Menuju konten utama

Apa Benar Bahan Organik Itu Selalu Lebih Sehat dan Aman?

Bahan makanan organik dianggap lebih unggul dan menyehatkan, tapi benarkah bahan organik selalu lebih aman & sehat untuk dikonsumsi? Simak faktanya di sini.

Apa Benar Bahan Organik Itu Selalu Lebih Sehat dan Aman?
Ilustrasi makan sayur organik. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam hal makanan, bahan organik kerap jadi pilihan karena dianggap lebih unggul dibandingkan bahan makanan konvensional. Embel-embel organik memang jadi daya tarik tersendiri bagi, tapi benarkah yang organik itu selalu lebih sehat dan aman?

Makanan organik adalah bahan pangan yang proses produksinya melalui sistem pertanian atau peternakan yang mengikuti standar organik, termasuk melarang penggunaan pestisida, pupuk sintetis, rekayasa genetika, atau bahan maupun metode yang tak sesuai standar organik.

Sederhananya, proses produksinya bahan organik lebih menekankan metode yang alami. Contohnya dalam hal makanan adalah buah-buahan dan sayuran organik yang umumnya dibudidayakan tanpa bantuan pestisida dan pupuk sintetis.

Sementara untuk produk hewani, hewan yang dibudidayakan biasanya harus diberi pakan organik serta tidak diberikan obat-obat tertentu maupun hormon pertumbuhan. Intinya, semua harus serba alami.

Hal inilah yang menarik bagi masyarakat, khususnya konsumen yang benar-benar memperhatikan kualitas makanannya. Bahan organik selalu dianggap lebih sehat dan aman bagi tubuh, tapi apa benar demikian?

Kelebihan Produk Organik Dibanding Bahan Makanan Lain

Ilustrasi jus buah dan sayuran

Ilustrasi buah dan sayur organik. (FOTO/iStockphoto)

Bahan makanan organik memiliki beberapa perbedaan dibandingkan produk yang dibudidayakan secara konvensional, terutama dari segi kandungan senyawa bioaktif dan paparan pestisida.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa produk organik dapat mengandung lebih banyak senyawa antioksidan tertentu dan lebih jarang ditemukan residu pestisida.

Hal ini dibuktikan dalam jurnal bertajuk Higher Antioxidant and Lower Cadmium Concentrations and Lower Incidence of Pesticide Residues in Organically Grown Crops: A Systematic Literature Review and Meta-Analyses.

Penelitian yang menganalisis 343 publikasi ilmiah ini menemukan bahwa tanaman organik dan produk berbasis tanaman organik, rata-rata memiliki konsentrasi beberapa kelompok senyawa polifenol yang lebih tinggi dibandingkan produk konvensional.

Misalnya, kadar asam fenolat diperkirakan 19% lebih tinggi, flavanon 69% lebih tinggi, flavonol 50% lebih tinggi, dan antosianin 51% lebih tinggi pada produk organik. Senyawa-senyawa tersebut merupakan bagian dari kelompok antioksidan yang berperan dalam berbagai proses biologis tubuh.

Penelitian yang sama juga menemukan perbedaan pada aspek keamanan pangan. Residu pestisida ditemukan sekitar empat kali lebih sering pada tanaman konvensional dibandingkan tanaman organik. Tanaman konvensional juga memiliki konsentrasi kadmium yang lebih tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa keunggulan bahan organik adalah potensi paparan residu pestisida yang lebih rendah serta kandungan antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan bahan pangan yang dibudidayakan secara konvensional.

Apakah Bahan Organik Lebih Sehat?

menopause

Ilustrasi makanan sehat. Getty Images/iStockphoto

Jika dilihat dari kandungan beberapa senyawa antioksidan yang lebih tinggi serta paparan residu pestisida yang lebih rendah, bahan organik memang memiliki sejumlah karakteristik yang secara teori dapat mendukung kesehatan.

Namun, hal tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa bahan organik selalu lebih sehat daripada bahan pangan konvensional. Kandungan gizi dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti jenis atau varietas tanaman, kondisi tanah, waktu panen, penyimpanan, hingga cara pengolahan makanan.

Situs Mayo Clinic menegaskan bahwa label organik tidak otomatis berarti suatu makanan memiliki lebih banyak nutrisi. Kandungan vitamin dan mineralnya juga belum tentu lebih tinggi dibandingkan bahan makanan konvensional.

Hal ini diperkuat oleh hasil studi bertajuk Are Organic Foods Safer or Healthier than Conventional Alternatives?: A Systematic Review. Jurnal ini menegaskan bahwa masih belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa bahan organik lebih bergizi/bernutrisi dan bahan makanan biasa.

Studi Kaitan Bahan Organik dan Kesehatan: Belum Cukup Bukti

Ilustrasi buah dan sayur
Ilustrasi buah dan sayur. FOTO/Istockphoto

Kaitan antara bahan organik dan kesehatan tubuh juga sudah diteliti, salah satunya dalam jurnal The Effects of Organic Food on Human Health: A Systematic Review and Meta-Analysis of Population-Based Studies.

Studi ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan organik berkaitan dengan sejumlah indikator kesehatan yang lebih baik, termasuk BMI dan risiko obesitas. Selain itu, pola makan organik juga dikaitkan dengan tingkat biomarker paparan pestisida yang lebih rendah pada tubuh.

Namun, bukti hubungan antara bahan organik dengan penyakit tertentu masih dinilai belum mencukupi karena jumlah dan cakupan penelitian yang tersedia masih terbatas. Jadi, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek nyata dari makanan organik terhadap penyakit.

Hal serupa juga diungkap dalam jurnal A Systematic Review of Organic Versus Conventional Food Consumption: Is There a Measurable Benefit on Human Health. Studi ini menemukan beberapa indikasi bahwa konsumsi makanan organik berkaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.

Namun, para peneliti juga menekankan keterbatasan bukti sehingga temuan studi ini belum bisa memastikan manfaat kesehatan jangka panjang dari pola makan organik.

Dengan kata lain, hubungan antara konsumsi makanan organik dan kesehatan tidak bisa serta-merta dianggap sebagai hubungan sebab-akibat. Apalagi masih ada banyak faktor yang memengaruhi.

Orang yang mengonsumsi makanan organik pun biasanya memiliki pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat secara keseluruhan, misalnya lebih banyak konsumsi sayur dan buah atau sering berolahraga.

Pola hidup tersebut tentunya berpengaruh terhadap risiko penyakit. Artinya, kesehatan tubuh seseorang bukanlah hasil konsumsi makanan organik semata sehingga sulit menentukan seberapa besar manfaat kesehatan yang benar-benar berasal dari makanan organik itu sendiri.

Bahan Organik Tidak Selalu Lebih Aman

Ilustrasi The Sirtfood Diet

Ilustrasi Makan Sehat. foto/istockphoto

Hanya karena memiliki paparan residu yang lebih rendah, bukan berarti bahan organik dijamin lebih aman dibandingkan bahan pangan konvensional. Perlu dipahami bahwa keamanan pangan tidak hanya berkaitan dengan bahan kimia seperti pestisida, tapi juga bahaya biologis seperti patogen.

Baik makanan organik maupun konvensional, keduanya tetap memiliki risiko yang sama terkait kontaminasi mikroorganisme penyebab penyakit, seperti Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella.

Hal ini diungkap dalam studi Are Organic Foods Safer or Healthier than Conventional Alternatives?: A Systematic Review. Studi ini tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam risiko kontaminasi E. coli antara makanan organik dan konvensional.

Temuan serupa juga dibahas dalam jurnal berjudul Microbiological Safety of Food of Animal Origin from Organic Farms yang secara khusus meninjau keamanan mikrobiologis makanan asal hewan dari peternakan organik.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa produk seperti daging, telur, dan susu dari sistem peternakan organik tetap dapat terkontaminasi bakteri patogen, termasuk Campylobacter, Salmonella, E. coli penghasil toksin Shiga (STEC), Listeria monocytogenes, dan Staphylococcus aureus.

Tingkat kontaminasinya pun tidak selalu lebih rendah daripada produk konvensional. Hasilnya dapat berbeda tergantung pada jenis hewan, produk, bakteri, serta kondisi peternakan dan pengolahannya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa bahan organik tidak bisa dianggap sebagai makanan yang otomatis lebih sehat dan aman. Di sisi lain, bahan pangan konvensional juga tetap bisa menyehatkan selama diolah dengan tepat.

Jadi, apa pun labelnya, organik atau tidak, makanan tetap perlu ditangani dengan benar, misalnya dengan mencuci bahan pangan dengan baik, mencegah kontaminasi silang antara makanan mentah dan matang, penyimpanan di suhu yang tepat, serta proses memasak yang sesuai.

Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani