Bahaya Gas Karbon Monoksida yang Membunuh Jonghyun SHInee

Oleh: Aditya Widya Putri - 29 Desember 2017
Dibaca Normal 1 menit
Pastikan sirkulasi udara cukup agar keracunan gas ini dapat dihindari.
tirto.id - Jonghyun SHInee meninggal dunia setelah menghirup karbon monoksida dari pembakaran briket batu bara. Jonghyun bukan yang pertama kali mengakhiri hidupnya dengan cara demikian. Penelitian Dominic T. S. Lee dkk (2002) menyatakan ada 18 persen bunuh diri pada 1999 hingga 2000 di Hong Kong dengan metode ini. Di Korea Selatan, penelitian Young-Rim Choi, dkk (2014) juga mengungkapkan fenomena serupa.


Di luar fakta memprihatinkan tersebut, kita semua pun perlu berhati-hati, sebab gas karbon monoksida adalah bahan mematikan yang juga bisa membunuh tanpa disadari.

Karbon Monoksida di Sekitar Kita

Karbon monoksida (CO) memiliki sifat yang tak berbau, tak berwarna, dan tidak mengiritasi. Gejala keracunan karbon monoksida juga umum, mirip gejala flu pada umumnya. Akibatnya, orang yang keracunan karbon monoksida bisa jadi tidak menyadarinya.

Ada beberapa gejala paling umum yang dirasakan korban keracunan karbon monoksida, yakni sakit kepala sebanyak 90 persen, mual dan muntah sebanyak 50 persen, vertigo 50 persen, kesadaran menurun 30 persen, dan lemas 20 persen.


Namun, karena sering disepelekan, gas ini malah menjadi penyebab keracunan paling umum di Inggris. Sementara di Amerika, karbon monoksida menyebabkan 500 kematian tak disengaja setiap tahun. Menjadi penyebab lebih dari 20.000 orang masuk ruang gawat darurat, dan lebih dari 4.000 orang dirawat di rumah sakit.

Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran bahan berkarbon yang tidak sempurna, misalnya gas, batubara, minyak, kokas, dan kayu. Alat-alat seperti kompor gas, boiler, pemanas air bertenaga gas, pemanas parafin, pemanas air bertenaga padat, serta asap knalpot merupakan sumber karbon monoksida potensial.

Masalah kemudian muncul ketika alat-alat tersebut tak diawasi pemakaiannya, kurang dirawat, dan ditempatkan di tempat yang sirkulasi udaranya buruk.

Infografik Keracunan Karbon Monoksida


Idealnya, limbah pembakaran alat-alat tersebut perlu dibuang efektif (di tempat terbuka). Jika tidak, gas beracun dapat memenuhi ruangan dan membikin keracunan.

Oksigen diperlukan untuk proses pembakaran. Jika pasokan oksigen untuk pembakaran tidak lagi mencukupi, proses pembakaran jadi tidak sempurna. Akibatnya, pelepasan karbon monoksida meningkat.


Jika manusia menghirup karbon monoksida, gas tersebut akan menggantikan posisi oksigen yang berkaitan dengan hemoglobin dalam darah. Apalagi, karbon monoksida memiliki kekuatan ikat hemoglobin 240 kali lebih rapat dibanding oksigen. Akibatnya, karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dan mengurangi jumlah hemoglobin yang seharusnya mengikat oksigen. Reaksi ini memunculkan senyawa yang disebut karboksihemoglobin.

“Gas yang mencemari udara akan mengambil tempat oksigen di sekitar kita,” kata dr Wawan Mulyawan SpBS, ahli biomedik kepada reporter Tirto.

Kondisi tersebut membuat kadar oksigen dalam darah makin berkurang dan tubuh mengalami hipoksemia, alias kekurangan oksigen. Padahal, oksigen sangat diperlukan oleh sel-sel dan jaringan tubuh untuk melakukan fungsi metabolisme. Fungsi sel otak juga akan terganggu ketika tubuh kekurangan oksigen.

“Tubuh akan kekurangan sampai akhirnya kehabisan oksigen untuk metabolisme dan berujung pada kematian sel.”

Karboksihemoglobin juga memiliki efek langsung pada pembuluh darah tubuh, yakni menyebabkan kebocoran. Kondisi ini paling terlihat di otak, menyebabkan ia membengkak, menurunkan kesadaran, dan merusak saraf. Anak-anak, wanita hamil, bayi, dan individu dengan sakit jantung merupakan kelompok paling berisiko keracunan karbon monoksida.

Namun, sekali lagi, setiap orang dapat keracunan gas mematikan ini. Jadi, langkah paling aman untuk menghindarinya adalah memastikan ventilasi di rumah Anda cukup untuk sirkulasi udara segar.

Baca juga artikel terkait KERACUNAN atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - )

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight