWAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight