Sirkuit Pertamina Mandalika

Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca yang Dilakukan BRIN di Mandalika

Penulis: Yandri Daniel Damaledo - 22 Mar 2022 10:38 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Apa itu Teknologi Modifikasi Cuaca yang dilakukan di Mandalika saat MotoGP dan bagaimaa cara kerjanya?
tirto.id - Gelaran MotoGP yang berlangsung di Mandalika, NTB pada Minggu (20/3/2022) sempat tertunda beberapa saat lantaran hujan deras yang mengguyur lokasi Sirkuit Pertamina Mandalika.

Melansir Antara, gerimis mulai turun di akhir balap Moto2 dan semakin lebat menuju pukul 15.00 WITA, jadwal semula start GP Indonesia.

Race director memutuskan untuk menunda start dan Safety Car mengelilingi sirkuit untuk memeriksa kondisi lintasan di tengah hujan deras. Balapan akhirnya dilanjutkan setelah hujan reda.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga telah memperkirakan potensi hujan sedang hingga lebat selama Pertamina Grand Prix Of Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika pada 18-20 Maret 2022.

"Prospek kondisi cuaca area Mandalika selama tiga hari ke depan di dominasi oleh adanya potensi berawan hingga hujan sedang," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Lombok, Nur Siti Zulaicha dalam keterangan tertulisnya di Praya, Kamis (17/3) seperti dilansir Antara.

BMKG sudah memperkirakan pada 18 Maret akan terjadi potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di area Mandalika pada siang sampai sore hari. Selanjutnya pada tanggal 19 Maret diperkirakan cerah berawan hingga hujan sedang pada siang hari sampai sore hari.

"Pada tanggal 20 Maret diperkirakan hujan sedang hingga lebat pada siang sampai malam hari," katanya.

Untuk mengantisipasi kondisi cuaca tersebut, beberapa hari sebelumnya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Operasi TMC tersebut ditujukan untuk mengurangi curah hujan dan mencegah hujan turun di area penyelenggaraan MotoGP itu.

Terkait hal tersebut, BRIN berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dalam pelaksanaan operasi TMC di Mandalika pada 17-20 Maret 2022.

BRIN mengirimkan 15 personel dari Laboratorium Pengelolaan TMC dan Sekretariat Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi untuk menjalankan operasi TMC tersebut.

Operasi TMC di Mandalika didukung dengan satu unit armada pesawat Casa 212-200 dari Skadron 4 TNI AU Lanud Abdulrahman Saleh Malang. Komando operasi dipegang oleh Koordinator Lapangan untuk Operasi TMC di Mandalika M Djazim Syaifullah, yang merupakan staf pelaksana dari Laboratorium Pengelolaan TMC.


Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang Dilakukan di Mandalika?



Dilansir dari laman resmi BRIN, Teknologi Modifikasi Cuaca atau TMC adalah salah satu bentuk upaya manusia untuk memodifikasi cuaca dengan tujuan tertentu agar mendapatkan kondisi cuaca seperti yang diinginkan.

Dalam pelaksanaannya, TMC memanfaatkan teknologi. Hasil akhir dari upaya modifikasi cuaca tersebut umumnya adalah untuk meningkatkan intensitas curah hujan di suatu tempat (rain enhancement), meski untuk tujuan tertentu dapat juga dikondisikan sebaliknya, yaitu untuk menurunkan intensitas curah hujan di suatu lokasi tertentu (rain reduction), sama seperti yang dilakukan di Mandalika.

Dalam konteks pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim (climate change), TMC telah menjadi salah satu solusi yang bisa diandalkan untuk mereduksi kerugian yang dapat ditimbulkan oleh bencana yang disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca.

Selama ini yang dikenal masyarakat teknologi TMC menggunakan pesawat yang menghantarkan bahan semai berupa NaCl ke dalam awan melalui udara.

Padahal terdapat metode lain untuk menghantarkan bahan semai itu ke dalam awan, dalam beberapa tahun terakhir telah dikembangkan metode penyampaian bahan semai ke dalam awan dari darat, di antaranya dengan menggunakan wahana Ground Based Generator (GBG) dan wahana Pohon Flare untuk sistem statis.

Kedua metode ini mempunyai prinsip kerja yang sama dalam menghantarkan bahan semai ke dalam awan, yaitu dengan memanfaatkan keberadaan awan - awan orografik dan awan yang tumbuh di sekitar pegunungan sebagai targetnya.

Oleh karena itu, Metode GBG dan Pohon Flare idealnya digunakan untuk wilayah - wilayah yang mempunyai topografi pegunungan.

Viral Pawang Hujan yang Disebut Hentikan Hujan di Mandalika

Hujan lebat yang mengguyur Mandalika sempat menjadinperbincangan di media sosial, karena adanya seorang pawang hujan yang berkeliling di area sirkuit dan melakukan ritual menghentikan hujan.

Aksi pawang hujan Mandalika bernama Rara Istiani Wulandari atau akrab disapa Mbak Rara ini juga menarik perhatian para pebalap.

Foto dan videonya sedang melakukan menjadi viral dan menjadi trending topic di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan bahwa pawang hujan MotoGP Mandalika 2022 yang ramai diperbincangkan adalah bagian dari atraksi kearifan lokal.


Baca juga artikel terkait MOTOGP INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight