Apa Itu Trust Issue Beserta Penyebab, dan Ciri-ciri Gejalanya?

Kontributor: Rizal Amril Yahya, tirto.id - 4 Sep 2022 20:15 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Apa Itu Trust Issue? Apa saja penyebab dan ciri-ciri gejala trust issue? Berikut penjelasan singkatnya.
tirto.id - Trust issue adalah masalah psikologis yang dapat berdampak buruk terhadap kehidupan manusia, karena membuat seseorang susah percaya kepada orang lain. Apa penyebab, gejala, serta ciri-ciri Trust Issue?

"Selalu curiga dan enggak percaya sama orang lain," demikian gambaran umum orang yang punya masalah trust issue. Biasanya, orang yang mengalami trust issue terkena efek trauma masa lalu.

Bagi mereka yang mengalami masalah trust issue, kesulitan mempercayai orang lain bisa berakibat buruk pada hubungan-hubungan intrapersonal yang telah atau akan dibangunnya. Masalah mental ini berpotensi mengganggu kehidupan privat maupun profesional seseorang.

Orang yang mempunyai masalah trust issue juga cenderung memandang manusia secara umum dengan kaca mata pesimistis. Orang seperti itu bisa menyimpan pemikiran bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki niat buruk. Karena itu, ia merasa hidupnya senantiasa dalam situasi yang terancam.


Apa Itu Trust Issue?

Robert E. Lazalere melalui laporan riset berjudul "The Dyadic Trust Scale: Toward Understanding Interpersonal Trust in Close Relationships" dalam Journal of Marriage and Family (1980), menulis bahwa mempercayai orang lain berarti meyakini nilai-nilai kebaikan ada mereka yang liyan.

Keyakinan akan kebaikan orang lain tersebut membuat seseorang dapat merasa aman dan nyaman saat berinteraksi atau berhubungan dengan individu yang dipercayainya. Trust issue muncul ketika kepercayaan yang telah diberikan pada orang lain hancur sebab pengkhianatan atau kebohongan.

Rasa aman dan nyaman yang sebelumnya terbangun, berganti dengan rasa cemas, curiga, takut akan ditinggalkan, hingga trauma yang dirasakan setiap waktu.

Menukil laporan penelitian Hwee Hoon Tan bertajuk "Trust in Coworkers and Trust in Organizations" dalam The Journal of Psychology (2009), trust issue dapat berdampak buruk terhadap hubungan personal maupun profesional seseorang.

Mengalami trust issue dapat membuat seseorang punya kecenderungan untuk menyendiri, merasa kesepian akut, stres, hingga berambisi mengontrol orang lain secara berlebihan.

Lebih jauh, dampak-dampak itu bahkan dapat menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan psikis maupun fisik dalam setiap hubungan.

Apa Penyebab Trust Issue?

Trust issue dapat terjadi pada setiap orang tanpa terkecuali. Masalah ini dapat diderita olah laki-laki, perempuan, orang dewasa, hingga anak-anak.

Asosiasi Psikiater Amerika (APA) dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (2013), mendeteksi beberapa penyebab yang dapat membuat seseorang mengalami trust issue.

Berikut ini merupakan penyebab trust issue menurut penelitian APA:

  • Pengalaman kekerasan yang pernah terjadi sebelumnya,
  • Tingkat kepercayaan diri yang rendah,
  • Pengalaman mengalami pengkhianatan dalam hubungan sebelumnya,
  • Trauma masa kecil,
  • Ketakutan akan pengabaian dan penelantaran,
  • Ketakutan berlebih atas penolakan,
  • Kesepian,
  • Pengalaman mengalami perundungan,
  • Gangguan psikologi seperti depresi, kecemasan, dan PTSD,
  • Reactive attachment disorder (gangguan kelekatan),
  • Gangguan kepribadian seperti misalnya gangguan kepribadian ambang (BPD).


Apa Saja Ciri-ciri Gejala Trust Issue?

Ada beberapa ciri-ciri trust issue. Mengenali ciri-ciri itu dapat membuat seseorang sadar bahwa ia mengalami gejala trust issue dan sedang berhadapan dengan masalah kesehatan mental.

Berikut ini merupakan ciri-ciri seseorang yang mengalami gejala trust issue:

1. Cenderung berfokus pada kekurangan orang lain dan tidak melihat kelebihan orang lain.

2. Merasa diri harus melakukan semua hal sendirian karena tak percaya dengan kemampuan orang lain.

3. Selalu curiga dengan teman, pasangan, atau keluarga.

4. Menghindari hubungan yang bersifat mesra.

5. Cenderung pendendam kepada orang yang telah melakukan kesalahan.

6. Cenderung mencari kesalahan pasangan untuk memulai perkelahian.

7. Cenderung menyimpan segala perasaan untuk diri sendiri.

8. Menghindari komitmen.

9. Menguntit atau mengecek telepon orang lain untuk mencari bukti kesalahannya.

10. Secara berlebihan menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.

11. Ketakutan berlebih akan penolakan, semua hal dikaitkan dengan kemungkinan penolakan atau pengabaian.

Apabila mengalami ciri-ciri di atas dan merasa dalam tahap mengganggu, Anda dapat melakukan konsultasi dengan psikolog. Bantuan psikologis akan membantu Anda terhindar dari dampak buruk trust issue. Anda pun tidak disarankan melakukan self-diagnosis karena bisa memperburuk kondisi psikis Anda.

Baca juga artikel terkait GANGGUAN MENTAL atau tulisan menarik lainnya Rizal Amril Yahya
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Addi M Idhom

DarkLight